Between D.O.A
Semua
berawal 3 pekan yang lalu… saat itu Sabtu, tanggal 25 November. Sonia
sudah 4 hari panas lumayan tinggi, perut kembung dan dia bilang
perutnya perih minta ampun. Gue pikir sakit maagh biasa. Memang sih
sudah sebulan ini dia mengeluh sakit perut terus. (Damn Me!! betapa aku
Ibu yang buruk… :-(
) aku pikir dia sakit maagh biasa maka aku kasih obat sakit perut dari
Klinik MPR. Tapi lama kelamaan dia kok merasa lemas… nggak mau
makan… nggak mau ke kamar mandi. Pokoknya lemah, maunya tiduran
diranjang all day long .
Hari
itu aku harus menemani Gabe ke Taman Safari, acara Piknik bersama
teman-temannya 1 sekolahan. Walau berangkat dengan muka ceria tapi gak
bisa bohong hati gue tetap was-was dan tertambat ke Sonia. My baby
girL’s sick and needs help immediatelly. Semua literature tanda-tanda
aneka penyakit udah aku selusuri di Google, namun hasilnya malahan,
macem-macem e.g Gejala Flu burung … gagaL ginjaL … bahkan yang lagi
trend : Chikungunya.
Walhasil sambil berangkat bersama Gabe aku sambil
gak brenti menteror si Papi : harus ke Lab. Klinik Prodia hari ini juga
untuk periksa darah … hasil test keluar siang langsung bawa ke Dokter
Tarto untuk dilihat hasilnya. Begitu terus gue menteror si papi tiada
henti seharian bikin dia senewen, tapi mau gimana lagi… aku Mami-nya
Sonia … dan aku saat berangkat tadi bisa melihat matanya memancarkan
rasa sakit yang amat sangat. Walau mulutnya gak mau bilang (mungkin dia
gak mau merusak hari piknik-ku dgn adiknya), but I can see the pain in
her eyes
Jam 18.30 akhirnya aku, Gabe dan rombongan sekolahnya sudah balik ke
Jakarta. Papi & Sonia ikut menjemput langsung ke At-Taufiq setelah
balik dari Dr. Tarto. Papi bilang hasil Lab. Sonia bagus, gak ada virus
atau infeksi dalam darah. Menurut dokter mungkin ada masalah dengan
pencernaannya, tapi akan baik bila dikasih obat. Ya udah, Nia dapat
obat baru dan aku-pun rada tenang.
Tapi
sampai keesokan harinya keadaan tidak kunjung membaik. Perut Sonia
makin membesar, badannya makin lemas & cenderung dehidrasi. Maka
malam itu juga langsung aku bawa ke rumah Dokter Yafrie (dokter anak
langganan Sonia) yg biasa praktek di Bunda. Dia langsung ngasih surat
rujukan supaya Sonia dirawat di RS. Bunda. Tengah malam itu juga (26
Nov ‘06) kami bawa Sonia ke Bunda dan dia langsung masuk kamar rawat
inap, langsung di-opname.
Maka hari demi hari di Rumah Sakit-pun dimulailah untukku ………
Sehari…
dua hari … tiga hari berlalu di RS. Bunda, namun Sonia tidak
memperlihatkan kemajuan yang signifikan. Sempat membaik di hari
ke-empat, lalu namun drop lagi bahkan dia udah lemas total. Para Dokter
di Bunda bisanya cuma ngasih obat … meriksa darah dia tiada henti …
mompa perutnya … ronsen perutnya … USG abdomennya … TAPI HASILNYA
NOTHING. Kupikir brengsek banget ini Rumah Sakit, kok memperlakukan
anakku seperti bahan percobaan aja, tapi sama sekali tidak memberikan
resume akhir yang bener-bener jelas.
Akhirnya
di Hari Sabtu / 2 Dec ‘06 kemarahanku sudah pada puncaknya karena Sonia
mulai mengeluarkan feces darah segar tiada henti, begitu pula
urine-nya. Hasil Rapat Keluarga besar Sain-pun akhirnya memutuskan
Sonia harus dipindahkan ke RSCM karena disana lebih banyak Dokter Ahli
atau para pakar yang bisa mengerti permasalahannya. Dan Dr. Yafrie
Razak begitu melihat Sonia kondisinya sudah parah gitu baru mau berkata
"menyerah" dan
menyatakan bahwa ini sudah harus di-handle oleh ahlinya yaitu seorang
Dokter pakar GASTROLOGI anak dan dia memberi sebuah nama Dr. Pramita.
