‘BERDAMAI’ DENGAN TUHAN…

Day-2 @ RS. MHT Int’l.
Minggu / 3 Dec 2006

Dari pagi sampai siang aku hanya menemani Sonia aja di R. 718. Para suster gak brenti ngambil contoh darah Sonia, melakukan tes alergi antibiotik… nge-USG … lalu nge-rontgent.
Aku berusaha tabah dan terus menemani kemana-pun dia dibawa. Tujuan gue cuma satu : supaya dia tidak merasa sendirian.

Sore… jam 15.00 Keluarga Ragunan datang mem-bezoek Sonia. Dan ada agenda lain yaitu "Rapat Keluarga" antara Aku & Papi dengan Kak Luki & Uni Willy. Saat Rapat dimulai (di Ruang tamu R. Rawat Inap Lt. 7), Sonia ditemenin Kak Naufal, Kak Ira dan Sabilla biar dia merasa nyaman dikelilingi saudara-saudaranya. Dan ditengah-tengah obrolan kami ber-empat tiba-tiba aku dipanggil oleh Dokter Anak yang in-charge dilantai 7. Dia bilang atas perintah DR. Pramita Sonia harus dipindahkan saat itu juga ke ruang PICU (Pediatric-ICU). Aku langsung shock luar biasa, sebab kupikir kondisi Sonia bisa tertangani di kamar rawat-inap biasa.
Lalu sang dokter menjelaskan bahwa hasil USG dan rontgent Sonia tadi pagi menunjukkan tanda yang kurang menggembirakan, bahkan cenderung agak mengkhawatirkan. Pertahanan diri-ku pun mulai goyah. Aku langsung nangis tersedu-sedu dipelukan Uni Willy. Sebab yang kutau bila seseorang masuk ICU, itu sudah merupakan ‘Tanda Bahaya’.

Uni berusaha menenangkan aku dengan menyatakan bahwa masuk ICU kondisi Sonia malahan jauh lebih bisa terdeteksi dan mudah-mudahan proses pengobatannya bisa dipercepat.
AKu sudah nggak bisa mikir apa-apa lagi… aku sibuk mendampingi Sonia yang siap-siap dipindahin ke R. PICU, lalu urusan administrasi diurus oleh Kak Luki & Papi.
Maka Sonia-pun diantar ke R. PICU. Aku…. hanya bisa menanti dibalik pintu kaca yang terkunci rapat… karena aturannya jelas : pasien anak di R. PICU tidak boleh didampingi orang tuanya biar mereka dirawat secara intensif oleh 1 orang suster khusus.

Resah bukan kepalang yang namanya harus menanti di Ruang Tunggu PICU bersama beberapa orang tua anak-anak lainnya. Wajah-wajah sedih & tegang dimana-mana. Walau aku didampingi Uni, Kakak & adik-adik-ku… tetap aja hatiku resah bukan kepalang karena tidak bisa lagi bebas melihat Sonia.

Menjelang malam DR. Mita datang dan kembali mengulang statement si Dokter Anak di Lt. 7 tadi. Dia bilang "I’m not happy about Sonia’s condition. There’s something wrong in her tummy, and I wanna know the resuLts immediatelly. Dan hanya dengan cara masuk PICU-lah semua itu bisa terdeteksi." AKu mulai menerima kenyataan itu dan berusaha tabah walau dalam hati hancur bukan main. Malam mulai merayap datang dan orang-orang mulai pulang kerumah masing-masing meninggalkanku berdua dengan si Papi. Sebelum pulang Kak Luki sempat berpesan "Piek… jangan lupa berdoa & sholatnya yha. "
Namun aku cuma mengangguk saja dan tidak berusaha menjalankan pesan kakak-ku itu …. :-(
Maka malam itu dimulailah "petualangan pertama-ku" tidur di Ruang Tamu PICU… ngegelar kasur lipat bo! dilantai yg dingin… karena guess room yg tersedia di RS sudah habis di-booking.

Day-3 @ RS. MHT

Senin / 4 Dec 2006

paginya Dokter Mita sudah datang dan langsung menyampaikan kabar buruk pertama untukku : Sonia harus segera di-operasi karena hasil rontgent menunjukkan penampakkan yang tidak menggembirakan serta membuat was-was. USG juga begitu, para dokter bisa ‘membaui’ adanya bahaya… namun mereka tidak jelas itu apa. Lalu dia merekomendasikan Prof. ALi Umar (one of RSPP Director) sebagai Tim Dokter bedah dan seorang Dokter Anastesi.
AKu sudah tidak sempat shock lagi, yang ada hanya kekhawatiran "bagaimana peluang Sonia" ??
Dr. Mita gak berani berspekulasi… Dia cuma bisa bilang bahwa Sonia dibawa ke RS. MHT sudah dalam kondisi terinfeksi sangat parah … akibat salah penanganan. Walau dia tidak menyatakan secara eksplisit, aku tau yg dia maksud adalah RS. Bunda (God Dammed you RS Bunda !!!! ) :-(
Sore hari Prof. Ali Umar datang dan meminta persetujuanku agar Sonia di CT-Scan segera. Biar dia tau pasti di titik mana harus mengoperasi bagian perut Sonia. Aku sudah gelap mata & gak mau mikirin biaya lagi … yang penting Sonia sembuh !!! Langsung aku ttd surat persetujuan CT-Scan yang harganya lumayan bikin ‘ngiLu’ itu … Belum lagi aku harus deposit uang operasi Sonia sebesar 11 juta (sebagai permulaan ??!!). Seluruh keluarga turun tangan, especially K’Luki & Uni Will. Mereka berpesan khusus bahwa aku nggak boleh mikirin biaya, yang penting Sonia ditangani duLu dengan benar. Sekarang tugas-ku sebagai Ibu hanya mendampingi dan memikirkan pulih-nya Sonia dulu.

