Archive for December, 2006

It’s Not Over Yet …

Monday, December 18th, 2006

   

   

         

 

Day 9 @ RS. MHT
Minggu / 10 Dec 2006

 

                  

 

Hari
ini aku lalui tanpa ada firasat apapun. Janjian sama semua kakak dan
adik mau Rapat keluarga di Cafetaria RS ngebahas soal pembiayaan
pengobatan Sonia yang minta ampun membengkak hingga ratusan juta rupiah
serta cara penanggulangannya.
Juga dibahas khusus sifat
uring-uringanku yang cenderung memojokkan si Papi kalau kami terkena
masalah yang rada gede model gini. Entah kenapa kalau aku sudah anggap
dia lambat, lelet dan gak sigap mengambil keputusan, aku bisanya cuma
ngomel abis-abisan yang ujung-ujungnya benci sama si Papi setengah
mati. :-(
Kakak-kakak
mengingatkan bahwa ini adalah masalah bersama kita sebagai satu
keluarga besar, maka kita-pun harus menanggulanginya secara kompak.
Khususnya aku sebagai mami dan papi-nya Sonia haruslah satu suara untuk
menyelesaikan masalah dan jangan sampai menggunakan emosi melebihi
nalar.
Setelah aku berhasil di calm-down oleh mereka, kami-pun makan
malam bersama di Resto Mas Miskun. Dasar Sain’s Family, mau kondisi
kaya’ apapun juga yang namanya Wisata Kuliner gak bakalan ada matinye
!! :-D

Sesampainya
di RS. MHT aku mau menemui Sonia di R.PICU namun oleh suster dilarang
dengan alasan "sedang ada tindakan terhadap Sonia". Aku kaget luar
biasa, karena tadi Sonia aku tinggalkan dalam keadaan biasa-biasa aja.
Sempat aku lihat dia sedang dipakein masker oksigen berujuran besar dan
dadanya tampak turun-naik tidak karuan.
Aku stress berat, para
suster kutanya gak ada yang berani jawab detail hanya bilang "Nia sesak
nafas Bu, biar dokter Mita nanti yang nerangin, bukan kapasitas saya…"
Mondar mandir aku menunggu di ruang tunggu dengan was-was… what’s going on ??
Tak
lama kemudian muncul Dokter Mita… masih ber-kebaya ria. Ternyata dia
langsung kabur dari kondangan begitu di-telphone suster mengenai
keadaan Sonia.
Aku tunggu 10 menitan lagi, baru kemudian aku - papi
dan Bapak Mertuaku dipanggil kedalam Ruang PICU. Dokter Mia menerangkan
bahwa sesak yang terjadi tadi akibat paru-paru Sonia tampaknya juga
sudah ikutan terinfeksi.  :-(   secara
kemarin ketika dibawa ke RS. MHT kondisi bagian dalam perut dan darah
Nia sudah terinfeksi total oleh kotorannya sendiri akibat usus yang
bocor disana-sini.

Good Lord !! belum pernah seumur hidupku aku
merasa sepasrah ini kepada NYA. Aku sudah nggak tau harus bicara
apa-apa. Aku cuma bisa diam, tenang. Seolah-olah nyawaku saat itu telah
pergi ninggalin tubuhku. Aku melayang sejauh mungkin akibat rasa sedih
yang rasanya gak sanggup aku hadapi. Aku serasa melayang seringan balon
yang diisi penuh Hidrogen.  :-(

Sungguh
ini perasaan Pasrah Luar biasa yang pernah aku alami dalam hidupku. Aku
nggak sempat untuk terguncang lagi. Hati-ku perih sekali, membayangkan
ada begitu banyak infeksi yang mengaliri sekujur tubuh anak gadisku.
Selesai
Dokter Mita memberi penjelasan aku langsung pergi meninggalkan Ruang
PICU dan menuju musholla untuk duduk termenung sendiri. Apa salahku Ya
Tuhan ? kok masih belum berhenti penderitaan yang harus dilalui
Sonia-ku yang tidak berdosa itu…
Hingga akhirnya pada satu titik
tertentu aku nggak tahan juga dan aku hanya bisa menangis tersedu-sedu
sendirian. Menyesali ‘kepayahan’-ku sebagai Ibu yang terlambat
menangani sakit anak-nya… kepayahan-ku menemukan dokter yang Paling
Payah dan Rumah sakit yang paliiing payah banget yaitu RS. Bunda
sehingga anakku terlambat ditangani. I hate myseLf !!!
Lalu
mendadak Gabe muncul dan duduk disampingku. Dia nanya dengan lugu "mam
kok nangis ? mami lagi sedihin apaan ?" Aku nggak menjawab
pertanyaannya, aku langsung memeluk tubuh endut-nya erat-erat dan
dia-pun (yang biasanya berontak kalau dipeluk…) diam aja. Mungkin dia
tau mami-nya lagi butuh ‘a shoulder to cry on’. Kucium pipi gembuLnya
dan bilang "mami nangis karena mami lagi sakit kepala Dek…"

Lalu pembantu-ku muncul dan bilang "Bu, dipanggil sama kakak buat nemenin dia".
Aku
langsung buru-buru melompat dan pergi kekamar mandi. Aku cuci mukaku
lalu langsung memakai bedak untuk menutupi wajah bekas menangisku. Aku
nggak mau Sonia melihatku menangis, karena takutnya nanti dia ikutan
sedih. Begitu sampai dikamarnya di R. PICU gadis kecilku tampak sedang
terkapar ditempat tidur, memakai master oksigen berukuran besar untuk
mengimbangi napasnya yang lagi sesak luar biasa. Sonia melambaikan
tangannya dan berbisik "mam… bobo disini ya malam ini. Temanin aku.
AKu takut sendirian"
Aku mengangguk menyanggupi da Dokter Mita-pun
langsung mengeluarkan perintah "mulai saat ini Sonia bebas dikunjungi
& ditemani mami-papinya kapam saja, gak perlu sesuai jam bezoek"

