KAWIN KONTRAK
- KAWIN KONTRAK -
Pagi-pagi udah kelaperan banget, walhasil sarapan bareng-lah daku bersama beberapa rekans di Pujasera kantor.
Aku sendiri sarapan paginya lumayan tradisional… lontong isi oncom 2 biji, makannya pakai sambal kacang, lalu ditemani sepoci teh pakai gula batu. Yummy!!
Pembahasan pagi ini cuma 1 : tentang KAWIN KONTRAK
Pemicunya sih gara-gara berita radio yang kita dengar diatas Bis antar jemput tadi : "sekitar 19 Pasangan Kawin-Kontrak digerebek polisi susila dikawasan puncak, Cipanas. Seluruh lelakinya orang Timur Tengah (baca : Arab), dan 19 pasangannya tulen cewek Indonesia asli."
Aku paling semangat mendukung ‘upacara penangkapan & peringkusan’ para penjahat kelamin itu, tapi 2 temanku yang lain berpendapat berbeda.
Mereka rada nyolot ngeliat kegembiraan mukaku yang gak bisa ditutup-tutupi itu. Padahal mereka tau, aku bukan Feminist .. aku bukan Anggota Kelompok pendukung hak-hak wanita tertentu (secara membabi-buta). Aku cuma aku, wanita yang menjaga dirinya sendiri. Dan tau kapan harus bertingkah menjadi wanita terhormat dan kapan tidak.. *evil’s smile*.
Jeung Delfy tanya "kenapa sih Mbak Mill, semangat bener dengar mereka ditangkepin ?"
Aku bilang aja "Jeung Del.. gue benci banget sama manusia-manusia semacam gitu. Kalo memang mau melakukan free sex, yo wess ! tanggung jawan sendiri. Itu hak azazi mereka (eeh, doin’ free sex is one of human right lhoo). Namun mbok yha jangan bawa-bawa hukum agama ke kegiatan asusila mereka.
Tau gak perbuatan mereka ini telah melecehkan 3 HAL sekaligus :
- Melecehkan Hukum Agama (Islam)
- Melecehkan UU Perkawinan
- Melecehkan Wanita
Apa gak perlu ‘diberi & dibogem mentah’ tuh type lelaki kaya gitju ??"
Jeung Sitha memotong ucapanku kenes "oalaaah Mak, lha wong si ceweknya itu sendiri lho yg RELA DILECEHKAN. Kok kita yg bukan siapa-siapanya merasa emosi ?"
Gak mau kalah set nih gue, maka aku cuma bisa melotot ke Jeung Sitha. Telak banget tuh omongannya barusan
"Emang dasar mereka cewek bodoh & kampungan aja" jawabku gak mau kalah
Delfy ngebelain Sitha "eeeh, 3 diantara cewek itu Mahasiswi Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta lho Jeung. Dan sisanya lulusan SMA, Diploma bahkan S1… "
Nah Loooh !!
Oke-oke… aku langsung klarifikasi (sambil teteup gak mau ngalah) "wanita yang bersekolah bahkan hingga tamat jenjang S1 tidaklah menjadi jaminan mereka itu wanita cerdas.
Temen gue dulu bisa lulus S1 modal cantik & ‘ngangkang’ dowank ke Pak Dosen kami
Believe it or not… otaknya Kosong tapi bisa jadi Sarjana Komputer.
Dulu bisa lulus S1 karena beli nilai dari Pak Dosen, sometimes bersedia ditiduri kalo kebetulan Dosennya lumayan ganteng. Sekarang ??? dia cuma jadi Ibu Rumah Tangga Doank (tanpa bermaksud mengecilkan arti seorang IRT, karena Bunda-ku sendiri tokh juga cuma IRT. Namun IRT yang pandai, pintar mencari penghasilan tambahan buat nambah-nambah tabungannya. Luv U mom ! :-X )………….> Back to topic : dan type wanita gini pada akhirnya cuma bisa kembali ke ‘habitat’ aslinya yaitu sekumpulan ibu-ibu istri pengusaha mapan yang bisanya cuma bersolek, operasi plastik dan arisan berlian. Disuruh bersaing didunia kerja? bisa pada mati berdiri mereka ?!! Padahal nyaris semuanya lulusan S1…"
Sitha balik motong "kok dari tadi elo melecehkan gender loe sendiri sihh Mak ?"