G. dan beliau cuma praktek di RSCM & RS. MH Thamrin Int’L.
Seandainya saat itu ada pistol… gue yakin kepala si Dokter Yafrie sialan itu bakalan gue pecahhin. Goddamn you dokter !!!
Look what you’ve done to my baby girL !! gara2 EGO loe yg nggak mau
mengakui bahwa loe nggak sanggup nyembuhin anak gue, Sonia harus
menanggung semua derita ini… Jangan harap aku bakalan bawa anak-anakku lagi ke elo atau ke RS. Bunda sialan ini…….. 
Siang
itu juga… 2 Dec 2006 … Sonia kami angkut dengan Ambulance RS. Bunda
menuju RSCM. Aku ditemani papi, Uni Tien dan Kak Boy. Dan sesampainya
di RSCM ternyata masalah belum berakhir. Kamar Paviliun Rawat Inap Anak
ternyata penuh total. Pasien yang diprediksi akan pulang siang itu
ternyata bataL pulang. Sonia ditawarin kamar Bangsal (what the f**k ??)
dan disana dia tidak bisa ditangani oleh Dokter ahLi, cukup Dokter anak
biasa.
Cukup tawar menawarnya… emosi gue meledak #1 : gue bilang yang gue butuhin adalah DR. Pramita !!! titik.. gak boleh ada dokter lain yang menangani Sonia. Lalu aku putuskan untuk membawa Sonia ke RS. MH Thamrin Int’L, karena Dr. Pramita praktek disana juga.
Si
Dokter jaga brengsek di Ruang ICU RSCM lalu nggak mau memaksakan lebih
lanjut. Tapi dia sempat-sempatnya ngebikin catatan medical record Sonia
disaat genting itu. Nanya-nanya riwayat kesehatannya sejak lahir (???)
seolah-olah dia adalah dokter yg aku tunjuk untuk nge-handle Sonia. 15
menit pertama aku ladenin, namun ketika waktu mulai merayap mendekati 1
jam… dan Sonia mulai mengerang-erang kepanasan (Rumah SAkit apa sihh RSCM ini ?? kok ruang ICU bisa-bisanya gak ada AC dan sepanas tungku aja ??!) kemarahan gue #2 MULAI MELEDAK !!! Kali ini sopan santun yang diajarin orang tua dan para guru selama puluhan tahun ‘terpaksa’ gue tanggaLkan. Gue
benar-benar MARAH BESARRRR !! Can U imajine, gue yg biasanya menyimpan
amarah dalam hati gue sendiri … kali ini meledakkannya di Ruang ICU
RSCM keparat itu ?? Gue bentak-bentak abis2an si Dokter jaga perempuan
itu. That b*tch masih berusaha membela diri dengan mengatakan ini proses untuk membuat surat pengantar namun gue bantah
"ngapain anda bikin surat pengantar lagi ?? RS. Bunda sudah
menyediakan… LANGSUNG ditujukan ke Dr. Pramitha. Kapasitas anda
sebagai apa bikin Surat pengantar ? anda itu cuma dokter jaga !! Dokter
umum !! bukan spesialis apalagi pakar Gastrology !!"
Lalu
that b*tch bilang… 5 menit aja BU… 5 menit… saya selesaikan semua
surat-suratnya. Namun sampai hampir 10 menit dia masih juga
ngebuka-buka semua photo2 rontgen… USG dan blood test Sonia entah
untuk apa. Ranjang dorong Sonia langsung gue tarik menuju ambulance RS.
Bunda yg emang udah aku suruh stand-by di luar dan Suster Bunda yg
mendampingi kami aku suruh ambil Semua medical record Sonia yg lagi
dibaca-baca oleh Dokter jaga terkutuk itu :-( Baru kemudian ngeliat Sonia sudah nggak ada dia menyerahkan semua medical record + kwitansi Administrasi Rp. 50.000,- %%$#@!