Walhasil…
malam itu aku menemani Nia tidur dikamarnya (yang tanpa extra bed bo!
cuma ada kursi doank..). Yang ada aku nyaris gak bisa tidur semaleman.
Perut kram… punggung pegal… pinggang encok… nasiiib-nasiiib. Tapi
demi membahagiakan anak : What the heck deh !! :-D
Paginya Sonia kelihatan seneng banget karena akhirnya ditemenin mami
dikamar (seandainya dia tau betapa menderitanya sang mami… hehehe)

Lalu
beberapa hari kedepan kulalui dengan perasaan was-was. Obat-obatan
untuk mematikan infeksi Sonia terus diberikan. Aku cuma berdoa semoga
khasiat obat-obat patent ini ’sehebat’ harganya… :-)

Day 15 @ RS. MHT
Jumat / 15 Dec 2006

Pagi-pagi
aku sudah dimintai tanda-tangan untuk menyetujui tindakan USG terhadap
Sonia. Aku tanya kenapa harus di-USG lagi ? Suster bilang perintah
Dokter Mita karena ketika diperiksa semalam pergerakan usus Sonia
terdengar lambat lagi dan cairan yang keluar dari tubuhnya masih jauuh
lebih banyak dibandingkan cairan infus yang masuk.
Walhasil jam
06.30 pagi … aku yang masih kusut-masai … harus ready di R. PICU
menemani Sonia di USG. Hasil USG tidak menggembirakan. Jelas pergerakan
usus sangat lambat, lalu tampak ada penumpukkan cairan dalam lambung .
Tapi ada yang lebih mengerikan dibandingkan ke-2 hasil USG tersebut.
Luka operasi diperut sebelah kanan Nia tampak robek dan merekah !! Aku
bener-bener ngeri dibuatnya. Kenapa sampai bisa begitu ??

Lalu
jam 13.30 Dr. Mita datang dan menyatakan bahwa "mom… she’s still in
unstable conditions. So please be patience." Persoalannya Dok : sampai
kapan ???

Lalu jam 16.00 Prof. Ali datang memeriksa Sonia dan
begitu melihat kondisi lukanya yang robek sedemikian parah beliau
menyatakan "Sonia harus di-operasi lagi malam ini juga".
Ampuuuuuuuuuuuuunnnn…
Aku
langsung menghubungi kakak-kakak dan adikku, mengabarkan mereka tentang
re-posisition operation ini. Bayangin betapa stress dan terguncang-nya
semua orang. Kasihan Nia, luka kemarin belum sembuh sekarang sudah
harus di-operasi lagi. Aku sendiri ?? for no reason why, I can’t cry
hard enough… nyesek bangeth rasanya, more than words can say.

Operasi
dimulai jam 19.30 WIB dan sebelum operasi dimulai aku & papi
dipanggil prof. Ali. Beliau menyatakan bahwa Sonia harus dioperasi
karena ternyata usus Nia yang ditaris keluar melesak kedalam luka dan
menimbulkan sedikit radang & infeksi dimana-mana. Gosh !!
Aku
cuma bisa pasrah saja dan menanti di luar Ruang operasi. Kira-kira 2.5
jam kemudian operasi selesai, tepat disaat aku sedang sholat Isya
sambil menangis-nangis memohon keselamatan & kesembuhan Sonia.
Please God, don’t stop your miracle rightnow… I still need your
miracle to Sonia…


Begitu
aku balik ke OR, kakak-kakakku bilang operasinya sudah selesai dan
Insya Allah Sonia nggak akan terkena ekses apapun. Aku masih penasaran
pengen tau detilnya, tapi Kak Luki lalu bilang "kalau saya mendingan
nggak usah tanya-tanya lagi deh, serahkan saja pada ahlinya yaitu
Dokter. Seandainya kita tau tokh kita tak akan bisa berbuat apa-apa.
Malahan bikin nggak bisa tidur karena kepikiran sama penjelasan dokter".
Bener juga sih… akhirnya amu memutuskan tekad bulat :  I DON’T WANNA KNOW !!
Yang aku tau adalah Sonia akan kelihatan sehat… bugar dan kembali seperti dulu…   

Malam
itu aku relatif lebih tenang dan tidak mau memikirkan hal-hal yang
terburuk. Yang ada dibenakku cuma pasrah… pasrah… dan pasrah.
Tugasku sebagai Ibu hanyalah mengirimkan Sonia doa sebanyak
banyak-banyaknya. Dan akupun membaca Al-Quran semalaman itu untuk
menenangkan hatiku yang sebenarnya galau tapi tak bisa kukeluarkan atau
ungkapkan pada siapapun….

 


Day 16 @ RS. MHT
Sabtu / 16 Dec 2006

Pagi-pagi aku sudah dipanggil kekamar Sonia, and believe it or not… SHE LOOKS MUCH BETTER !!     Thank’s GOD… for everything you’ve done to her …
Apakah
ini yang namanya berkah tersembunyi ?? dibalik cobaan ada mukjizat
dibaliknya ?? Ternyata ketika di-operasi semalam ketahuan ternyata
seluruh jahitan operasi Sonia rapuh & bocor akibat melesak-nya sang
Usus. God ! seandainya jahitan kanan tidak sobek dan merekah, belum
tentu kebocoran itu akan ketahuan oleh Dokter karena letaknya didalam
perut. Fiuuhhh….

Sonia
udah mulai bawel lagi… jutek lagi… ngomel-ngomel lagi.. And this is
a good signs for me. Karena memang begitulah dia biasanya, he he.
Siangnya
aku tinggal dia pulang sebentar, gantian biar ditemenin papi-nya. Aku
tidur seharian (in my bed… finaLLy). Sore aku balik lagi ke Hospital,
dan malam Dr. Mita datang. Dia bilang kondisi tubuh Sonia cenderung
membaik dan menuju kearah positif alias penyembuhan.
Thank’s GOD…
I don’t know what to do without YOU… Plaing tidak aku jadi bisa
tersenyum lagi sekarang. Senyum yang benar-benar senyum dari hati,
bukan basa-basi….

