Don’t You Sampeyan Me !!!
” I don’t Like Monday” …. kali ini gue kaya’nya harus setuju sama Oom Bob Geldoff.
Pagi-pagi, secangkir kopi hitam asli dari Aceh juga belum habis aku minum, eeeh seseorag menelphone dengan nada arogan & rada menggertak “bisa saya bicara langsung dengan Pak S” ??
AKu tanya baik-baik “Bapak siapa ?”
Dia jawab (teteup kenceng bo!) ” dari Agung…”
Aku bilang “Bapak sedang tidak ada ditempat, ada kegiatan diluar. Mau tinggalkan pesan ?”
Eeehhh… that S.O.B malahan memaki-maki gue “sampeyan jangan bohongin saya ya ? hari Jumat saya datang kesana sampeyan bilang dia nggak ada, padahal ternyata ada. Jangan sampeyan seenak-enaknya memperlakukan orang ya, mentang-mentang sampeyan asisten orang penting! “
Entah kenapa emosi gue langsung memuncak denger si Agung sialan ini memanggil gue dengan kata-kata sampeyan.
Pertama : gue bukan orang Jawa …
Kedua : yang gue tau & perhatikan, hubby biasanya manggil sampeyan hanya kepada orang-orang ber”kasta rendah”
seperti bediende… tukang betjak … atau tukang ojek.
Ketiga : gue benci dengan nada bicaranya yg menghakimi gue
Langsung emosi gue terpancing detik itu juga (sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi untuk seseorang yang terbiasa menerima pengaduan masyarakat seperti daku ini…
) . Langsung gue bentak aja dia “Pak, jangan panggil saya sampeyan. Pertama karena saya tidak suka dan saya anggap tidak sopan. Ngomong pakai bahasa Indonesia saja sama saya, dan kedua : saya tidak suka disebut pembohong karena memang jadwal Pak S itu sangat ‘cair’ dalam artian beliau bisa saja sewaktu-waktu muncul disini tanpa perjanjian walau tidak ada schedule-nya di calendar saya.”
Lalu si Agung terkutuk ini malah nyerocos gila-gilaan dan marah-marah, menganggap gue mendzolimi orang susah.
Gue jawab aja dengan entengnya ” hey, jangan ngomong sembarangan pak. Saya juga orang susah seperti anda. kalau bukan orang susah gak mungkin saya bekerja disini & mau-maunya dengerin omelan serta keluh-kesah manusia semacam anda”.
Lalu dia tambah emosi jiwa dan mulai mengeluarkan kata-kata “manis” seperti 
dan gue sampai speechless sepersekian detik sebelum akhirnya bilang “eh, yang sopan duonk pak kalau ngomong”
Si kampret itu malahan nyambung lagi bilang
Ya ampuuuuuuuuuunnnn …. *LoL*
Entah kenapa, dititik yang seharusnya aku mendidih habis-habisan akhirnya aku malahan jadi calmdown ‘abis.
Bukan apa-apa… bila aku membalas kata-katanya dengan produk hewani lainnya
itu sama aja aku memposisikan diri-ku sama rendahnya dengan this m0th3rf*ck3r…
Melawan emosi dengan emosi tak akan ada akhirnya… malahan akan menimbulkan bumi gonjang-ganjing gak ada ujungnya.
Belum lagi yang terpenting… aku disini sebagai ‘ujung tombak’ bagi orang - orang yang ingin bertemu atau minta bantuan kepada Pak S. Dan aku punya hak prerogatif penuh untuk menyaring siapa-siapa saja yang kuanggap patut untuk menemui Pak S secara langsung … siapa yang batasannya hanya cukup bertemu aku saja … ada juga yang levelnya cukup sampai ketemu dengan ajudan beliau saja atau bertemu dengan Sekretaris pribadi beliau saja …
Kalau aku sampai membalas mengucapkan kata-kata kasar yang sama dengan si Agung ini (walau di ujung lidah udah nyaris terucap bo !! bhuawahahahaaa … ), wadduuhh sama aja aku bertindak seperti orang-orang yang istilahnya ‘nggak kenal bangku sekolahan’. Dan daripada harus mendengarkan aneka koleksi BonBin Ragunan lebih jauh lagi akhirnya aku tutup aja itu telepon. Nyesel juga aku ngasih direct number-ku ke Kadal Buntung ini.. ;-(
Walhasil… seharian itu aku bawaannya emosi jiwa terus. Pengennya nampol si Agung dan membayar sejumlah preman bayaran buat nyamperin dia kerumah & ngegebukin dia sampai babak belur (photo copy KTP-nya masih aku simpen bow !) *evil’s grin*
Keesokan hari-nya ………… makan siang juga belum, eeeh si giLa itu masih ‘nekad’ nelphone aku. Aku bilang nekad karena setelah kemarin memaki-maki aku dia berani-beraninya menelphone. Ketika telepon aku angkat dia langsung bicara (masih) dengan nada arogan & ganas “sambungkan saya segera dengan Pak S !!!”