Jadi… nyaris sejam dia menahan Sonia disini hanya demi selembar kwitansi Rp. 50.000,- ???
For God Sake … banyak sekali usaha pembunuhan yang terlintas didalam kepala-ku sepanjang hari Sabtu ini.
(Finally) ambulance
meraung-raung menebas kemacetan di Salemba dan menuju RS. MH Thamrin
Int’L yg posisinya tepat diseberang RSCM (Jl. Salemba Tengah). Sebodo
teuing Pak Sopir ambulance sampai harus menebas puteran balik yg
verbodden didepan Culture Centre Francais… yang penting Kakak harus
mendapat tindakan medik segera !!
Gak
sampai 10 menit akhirnya kami sampai di RS. Thamrin. Sempat bersitegang
sebentar dengan dokter jaga ICU yg menawarkan dokter anak lain dengan
alasan "DR. Pramita jarang kesini dan susah sekali kalau dihubungi
karena beliau sangat sibuk."
Oh Sh1t ??? what’s wrong with everybody ?? why everybody makes everything so difficult ??
Aku sampai histeris dan bilang ke dia "saya TIDAK PERDULI !!! yang saya
butuhkan pakar Gastrology… dan HANYA Dr. Pramita yang di-recommend
oleh para dokter Spesialias anak. Apa itu susah dicerna buat anda ???
*illustrasi berikut kira2 menggambarkan wajah gw saat itu.. )

Sang
Dokter jaga akhirnya gak brenti-brenti nge-redial no. HP Dokter Pramita
demi mendapat konfirmasi. Akhirnya setelah nyaris 15 menit baru-lah
Sang Dokter bisa dihubungi dan mengatakan "YA… Sonia pasien Pribadi
saya, jangan ke Dokter lain…"
Baru deh semua manusia-manusia
di Ruang ICU bergerak memberikan tindakan. Mula-mula dimasukkan selang
NGT kedalam lambung Sonia via lubang hidung (and it’s hurting me soo bad to see her shock !!).
Lalu aku harus menunggu detik-detik yang menegangkan didalam R. ICU dan
menunggu Sonia mendapat kamar rawat inap. Air mata mulai nggak bisa
diajak kompromi lagi untuk berhenti, namun bagaimana-pun juga Aku NGGAK BOLEH menangis
didepan Sonia. Lalu Sonia akhirnya dibawa ke R. 718 tempat rawat inap
anak. Aku lega akhirnya Sonia bisa tertangani dengan baik.
Lalu
sorenya tamu-tamu mulai berdatangan mem-bezoek putri cantik-ku. Ada Bu
Ida dan Bu Rita (wali kelas Sonia)… ada Nerissa dan papa-nya … ada
Quint dan mama-papanya… Keluarga Sain … malamnya datang Ais
(sahabat Sonia di sekolah) & mama-papanya. Baru deh menjelang pukul
21.00 keadaan mulai sepi dan aku serta Sonia bisa beristirahat. Lalu
Dr. Pramita datang (hey… it’s kinda suprise to see her. She’s so
Young !! I though she’s an oLd Lady
ternyata seorang dokter muda berusia akhir 30-an yang sangat cerdas).
Dokter Mita langsung menyatakan bahwa Sonia akan menghadapi
step-by-step pengobatan karena memang kondisinya sudah terlanjur
Infeksi lumayan parah. Namun dengan diberikan obat-obatan yang tepat
insya Allah Nia akan bisa sembuh. Aku bersyukur banget akhirnya anakku
bisa tertangani dengan baik dan sudah mulai bisa beristirahat tanpa
merasa sakit. Aku seneeng banget.
BUT … ternyata this is NOT over YET … It’s just a beginning bagi penderitaan lebih lanjut bagiku dan keluargaku…. Between D.O.A (Death or Alive)

December 14th, 2006 at 2:25 am
Mak, gimana kabar Kakak? Udah baekan belom? Gue doain deh biar semuanya bisa kembali sehat spt sedia kala, dan elo sama papanya Kakak bisa tabah dan kuat dalam menghadapi cobaan…
Wishing you the best, mak! Luv ya!