Di akhir sesi dengan Prof. Ali, beliau menyampaikan pesan padaku "Ibu… sekarang kondisi Sonia 50-50. Dia bisa selamat… bisa juga Tidak. Sekarang yg penting kita sebagai Dokter berikhtiar & berusaha. Ibu sebagai orang tua tugasnya hanya berdoa. Doakan putri ibu supaya selamat. Sebab insya Allah hanya doa Ibu yang bisa sampai manfaatnya untuk Sonia…"

Usai pembicaraan aku cuma bisa menangis habis-habisan. Hatiku hancuuur sekali membayangkan kemungkinan anakku selamat 50:50. Baru deh aku teringat pesan Prof. Ali tadi "doa Ibu". Lalu Dr. Mita yang datang malam itu juga menyatakan haL yang persis sama dengan ucapan Prof. ALi. Sonia harus di operasi karena di CT-Scan terlihat jelas ada ‘ledakan’ di usus-nya, entah itu usus buntu atau penyakit lainnya. "jangan lupa doa ya Mami-nya supaya operasi berhasil" pesan dokter Mita.

Malam itu … untuk pertama kalinya setelah 6 tahun … gue sholat (lagi). Terakhir gue sholat (beneran) dan berasal dari hati sendiri sudah bertahun-tahun lalu. Apalagi sholat-nya sambil nangis dan bener-bener keluar doa yang berasal dari hati paling dalam….

Entah kenapa gue selama 8 tahun terakhir ini tidak ingin ‘berdamai’ dengan Sang Khalik. Entah apa yang membuat gue sedemikian ‘marah’ dan tidak mau mengakui keberadaan-NYA. Hingga semua sobat dan teman-teman taunya aku tuh orang yang tidak ber-Tuhan a.k.a Atheis. :-o
Aku ngerasa Tuhan sudah tidak memperlakukanku dengan adil … tidak mau mengabulkan permintaan-permintaan atau doa’ku. Dan kenapa DIA mengambil semua hal berarti dalam hidup-ku. :-(

Tapi malam ini…. aku menyadari aku itu tidak ada apa-apanya. AKu nggak berhak marah pada-NYA. Aku nggak berhak complain pada-NYA karena tokh pada kenyataannya aku aja jarang meminta apalagi bersujud kepada-NYA, gimana DIA mau mengabulkan permintaan-ku ??
Malam ini aku sholat lagi dan meminta kepada-NYA. Allah

Aku nggak tau apa sholatku bisa dianggap sah apa tidak karena sepanjang sholat aku nangis nggak karu-karuan … aku berdoa sambil menangis sejadi-jadinya. Anak-ku adalah HAL TERPENTING dalam hidupku. AKu nggak tau apakah bisa melanjutkan hidup bila tanpa keberadaan anak-anakku.
Aku berdamai dengan Tuhan malam ini. Aku serasa kembali ke masa belasan tahun yang lalu , saat aku masih Percaya Adanya Tuhan … saat aku masih percaya bahwa yang bisa menolongku hanyalah Tuhan… Apakah ini yang namanya Blessing Indisguise ?? dibalik sebuah penderitaan akan muncuL sebuah kesadaran yang selama ini terkubur rapat di dalam Hati-ku ?? :-) Ya Allah ya Robbi … please don’t take away my baby for me. Please forgive all my sins. Bila ini cara-MU untuk menegurku … bila ini cara-MU menyampaikan pesan kangen akan sembah sujudku… aku mohon ampun & tolong hentikan segala penderitaan Sonia….

Day-4 @ RS. MHT

Selasa / 5 Dec 2006

Today s Operation Day !!! Kondisi Sonia masih tetap 50:50 … tetapi Tim Dokter tetap harus mengoperasi dia malam ini, apapun yang terjadi :-( karena bila menunggu lebih lama lagi, takutnya pertahanan diri Sonia akan habis. Aku harus menebus obat yang Naudzubillah Min Dzalik mahalnya 8-O 14,3 juta dan harus ditebus 3x berturut-turut !!! (Diluar biaya operasi, tindakan dokter dan kamar PICU). But, Seperti pesan Uni-Uniku… aku nggak usah mikirin biaya duLU. Tebus saja, yang penting Sonia bisa "terpagari" tubuhnya dari segala infeksi.
Jam 19.00 WIB seharusnya waktu untuk operasi, namun Prof. Ali menunda sampai jam 20.00 WIB untuk melihat kesiapan fisik & psikist Sonia.