Aku pura-pura nggak mengenali suaranya aja dan balik bertanya dg gak kalah galak “dari siapa ini ??”
Dia jawab “Dari Agung…”
Aku balas jawab “oooh, Pak Agung yang tidak punya sopan santun itu ?? tolong belajar sopan santun dulu yha Pak baru silahkan menelpone saya lagi” GUBRAAKKKK !!! dan langsung aku banting teleponku sebelum dia sempat ngomong.
Dan untuk 3 jam berikut setiap ada telepon masuk nggak mau aku angkat aja, mendadak paranoia yang menelpon adalah si Agung Sampeyan… ![]()
Aku sih bukan orang yang suka mengkotak-kotakkan manusia lain dalam kelas-kelas atau kasta-kasta. Semua orang menurutku sama aja, yang beda nasibnya aja. Tapi kalau ada orang yang hidupnya susah… terus gara-gara pengen minta sumbangan 250 ribu … nggak dikasih…. eh, langsung memaki-maki kita dengan alasan mendzolimi … khan eneg juga ;-(
Pak S sekarang lagi ‘naik daun’ … dan yang minta sumbangan ke beliau jumlahnya sampai puluhan bahkan ratusan dalam 1 bulannya. Semua orang yg minta-minta itu gue rasa seharusnya tau, track record beliau selama ini gimana. Hidup nggak terlalu berlebih… juga nggak berkurang. Standard kecukupan seorang pejabat tinggi. Tapi bukan berarti dia bisa dimintain duit seenaknya aja gitu. Apalagi surat dari si Agung itu sudah aku kasih langsung ke beliau … dalam keadaan tertutup seperti aslinya alias belum aku sensor sama sekali. Tapi setelah beliau membaca surat tersebut sama sekali nggak ada perintah lanjutan atau disposisi khusus. Dicuekin aja tergeletak di atas meja kerjanya.
Aku yang sudah 2 tahun lebih bekerja mendampingi beliau paling tidak tau, bahwa surat terebut tidak menarik minatnya. karena (setelah kuintip belakangan…
) isinya ‘menjual kesusahan dan penderitaan sebagai korban gempa Bantul” untuk meminta sumbangan duit (dan ngasih nomer rekening pulak !!) … juga beliau sama sekali nggak mengenal si Agung ini.
Pak S biasanya sangat perduli terhadap orang-orang yang sudah dia kenal sejak zaman orba dahulu dan dia nggak akan lupa sama orang yang memang pernah kenal dekat dengan dia. Bila ada yg minta sumbangan & mengaku kenal dekat dengan beliau … tapi suratnya lalu dicuekin … itu tandanya sang pengirim berbohong ![]()
Sampai sekarang si Agung nggak nelpon-belpon lagi, kemarin beraninya cuma mengirim ulang suratnya via Fax hahaha … dan surat itu berakhir di tempat sampah kolong meja gue … *evil’s smile*
Jangan harap Agung Loe bakalan menerima sepersen-pun !! Inget loe udah berlaku kasar & menyakiti hati gue…. Don’t make me angry coz you won’t like it if am angry !! (HuLk skaleee….)
Pelajaran buat peminta sumbangan lainnya : kalau mau minta sumbangan ke orang penting, jangan sekali-kali memaki orang yang punya hak prerogatif untuk ‘membuka pintu’ masuk dan menyaring siapa-siapa aja yang berhak menerima sumbangan dari beliau. Karena dengan begitu berarti loe sudah menggembok pintu itu dengan sendirinya tanpa sempat memasukinya. Chiaooo …..

November 21st, 2006 at 10:10 pm
Hehehe…begini lah Uni nasib jadi pintu gerbang ke bos. Daku pun sering mengalaminya apalagi menjelang HUT RI..wuih yang nelpon banyak malah sok pake bahasa inggris segala walaupun belepotan terus kalau kita tolak dgn sopan malah bawa-bawa nama orang tertentu which is kagak ngefek krn yg namanya sumbangan kan sifatnya suka rela & seikhlasnya. Btw Pak ‘S’ itu bukan Susilo Bambang Yudhoyono kan? huehueheee *fitnah*