‘BERDAMAI’ dengan TUHAN : PART- 2

Thursday, December 14th, 2006

Day 5 - 8 @ RS. MHT

Rabu - Sabtu/ 6 - 9 Dec 2006

Paginya
pasca operasi, pukul 07.00 pagi aku sudah diizinkan masuk ke ruang
perawatan Sonia. Dia tampak begitu tak berdaya, matanya tidak
memancarkan sinar sedikitpun. Walau hatiku sedih, tapi aku tetap
tersenyum dan menyapanya sambiL masang muka bahagia.

"Hallo sayang… apa khabar Princess mami hari ini ?"
Dia nggak menjawab apa-apa.  Cuma suara serak banget yang keluar dari tenggorokannya.
"suara-ku hiLang mam… dan aku nggak ngerasain apa-apa"
Aku
jelasin aja kalau dia masih dibawah pengaruh obat bius total, sehingga
dari pinggang ke bawah rasanya lumpuh total dan tidak bisa menggerakkan
apa-apa.

"sabar yha sayang" kataku …  "kalau
Sonia kuat dan bisa menahan segalanya selama bertahun-tahun ini,
tandanya Kakak juga akan kuat menahan sakit yang akan terjadi nanti
khan ?"
 
Wajahnya rada
bingung, lalu aku mulai menjelaskan padanya sejujur mungkin tanpa ada
nada menakut-nakuti. Mulai dari proses menggigilnya badan bila efek
obat bius mulai menghilang… lalu diiringi mati rasa perlahan-lahan
yang akan semakin menurun menuju jari kaki… hingga akhirnya tinggal
rasa perih akibat luka operasi.
:-(
Dengan
mata hampa Nia cuma menganggukkan kepalanya. Aku juga nggak yakin dia
menyimak semua kata-kataku tadi. Tapi aku yakin di alam bawah sadarnya
dia mencerna dan merekam semua kata-kataku tadi.

Miris
rasanya melihat ada begitu banyak selang yang dipasang ditubuhnya untuk
menunjang-nya bertahan hidup. Ada selang oksigen… ada selang NGT …
ada selang infus … ada selang pendeteksi detak jantung… selang
pendeteksi O2. Di badan sekecil itu ada begitu banyak penunjang
kehidupan buatan manusia. Aku terlalu ngeri ngebayangin Jika salah satu
selang itu dicabut, nanti akan terjadi efek apa. Hiyyyy…   
:-(

Hari
demi hari berlalu … teman-teman … sahabat … saudara-saudara
jauh… guru-guru … teman-teman sekelas Sonia… para orang tua
siswa… silih berganti datang membezoek. Tapi aku kok jadinya stress
yha kalau ada yang mem-bezoek ?? ;-(
Bukan apa-apa, aku jadi stress & menggigil aja karena terpaksa
harus mengulang kronologis kasus Sonia sampai harus berakhir dimeja
di-operasi seperti ini.

Dan jangan dikira keadaan sudah aman …
Sonia masih masuk masa kritis selama 72 jam kedepan. Infeksi di ususnya
dikhawatirkan bisa merebak sewaktu-waktu walaupun Prof. Ali sudah
memotong tuntas segala jenis usus yang koyak & membusuk itu. Namun
masih amat sangat perlu dijaga agar jangan sampai infeksi itu meruyak
keseluruh pembuluh darah. Secara ketika dibawa ke RS. MHT kondisi bagian
dalam tubuhnya sudah dipenuh infeksi melalui darah dan kotoran sisa
makanannya. :-(

Dan selama berhari-hari … setiap malam
khususnya… aku selalu membaca Al-Quran didepan ranjangnya dan kuminta
dia untuk mengikuti dalam hati. Aku baca semua jenis doa-doa
penyembuhan sakit yang kudapat dari internet, seperti petunjuk
kronologis bagi pengobatan Islami. Brubung gue awam, aku cuma punya
satu keyakinan : bila sesuatu doa dipanjatkan dari hati yang paling
dalam, Insya Allah akan dikabulkan Tuhan. Aneka doa-doa yang sebelumnya
gak pernah kukenal aku bacakan buat Sonia.

Seperti doa Ketika Rasullulloh sakit maka  Malaikat        Jibril kemudian membacakan salah satu doa sambil ditiupkan ketubuh Nabi, doanya

BismiIlahi arqiika minkulli syai-in yu’dziika minsyarri kulli nafsin
au-ainiasadin Alloohu yasyfiika bismIllahi arqiika".

Lalu doa lainnya yang selalu aku bacakan sebelum Sonia tidur berdasarkan Dalam satu riwayat bahwasanya Nabi Muhammmad        SAW apabila beliau sakit maka membaca “Al-muawwidzat” yaitu tiga        surat Al Qur’an yang diawali dengan kata “ A’udzu ”
Yaitu :
       surat An Nas, Al Falaq dan Al Ikhlas.

Ada lagi yang menurutku Doa lumayan penting, membaca :
“Basmalah 3x dan …
"A’udzu        bi-izzatillah waqudrotihi minsyarrima ajidu wa uhajiru" sebanyak 7x
 
Aku
selalu berharap Allah akan mendengar doa-doaku diatas. Dan selalu juga
aku berdoa agar Tuhan memberi kekuatan terus kepada Sonia seperti yang
lalu-lalu.
:-)

Kaya’nya
lucu … aku yang selama ini tidak perduli pada-NYA … yang selama ini
merasa diperlakukan tidak adil oleh-NYA… mendadak jadi begitu merasa
sangat penting untuk selalu mendekatkan diri pada-NYA. Karena misi-ku
hanya satu : Sonia sembuh and back to normal again. Selain itu aku
bener-benar butuh "sesuatu" untuk bersandar… aku tidak butuh
seseorang, karena aku tau yang namanya manusia pasti kemampuannya-pun
terbatas. Jadi aku hanya bisa bersandar pada-NYA. Bisa merasakan aman
setiap habis "curhat" pada-NYA. Betapa galaunya hatiku menanti 24×3 jam
berlalunya masa kritis Sonia.