Seluruh keluarga besar Sain sudah berkumpul mendampingiku. Operasi berlangsung di Lt. 3 dan menurut Prof. Ali akan berlangsung sekitar 2 - 2.5 jam saja. Untuk menghilangkan ketegangan, kami semua makan malam di Cafe depan RS. MH Thamrin. Selesai makan malam sekitar 1.5 jam kemudian kami kembali ke R. Tunggu OR.
2 jam …. 3 jam … 4 jam berlalu… namun tidak ada tanda-tanda Tim Dokter muncuL. AKu mulai resah … mual… menangis diam-diam… dan tertekan.. Seumur hidupku belum pernah aku sedepresi ini. Betapa aku merasa kesepian disekeliling seluruh Anggota Keluargaku yang menemani. Yang terbayang dimataku hanya senyum Sonia… suara ketawa-nya yang heboh & meledak-ledak itu (aku skaleee…) … matanya yang bersinar-sinar itu (yang sudah 10 hari ini tidak pernah kulihat lagi ada di mata-nya). Aku cuma bisa dzikir tiada henti … berdoa tiada henti … demi keselamatan anakku. Dan meminta agar mukjizat-Nya bisa diturunkan ke Sonia malam ini.

Tepat pukul 02.00 malam kurang 10 menit Prof. Ali muncul memanggil-ku dan menanyakan "apakah Ibu siap melihatnya ??" Aku deg-degan berats … siapa melihat apa ??
Lalu Prof. Ali memperlihatkan SEBASKOM USUS yang masih merah kepadaku dan belia berkata "ini usus besar anak Ibu… terpaksa saya angkat semua karena tidak ada yg bisa diselamatkan lagi. Kondisinya sudah hancur … bolong-bolong setiap 5 cm .. dan sebagian menghitam & berbau busuk." Astaghfirullah!!!!!!!!!
Colon

Aku shock berat melihat semua itu.

Shock berat karena ternyata … selama ini… gadis kecil-ku menyimpan ‘bom waktu’ didalam perutnya … dan dia sama sekali tidak pernah mengeluh atau cengeng padaku (atau pernah ?? tapi aku yg terlalu sibuk untuk perduli ?? :-( …. ) Lalu Prof. ALi menyampaikan pula bahwa untuk sementara waktu Sonia akan dibuat lubang di perutnya dan saluran pembuangan pup-nya akan keluar lewat situ. Paling tidak sampai 4 bulan kedepan… hingga kondisinya siap lagi untuk operasi ke-2 untuk menyambung usus besar yang tersisa 40 cm dengan saluran usus pembuangannya.
Aku bener-bener speechless… aku hanya bisa menangis dipelukan Kak Boy. Aku sama sekali tidak menyangka Sonia menderita sakit sedemikian parah dan (menurut Prof.) kasus ini sangat langka. Dia menyuruhku tetap berdoa kepada Allah atas mukjizat bahwa Sonia masih mampu bertahan hidup dengan kondisi separah itu.

Ketika Sonia dibawa dengan kereta dorong kembali ke kamar PICU ternyata dia sudah sadar. AKu buru-buru menghapus air mataku dan tersenyum pada dirinya karena kulihat dia langsung mencari-cari maminya dan matanya langsung menatap ke arahku. Dia berusaha memanggilku, namun mulutnya sedang diberi selang pernapasan langsung ke paru-paru. Walhasil suara yang keluar hanyalah suara grrookkk … groookkkkk… seperti kambing disembelih :-(

Colon3

Luluh sudah pertahanan diriku…. aku kembali nangis tersedu-sedu. Hatiku serasa diiris-iris melihat kondisi anakku yang kesakitan seperti itu. Bisa kulihat rasa sakit dan ketakutan terpancar dimatanya. Bisa kulihat ini adalah operasi besar. Bentuk irisan di perut Sonia seperti huruf T terbalik dan lumayan panjang. My poor babY… Ingin sekali aku menukar tempat dengan dirinya … :-(

Malam itu setelah semua saudara-saudaraku pulang dan menenangkan diriku yang lumayan histeris… kembali aku duduk sendirian di Musholla… kembali berdamai dengan Tuhan (mudah-mudahan untuk selamanya :-) … ) dan meminta kepada-Nya agar Sonia selalu diberi kekuatan dan ketabahan untuk dapat menahan segala rasa sakitnya. Kembali aku memohon ampunan-Nya bila ini adalah "sentilan" buatku bila selama ini aku mengabaikan keberadaan-Nya. Dan aku cuma bisa berjanji bahwa aku nggak akan pernah melupakan-Nya lagi. Ibarat orang lagi berantem … aku sekarang ngajakin DIA baikkan dan duluan mengangsurkan jari kelingking-ku pada-Nya. Please God, give my baby giRL strength to heal the pain.


I wish that I could turn back the clock…

Bring the wheels of time to a stop…

Back to the day…

When Life is so much better ….

Love you chantiques …. always & forever…

Niamami

Leave a Reply