Aku cuma bisa nyengir sambil menyeruput teh poci-ku. Kubilang "ini kenyataan Jeung, bukan penghinaan atau penghujatan terhadap status seseorang khususnya wanita. Gue cuma mau menekankan bahwa wanita-wanita yang sudi di Kawin Kontrak itu bukanlah wanita cerdas, walaupun dia lulus S3 kek. Kalau gue sih mendingan Jadi pelacur Lepas (JABLAY) sekalian daripada dikawin kontrak sama si Arab. Itu dosanya cuma satu : dosa jadi pelacur. Tapi Kawin Kontrak dosanya DOBEL !! Pertamanya ZINAH (ingat : Kawin Kontrak yg dasarnya adalah Birahi, mau dibilang udah pakai nikah secara agama kek… lengkap dengan saksi, wali dan mahar segala tetap aja ZINAH !! Emangnya Tuhan bisa dibohongin tentang tujuan elo mau menikahi seseorang itu karena apa ???@@#@!"
"Eiitsss… emosi nihh" selak Delfy
"Bukan emosi, semangat Bo! pagi-pagi udah ngebakar female chauvinist gue, gimana nggak panas nehh" ;-P
Sitha nyela lagi "loe bilang tadi Dosanya DOBEL mak, baru loe sebut 1 tuh, Zinah… Yang keduanya apaan duonk ??"
Gue lanjutin "Dosa keduanya MELECEHKAN AGAMA & Tuhan sendiri. Loe bayangin aja, tujuan sebenarnya tokh cuma mau nge-f*ck aja kok pakai nikah secara Islami segala, apa bukan bentuk pelecehan kepada agama Tuh ?"
"Jangan salahin para wanita itu donk Mak" kata Sitha "Salahin Pemerintah kenapa gak ngasih kesejahteraan ke rakyat Indonesia, ngasih lowongan kerja yang banyak, kasih kesempatan menikmati pendidikan dengan biaya murah. Jadi para wanita malang itu nggak perlu Jual Diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya."
Kubilang bahwa itu adalah alasan klise dari wanita yang mau hidup enak tapi nggak mau kerja keras. No Pain No Gain, That’s the Rule !!
Lagian para aktivis wanita kadang suka aneh. Belum lama mereka marah-marah kepada Wapres JK karena di suatu acara Seminar Nasional Pak JK menyindir dunia tourisme di Indonesia yang ‘dijual’ kok nggak jauh dari kenikmatan sesaat dowank misalnya yhaa kasus Kawin Kontrak yang di Puncak itu-lah. Sambil ngomong gini tentunya Pak JK sambil tertawa-tawa girang binti mesoem seolah menyimpan ‘maksud’ tertentu.
Nahhh… bagi para Feminist itu apa yg dilontarkan pak JK adalah hinaan, perendahan martabat wanita & pelecehan, hahahaa.
Kalau udah begini gue jadinya cenderung setuju dengan Jeung Sitha deh "Lha wong ceweknya yang mau dilecehkan & dihinakan, kok si lelaki yang diserang ?"
Gimana ya cara efektiv ngajarin para wanita Pramu-Nikmat itu untuk berhenti jadi ajang pelampiasan seksual segelintir kaum Adam (yang brengsek & buaya darat)?
Lucu juga tuh kalau ada "HARI TANPA PELACUR SEDUNIA" barang sehariii aja
Alamaaaak … pasti hebat nian efeknya.
Sayang, ide itu hanya terbatas ada dimeja Nomor 14 Kantin Pujasera. Tidak sampai ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. ;-P