Setiap hari resume yang kudapat
dari Dr. Mitha atau Prof. Ali selalu berubah-ubah. Hari ini baik…
hari esok agak mengkhawatirkan. Jiwaku dibuat ibarat yoyo, selalu naik
turun nggak karuan.. Seandainya aku wanita yang punya lemah jantung,
aku yakin aku bakalan dirawat inap juga karena tekanan psikis yang
kualami jauh lebih hebat & mengerikan melebihi putaran-putaran
Roller Coaster di Millenium Force - Ceddar Point, Ohio. :-(
Tapi sekarang kondisinya sudah lain… ‘teman’ku mengadu hanyalah DIA dan diatas sajadah hijau Musholla R. PICU Lt. 3

Ya
Allah ya Robbi … berilah kekuatan pada Sonia untuk melewati masa-masa
kritisnya dan berilah kekuatan yang amat sangat padanya untuk
mengabaikan rasa sakit luar biasa yang berasal dari Luka bedah yang
begitu besar diperutnya. Aku ingin menukar tempat, namun itu nggak
mungkin karena semua sudah terjadi dan digariskan oleh-NYA.

Aku cuma
bisa terus menerus berdoa agar Sonia bisa tegar dan perkasa menghadapi
cobaan seberat ini. Aku hanya ingin melihat dia berumur panjang dan
bisa tertawa kencang-kencang lagi.

Please God I beg you ….   

‘BERDAMAI’ DENGAN TUHAN…

Thursday, December 14th, 2006

Day-2 @ RS. MHT Int’l.
Minggu / 3 Dec 2006

Dari pagi sampai siang aku hanya menemani Sonia aja di R. 718. Para suster gak brenti ngambil contoh darah Sonia, melakukan tes alergi antibiotik… nge-USG … lalu nge-rontgent.
Aku berusaha tabah dan terus menemani kemana-pun dia dibawa. Tujuan gue cuma satu : supaya dia tidak merasa sendirian.

Sore… jam 15.00 Keluarga Ragunan datang mem-bezoek Sonia. Dan ada agenda lain yaitu "Rapat Keluarga" antara Aku & Papi dengan Kak Luki & Uni Willy. Saat Rapat dimulai (di Ruang tamu R. Rawat Inap Lt. 7), Sonia ditemenin Kak Naufal, Kak Ira dan Sabilla biar dia merasa nyaman dikelilingi saudara-saudaranya. Dan ditengah-tengah obrolan kami ber-empat tiba-tiba aku dipanggil oleh Dokter Anak yang in-charge dilantai 7. Dia bilang atas perintah DR. Pramita Sonia harus dipindahkan saat itu juga ke ruang PICU (Pediatric-ICU). Aku langsung shock luar biasa, sebab kupikir kondisi Sonia bisa tertangani di kamar rawat-inap biasa.
Lalu sang dokter menjelaskan bahwa hasil USG dan rontgent Sonia tadi pagi menunjukkan tanda yang kurang menggembirakan, bahkan cenderung agak mengkhawatirkan. Pertahanan diri-ku pun mulai goyah. Aku langsung nangis tersedu-sedu dipelukan Uni Willy. Sebab yang kutau bila seseorang masuk ICU, itu sudah merupakan ‘Tanda Bahaya’.

Uni berusaha menenangkan aku dengan menyatakan bahwa masuk ICU kondisi Sonia malahan jauh lebih bisa terdeteksi dan mudah-mudahan proses pengobatannya bisa dipercepat.
AKu sudah nggak bisa mikir apa-apa lagi… aku sibuk mendampingi Sonia yang siap-siap dipindahin ke R. PICU, lalu urusan administrasi diurus oleh Kak Luki & Papi.
Maka Sonia-pun diantar ke R. PICU. Aku…. hanya bisa menanti dibalik pintu kaca yang terkunci rapat… karena aturannya jelas : pasien anak di R. PICU tidak boleh didampingi orang tuanya biar mereka dirawat secara intensif oleh 1 orang suster khusus.

Resah bukan kepalang yang namanya harus menanti di Ruang Tunggu PICU bersama beberapa orang tua anak-anak lainnya. Wajah-wajah sedih & tegang dimana-mana. Walau aku didampingi Uni, Kakak & adik-adik-ku… tetap aja hatiku resah bukan kepalang karena tidak bisa lagi bebas melihat Sonia.

Menjelang malam DR. Mita datang dan kembali mengulang statement si Dokter Anak di Lt. 7 tadi. Dia bilang "I’m not happy about Sonia’s condition. There’s something wrong in her tummy, and I wanna know the resuLts immediatelly. Dan hanya dengan cara masuk PICU-lah semua itu bisa terdeteksi." AKu mulai menerima kenyataan itu dan berusaha tabah walau dalam hati hancur bukan main. Malam mulai merayap datang dan orang-orang mulai pulang kerumah masing-masing meninggalkanku berdua dengan si Papi. Sebelum pulang Kak Luki sempat berpesan "Piek… jangan lupa berdoa & sholatnya yha. "
Namun aku cuma mengangguk saja dan tidak berusaha menjalankan pesan kakak-ku itu …. :-(
Maka malam itu dimulailah "petualangan pertama-ku" tidur di Ruang Tamu PICU… ngegelar kasur lipat bo! dilantai yg dingin… karena guess room yg tersedia di RS sudah habis di-booking.

Day-3 @ RS. MHT

Senin / 4 Dec 2006

paginya Dokter Mita sudah datang dan langsung menyampaikan kabar buruk pertama untukku : Sonia harus segera di-operasi karena hasil rontgent menunjukkan penampakkan yang tidak menggembirakan serta membuat was-was. USG juga begitu, para dokter bisa ‘membaui’ adanya bahaya… namun mereka tidak jelas itu apa. Lalu dia merekomendasikan Prof. ALi Umar (one of RSPP Director) sebagai Tim Dokter bedah dan seorang Dokter Anastesi.
AKu sudah tidak sempat shock lagi, yang ada hanya kekhawatiran "bagaimana peluang Sonia" ??
Dr. Mita gak berani berspekulasi… Dia cuma bisa bilang bahwa Sonia dibawa ke RS. MHT sudah dalam kondisi terinfeksi sangat parah … akibat salah penanganan. Walau dia tidak menyatakan secara eksplisit, aku tau yg dia maksud adalah RS. Bunda (God Dammed you RS Bunda !!!! ) :-(
Sore hari Prof. Ali Umar datang dan meminta persetujuanku agar Sonia di CT-Scan segera. Biar dia tau pasti di titik mana harus mengoperasi bagian perut Sonia. Aku sudah gelap mata & gak mau mikirin biaya lagi … yang penting Sonia sembuh !!! Langsung aku ttd surat persetujuan CT-Scan yang harganya lumayan bikin ‘ngiLu’ itu … Belum lagi aku harus deposit uang operasi Sonia sebesar 11 juta (sebagai permulaan ??!!). Seluruh keluarga turun tangan, especially K’Luki & Uni Will. Mereka berpesan khusus bahwa aku nggak boleh mikirin biaya, yang penting Sonia ditangani duLu dengan benar. Sekarang tugas-ku sebagai Ibu hanya mendampingi dan memikirkan pulih-nya Sonia dulu.

Di akhir sesi dengan Prof. Ali, beliau menyampaikan pesan padaku "Ibu… sekarang kondisi Sonia 50-50. Dia bisa selamat… bisa juga Tidak. Sekarang yg penting kita sebagai Dokter berikhtiar & berusaha. Ibu sebagai orang tua tugasnya hanya berdoa. Doakan putri ibu supaya selamat. Sebab insya Allah hanya doa Ibu yang bisa sampai manfaatnya untuk Sonia…"

Usai pembicaraan aku cuma bisa menangis habis-habisan. Hatiku hancuuur sekali membayangkan kemungkinan anakku selamat 50:50. Baru deh aku teringat pesan Prof. Ali tadi "doa Ibu". Lalu Dr. Mita yang datang malam itu juga menyatakan haL yang persis sama dengan ucapan Prof. ALi. Sonia harus di operasi karena di CT-Scan terlihat jelas ada ‘ledakan’ di usus-nya, entah itu usus buntu atau penyakit lainnya. "jangan lupa doa ya Mami-nya supaya operasi berhasil" pesan dokter Mita.

Malam itu … untuk pertama kalinya setelah 6 tahun … gue sholat (lagi). Terakhir gue sholat (beneran) dan berasal dari hati sendiri sudah bertahun-tahun lalu. Apalagi sholat-nya sambil nangis dan bener-bener keluar doa yang berasal dari hati paling dalam….

Entah kenapa gue selama 8 tahun terakhir ini tidak ingin ‘berdamai’ dengan Sang Khalik. Entah apa yang membuat gue sedemikian ‘marah’ dan tidak mau mengakui keberadaan-NYA. Hingga semua sobat dan teman-teman taunya aku tuh orang yang tidak ber-Tuhan a.k.a Atheis. :-o
Aku ngerasa Tuhan sudah tidak memperlakukanku dengan adil … tidak mau mengabulkan permintaan-permintaan atau doa’ku. Dan kenapa DIA mengambil semua hal berarti dalam hidup-ku. :-(

Tapi malam ini…. aku menyadari aku itu tidak ada apa-apanya. AKu nggak berhak marah pada-NYA. Aku nggak berhak complain pada-NYA karena tokh pada kenyataannya aku aja jarang meminta apalagi bersujud kepada-NYA, gimana DIA mau mengabulkan permintaan-ku ??
Malam ini aku sholat lagi dan meminta kepada-NYA. Allah

Aku nggak tau apa sholatku bisa dianggap sah apa tidak karena sepanjang sholat aku nangis nggak karu-karuan … aku berdoa sambil menangis sejadi-jadinya. Anak-ku adalah HAL TERPENTING dalam hidupku. AKu nggak tau apakah bisa melanjutkan hidup bila tanpa keberadaan anak-anakku.
Aku berdamai dengan Tuhan malam ini. Aku serasa kembali ke masa belasan tahun yang lalu , saat aku masih Percaya Adanya Tuhan … saat aku masih percaya bahwa yang bisa menolongku hanyalah Tuhan… Apakah ini yang namanya Blessing Indisguise ?? dibalik sebuah penderitaan akan muncuL sebuah kesadaran yang selama ini terkubur rapat di dalam Hati-ku ?? :-) Ya Allah ya Robbi … please don’t take away my baby for me. Please forgive all my sins. Bila ini cara-MU untuk menegurku … bila ini cara-MU menyampaikan pesan kangen akan sembah sujudku… aku mohon ampun & tolong hentikan segala penderitaan Sonia….

Day-4 @ RS. MHT

Selasa / 5 Dec 2006

Today s Operation Day !!! Kondisi Sonia masih tetap 50:50 … tetapi Tim Dokter tetap harus mengoperasi dia malam ini, apapun yang terjadi :-( karena bila menunggu lebih lama lagi, takutnya pertahanan diri Sonia akan habis. Aku harus menebus obat yang Naudzubillah Min Dzalik mahalnya 8-O 14,3 juta dan harus ditebus 3x berturut-turut !!! (Diluar biaya operasi, tindakan dokter dan kamar PICU). But, Seperti pesan Uni-Uniku… aku nggak usah mikirin biaya duLU. Tebus saja, yang penting Sonia bisa "terpagari" tubuhnya dari segala infeksi.
Jam 19.00 WIB seharusnya waktu untuk operasi, namun Prof. Ali menunda sampai jam 20.00 WIB untuk melihat kesiapan fisik & psikist Sonia.

Seluruh keluarga besar Sain sudah berkumpul mendampingiku. Operasi berlangsung di Lt. 3 dan menurut Prof. Ali akan berlangsung sekitar 2 - 2.5 jam saja. Untuk menghilangkan ketegangan, kami semua makan malam di Cafe depan RS. MH Thamrin. Selesai makan malam sekitar 1.5 jam kemudian kami kembali ke R. Tunggu OR.
2 jam …. 3 jam … 4 jam berlalu… namun tidak ada tanda-tanda Tim Dokter muncuL. AKu mulai resah … mual… menangis diam-diam… dan tertekan.. Seumur hidupku belum pernah aku sedepresi ini. Betapa aku merasa kesepian disekeliling seluruh Anggota Keluargaku yang menemani. Yang terbayang dimataku hanya senyum Sonia… suara ketawa-nya yang heboh & meledak-ledak itu (aku skaleee…) … matanya yang bersinar-sinar itu (yang sudah 10 hari ini tidak pernah kulihat lagi ada di mata-nya). Aku cuma bisa dzikir tiada henti … berdoa tiada henti … demi keselamatan anakku. Dan meminta agar mukjizat-Nya bisa diturunkan ke Sonia malam ini.

Tepat pukul 02.00 malam kurang 10 menit Prof. Ali muncul memanggil-ku dan menanyakan "apakah Ibu siap melihatnya ??" Aku deg-degan berats … siapa melihat apa ??
Lalu Prof. Ali memperlihatkan SEBASKOM USUS yang masih merah kepadaku dan belia berkata "ini usus besar anak Ibu… terpaksa saya angkat semua karena tidak ada yg bisa diselamatkan lagi. Kondisinya sudah hancur … bolong-bolong setiap 5 cm .. dan sebagian menghitam & berbau busuk." Astaghfirullah!!!!!!!!!
Colon

Aku shock berat melihat semua itu.

Shock berat karena ternyata … selama ini… gadis kecil-ku menyimpan ‘bom waktu’ didalam perutnya … dan dia sama sekali tidak pernah mengeluh atau cengeng padaku (atau pernah ?? tapi aku yg terlalu sibuk untuk perduli ?? :-( …. ) Lalu Prof. ALi menyampaikan pula bahwa untuk sementara waktu Sonia akan dibuat lubang di perutnya dan saluran pembuangan pup-nya akan keluar lewat situ. Paling tidak sampai 4 bulan kedepan… hingga kondisinya siap lagi untuk operasi ke-2 untuk menyambung usus besar yang tersisa 40 cm dengan saluran usus pembuangannya.
Aku bener-bener speechless… aku hanya bisa menangis dipelukan Kak Boy. Aku sama sekali tidak menyangka Sonia menderita sakit sedemikian parah dan (menurut Prof.) kasus ini sangat langka. Dia menyuruhku tetap berdoa kepada Allah atas mukjizat bahwa Sonia masih mampu bertahan hidup dengan kondisi separah itu.

Ketika Sonia dibawa dengan kereta dorong kembali ke kamar PICU ternyata dia sudah sadar. AKu buru-buru menghapus air mataku dan tersenyum pada dirinya karena kulihat dia langsung mencari-cari maminya dan matanya langsung menatap ke arahku. Dia berusaha memanggilku, namun mulutnya sedang diberi selang pernapasan langsung ke paru-paru. Walhasil suara yang keluar hanyalah suara grrookkk … groookkkkk… seperti kambing disembelih :-(

Colon3

Luluh sudah pertahanan diriku…. aku kembali nangis tersedu-sedu. Hatiku serasa diiris-iris melihat kondisi anakku yang kesakitan seperti itu. Bisa kulihat rasa sakit dan ketakutan terpancar dimatanya. Bisa kulihat ini adalah operasi besar. Bentuk irisan di perut Sonia seperti huruf T terbalik dan lumayan panjang. My poor babY… Ingin sekali aku menukar tempat dengan dirinya … :-(

Malam itu setelah semua saudara-saudaraku pulang dan menenangkan diriku yang lumayan histeris… kembali aku duduk sendirian di Musholla… kembali berdamai dengan Tuhan (mudah-mudahan untuk selamanya :-) … ) dan meminta kepada-Nya agar Sonia selalu diberi kekuatan dan ketabahan untuk dapat menahan segala rasa sakitnya. Kembali aku memohon ampunan-Nya bila ini adalah "sentilan" buatku bila selama ini aku mengabaikan keberadaan-Nya. Dan aku cuma bisa berjanji bahwa aku nggak akan pernah melupakan-Nya lagi. Ibarat orang lagi berantem … aku sekarang ngajakin DIA baikkan dan duluan mengangsurkan jari kelingking-ku pada-Nya. Please God, give my baby giRL strength to heal the pain.


I wish that I could turn back the clock…

Bring the wheels of time to a stop…

Back to the day…

When Life is so much better ….

Love you chantiques …. always & forever…

Niamami

Between D.O.A

Wednesday, December 13th, 2006

   

   

         

 

Semua
berawal 3 pekan yang lalu… saat itu Sabtu, tanggal 25 November. Sonia
sudah 4 hari panas lumayan tinggi, perut kembung dan dia bilang
perutnya perih minta ampun. Gue pikir sakit maagh biasa. Memang sih
sudah sebulan ini dia mengeluh sakit perut terus. (Damn Me!! betapa aku
Ibu yang buruk… :-( 
) aku pikir dia sakit maagh biasa maka aku kasih obat sakit perut dari
Klinik MPR. Tapi lama kelamaan dia kok merasa lemas… nggak mau
makan… nggak mau ke kamar mandi. Pokoknya lemah, maunya tiduran
diranjang all day long . :-(

Hari
itu aku harus menemani Gabe ke Taman Safari, acara Piknik bersama
teman-temannya 1 sekolahan. Walau berangkat dengan muka ceria tapi gak
bisa bohong hati gue tetap was-was dan tertambat ke Sonia. My baby
girL’s sick and needs help immediatelly. Semua literature tanda-tanda
aneka penyakit udah aku selusuri di Google, namun hasilnya malahan,
macem-macem e.g Gejala Flu burung … gagaL ginjaL … bahkan yang lagi
trend : Chikungunya.

Walhasil sambil berangkat bersama Gabe aku sambil
gak brenti menteror si Papi : harus ke Lab. Klinik Prodia hari ini juga
untuk periksa darah … hasil test keluar siang langsung bawa ke Dokter
Tarto untuk dilihat hasilnya. Begitu terus gue menteror si papi tiada
henti seharian bikin dia senewen, tapi mau gimana lagi… aku Mami-nya
Sonia … dan aku saat berangkat tadi bisa melihat matanya memancarkan
rasa sakit yang amat sangat. Walau mulutnya gak mau bilang (mungkin dia
gak mau merusak hari piknik-ku dgn adiknya), but I can see the pain in
her eyes :-(
Jam 18.30 akhirnya aku, Gabe dan rombongan sekolahnya sudah balik ke
Jakarta. Papi & Sonia ikut menjemput langsung ke At-Taufiq setelah
balik dari Dr. Tarto. Papi bilang hasil Lab. Sonia bagus, gak ada virus
atau infeksi dalam darah. Menurut dokter mungkin ada masalah dengan
pencernaannya, tapi akan baik bila dikasih obat. Ya udah, Nia dapat
obat baru dan aku-pun rada tenang.


Tapi
sampai keesokan harinya keadaan tidak kunjung membaik. Perut Sonia
makin membesar, badannya makin lemas & cenderung dehidrasi. Maka
malam itu juga langsung aku bawa ke rumah Dokter Yafrie (dokter anak
langganan Sonia) yg biasa praktek di Bunda. Dia langsung ngasih surat
rujukan supaya Sonia dirawat di RS. Bunda. Tengah malam itu juga (26
Nov ‘06) kami bawa Sonia ke Bunda dan dia langsung masuk kamar rawat
inap, langsung di-opname.
Maka hari demi hari di Rumah Sakit-pun dimulailah untukku ………

Sehari…
dua hari … tiga hari berlalu di RS. Bunda, namun Sonia tidak
memperlihatkan kemajuan yang signifikan. Sempat membaik di hari
ke-empat, lalu namun drop lagi bahkan dia udah lemas total. Para Dokter
di Bunda bisanya cuma ngasih obat … meriksa darah dia tiada henti …
mompa perutnya … ronsen perutnya … USG abdomennya … TAPI HASILNYA
NOTHING. Kupikir brengsek banget ini Rumah Sakit, kok memperlakukan
anakku seperti bahan percobaan aja, tapi sama sekali tidak memberikan
resume akhir yang bener-bener jelas.

Akhirnya
di Hari Sabtu / 2 Dec ‘06 kemarahanku sudah pada puncaknya karena Sonia
mulai mengeluarkan feces darah segar tiada henti, begitu pula
urine-nya. Hasil Rapat Keluarga besar Sain-pun akhirnya memutuskan
Sonia harus dipindahkan ke RSCM karena disana lebih banyak Dokter Ahli
atau para pakar yang bisa mengerti permasalahannya. Dan Dr. Yafrie
Razak begitu melihat Sonia kondisinya sudah parah gitu baru mau berkata
"menyerah" dan
menyatakan bahwa ini sudah harus di-handle oleh ahlinya yaitu seorang
Dokter pakar GASTROLOGI anak dan dia memberi sebuah nama Dr. Pramita.
G. dan beliau cuma praktek di RSCM & RS. MH Thamrin Int’L.

Seandainya saat itu ada pistol… gue yakin kepala si Dokter Yafrie sialan itu bakalan gue pecahhin.  Goddamn you dokter !!!
Look what you’ve done to my baby girL !! gara2 EGO loe yg nggak mau
mengakui bahwa loe nggak sanggup nyembuhin anak gue, Sonia harus
menanggung semua derita ini… Jangan harap aku bakalan bawa anak-anakku lagi ke elo atau ke RS. Bunda sialan ini…….. 

Siang
itu juga… 2 Dec 2006 … Sonia kami angkut dengan Ambulance RS. Bunda
menuju RSCM. Aku ditemani papi, Uni Tien dan Kak Boy. Dan sesampainya
di RSCM ternyata masalah belum berakhir. Kamar Paviliun Rawat Inap Anak
ternyata penuh total. Pasien yang diprediksi akan pulang siang itu
ternyata bataL pulang. Sonia ditawarin kamar Bangsal (what the f**k ??)
dan disana dia tidak bisa ditangani oleh Dokter ahLi, cukup Dokter anak
biasa.

Cukup tawar menawarnya… emosi gue meledak #1 gue bilang yang gue butuhin adalah DR. Pramita !!! titik.. gak boleh ada dokter lain yang menangani Sonia.  Lalu aku putuskan untuk membawa Sonia ke RS. MH Thamrin Int’L, karena Dr. Pramita praktek disana juga.

Si
Dokter jaga brengsek di Ruang ICU RSCM lalu nggak mau memaksakan lebih
lanjut. Tapi dia sempat-sempatnya ngebikin catatan medical record Sonia
disaat genting itu. Nanya-nanya riwayat kesehatannya sejak lahir (???)
seolah-olah dia adalah dokter yg aku tunjuk untuk nge-handle Sonia. 15
menit pertama aku ladenin, namun ketika waktu mulai merayap mendekati 1
jam… dan Sonia mulai mengerang-erang kepanasan (Rumah SAkit apa sihh RSCM ini ?? kok ruang ICU bisa-bisanya gak ada AC dan sepanas tungku aja ??!)  kemarahan gue #2 MULAI MELEDAK !!!  Kali ini sopan santun yang diajarin orang tua dan para guru selama puluhan tahun ‘terpaksa’ gue tanggaLkan.
Gue
benar-benar MARAH BESARRRR !! Can U imajine, gue yg biasanya menyimpan
amarah dalam hati gue sendiri … kali ini meledakkannya di Ruang ICU
RSCM keparat itu ?? Gue bentak-bentak abis2an si Dokter jaga perempuan
itu. That b*tch masih berusaha membela diri dengan mengatakan ini proses untuk membuat surat pengantar namun gue bantah
"ngapain anda bikin surat pengantar lagi ?? RS. Bunda sudah
menyediakan… LANGSUNG ditujukan ke Dr. Pramitha. Kapasitas anda
sebagai apa bikin Surat pengantar ? anda itu cuma dokter jaga !! Dokter
umum !! bukan spesialis apalagi pakar Gastrology !!"

Lalu
that b*tch bilang… 5 menit aja BU… 5 menit… saya selesaikan semua
surat-suratnya. Namun sampai hampir 10 menit dia masih juga
ngebuka-buka semua photo2 rontgen… USG dan blood test Sonia entah
untuk apa. Ranjang dorong Sonia langsung gue tarik menuju ambulance RS.
Bunda yg emang udah aku suruh stand-by di luar dan Suster Bunda yg
mendampingi kami aku suruh ambil Semua medical record Sonia yg lagi
dibaca-baca oleh Dokter jaga terkutuk itu :-(   Baru kemudian ngeliat Sonia sudah nggak ada dia menyerahkan semua medical record + kwitansi Administrasi Rp. 50.000,- %%$#@!

Jadi… nyaris sejam dia menahan Sonia disini hanya demi selembar kwitansi Rp. 50.000,- ???
For God Sake … banyak sekali usaha pembunuhan yang terlintas didalam kepala-ku sepanjang hari Sabtu ini.

(Finally) ambulance
meraung-raung menebas kemacetan di Salemba dan menuju RS. MH Thamrin
Int’L yg posisinya tepat diseberang RSCM (Jl. Salemba Tengah). Sebodo
teuing Pak Sopir ambulance sampai harus menebas puteran balik yg
verbodden didepan Culture Centre Francais… yang penting Kakak harus
mendapat tindakan medik segera !!
Gak
sampai 10 menit akhirnya kami sampai di RS. Thamrin. Sempat bersitegang
sebentar dengan dokter jaga ICU yg menawarkan dokter anak lain dengan
alasan "DR. Pramita jarang kesini dan susah sekali kalau dihubungi
karena beliau sangat sibuk."
Oh Sh1t ??? what’s wrong with everybody ?? why everybody makes everything so difficult ??
Aku sampai histeris dan bilang ke dia "saya TIDAK PERDULI !!! yang saya
butuhkan pakar Gastrology… dan HANYA Dr. Pramita yang di-recommend
oleh para dokter Spesialias anak. Apa itu susah dicerna buat anda ???
*illustrasi berikut kira2 menggambarkan wajah gw saat itu.. ) :-P    

Sang
Dokter jaga akhirnya gak brenti-brenti nge-redial no. HP Dokter Pramita
demi mendapat konfirmasi. Akhirnya setelah nyaris 15 menit baru-lah
Sang Dokter bisa dihubungi dan mengatakan "YA… Sonia pasien Pribadi
saya, jangan ke Dokter lain…"

Baru deh semua manusia-manusia
di Ruang ICU bergerak memberikan tindakan. Mula-mula dimasukkan selang
NGT kedalam lambung Sonia via lubang hidung (and it’s hurting me soo bad to see her shock !!).
Lalu aku harus menunggu detik-detik yang menegangkan didalam R. ICU dan
menunggu Sonia mendapat kamar rawat inap. Air mata mulai nggak bisa
diajak kompromi lagi untuk berhenti, namun bagaimana-pun juga Aku NGGAK BOLEH menangis
didepan Sonia. Lalu Sonia akhirnya dibawa ke R. 718 tempat rawat inap
anak. Aku lega akhirnya Sonia bisa tertangani dengan baik.
Lalu
sorenya tamu-tamu mulai berdatangan mem-bezoek putri cantik-ku. Ada Bu
Ida dan Bu Rita (wali kelas Sonia)… ada Nerissa dan papa-nya … ada
Quint dan mama-papanya… Keluarga Sain … malamnya datang Ais
(sahabat Sonia di sekolah) & mama-papanya. Baru deh menjelang pukul
21.00 keadaan mulai sepi dan aku serta Sonia bisa beristirahat. Lalu
Dr. Pramita datang (hey… it’s kinda suprise to see her. She’s so
Young !! I though she’s an oLd Lady :-)
ternyata seorang dokter muda berusia akhir 30-an yang sangat cerdas).
Dokter Mita langsung menyatakan bahwa Sonia akan menghadapi
step-by-step pengobatan karena memang kondisinya sudah terlanjur
Infeksi lumayan parah. Namun dengan diberikan obat-obatan yang tepat
insya Allah Nia akan bisa sembuh. Aku bersyukur banget akhirnya anakku
bisa tertangani dengan baik dan sudah mulai bisa beristirahat tanpa
merasa sakit. Aku seneeng banget.

BUT … ternyata this is NOT over YET … It’s just a beginning bagi penderitaan lebih lanjut bagiku dan keluargaku….  Between D.O.A  (Death or Alive)  :-(



( To Be Continued : BERDAMAI DENGAN TUHAN….. )