Poligami … Tua-tua keladi … dan pembenaran diri…

Polygamy2

Sumpe gue nyaris nggak perduli sama hal yang satu ini, bukan berarti karena aku cuek, insensitive dll… etc… melainkan karena aku memang memilih untuk TIDAK MAU TAU. Walau dalam hati sih aku bentji setengah mati sama topik yang satu ini.. apalagi pelaku aktiv-nya. Huhh !!

Orang-orang pada menghujat dan mengutuk AA’ Gym … aku sendiri ??? dikantor kelihatannya aja aku adem-ayem dan cuek bebek saat segerombolam manusia (yg berjenis kelamin wanita tentunya …) rame-rame membenci si AA’ dan bersumpah gak bakalan sudi ikut pengajiannya lagi. Walhasil seorang sobat dikantor (sebut aja bernama si @ ) nanya ke aku “Mil.. elo kok tenang-tenang aja sih mengenai kabar poligaminya Aa’ Gym atau Pak Zaenal Maarif (salah seorang Wakil Ketua DPR-RI) itu.” Aku jawab aja “lha ngapain gue ikut-ikutan heboh sampai berbusa, apa mereka bakalan merubah keadaan ? cukup kalian aja para cewek yang menilai (apa manusia yang nggak bisa menjaga syahwat-nya sendiri tapi didepan TV berkoar-koar tentang keluarga Sakinah… mawardah… warohmah… ) patut dijadikan Tauladan ?? I don’t think so …. Puke_1

Masih ada seabrek Kyai dan Ustadz lainnya dibumi Indonesia ini kok Yang punya prinsip “Cintai satu istri”. Kenapa harus terpaku pada seorang aa’ Gym aja ? jelas-jelas dia nggak bisa menjaga perasaan istrinya (yg udah beranak 7 itu), eehhh setelah sang istri layu langsung nikah lagi sama Janda beranak 3 yang masih “kinyis-kinyis” . Kalo si Aa’ Gym itu ustadz beneran (dan ingin menjadi pengikut Rasul yg setia) tentunya yang akan dia jadikan istri ke-2 … ke-3… ke-4 … dan seterusnya nanti adalah para janda miskin… jelek … beranak banyak… dan teraniaya. hahahaa…. simple as that ! Dan gue gak sudi berguru sama manusia yang nggak bisa menjaga hal mendasar tersebut.

Dan yang menyedihkan, para lelaki pelaku aktif Poligami itu semuanya punya pembelaan yang sama : “dihalalkan oleh agama”… “Quran gak ngelarang kok … buktinya ada di QS-Al MAidah ayat 87″ … yang melarang poligami berarti menghalalkan perselingkuhan & zinah (What the **** ???) Jadi daripada gue buang-buang energi ngebahas sesuatu yang tak akan ada ujungnya (karena satu dan lainnya merasa dirinya paling benar dan paling didukung oleh Tuhan … ) mendingan gue mikirin usus anak gue yang bakalan disambung & di-reposisi sama Dokternya awal bulan April nanti . Grin

Nahhh… (konyolnya) ternyata gue emang ditakdirkan gak boleh tinggal diam mengenai masalah Poligami ini. Senin lalu sobat bernama si @ itu tiba-tiba mendekati gue di Lobby kantor dan bercerita dengan penuh emosi jiwa “mak… ada yg mau gue omongin nihh. Tapi loe harus sumpe gak akan menceritakan pada siapapun.” Namanya juga penasaran gue langsung mengiyakan aja… soal janji itu urusan belakangan … (* nggak denk… gue adalah ‘waste disposal’ yang lumayan patut dipercaya kok dalam hal menjaga rahasia* ).

“ada apaan sih ? tegang amat ?” gue tanya

“masa Bokap gue mau kawin lagi mak !!”

Ibarat Kompor Meledug… aku langsung ‘menyiramkan’ aura kemarahan buat sobat tersebut. Gue bilang aja ” jeung… Bokap loe bukannya udah tua ? pensiunan PNS doank ? hidup pas-pasan ? tapi berani Poligami …. ”

* temen gue langsung Keringet dan bilang “makasih atas komentar jujur loe ttg Babe gue”

“Bukan gitu… maksud gue Bokap loe sadar diri kek dengan kondisi gitu berani-beraninya menduakan Nyokap loe yg udah puluhan tahun menemani dengan setia… in sickness and health … in poor or rich condition… apalagi nyokap loe baru keluar dari Rumah Sakit khan sejak dirawat lumayan lama beberapa bulan yang lalu ??”

“iya… gue rasa karena nyokap sudah gak bisa melayani Bokap seperti dulu dan gak kuat diajak pindah ke kota sebelah, ditambah dia harus nyari proyek disana, jadi dia butuh seseorang untuk mengurus dia selama bekerja di kota itu. Biar gak berujung zina maka dia pikir lebih baik dinikahin aja salah seorang wanita (janda tepatnya) disana untuk mengurus dia”.

Gue sambil nyengir bilang “whatta jerk !! semua lelaki yang ditugasin bekerja diluar kota oleh Perusahaannya kalo punya pola pikir kaya’ Babe loe yaa REPOTTss … manja amat, tugas diluar kota harus ada yg ngurusin & melayani. Terus mencari pembenaran untuk menikahi seorang janda dikota tersebut. Whatta jerk !!” belom puas ngomel-ngomel sampe mulut berbusa gue terusin lagi aksi ‘ngomporin’ sobat tersebut ” inget jeung… SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI IBU. Gak ada ceritanya berbakti pada Bapak menjadi prioritas utama anak2 muslim. Kalo Babe loe bener & sholeh sihh boleh kita berbakti sama dia sampe mati. Tapi ngebelain Bokap dalam urusan syahwat-nya dia ? gile benerrrr.” Blablabla

Sobatku si @ yang malang mengangguk setuju dengan muka sedih. Dia bilang “bokap egois banget sih. Pikirin gue kek… anak bungsunya yang masih ngejomblo sampai saat ini. Eeh, dia kok malahan mau kawin untuk yang ke-2 kalinya ‘menyalip’ gue. Kesel deh gue ama Bokap… ” So, walhasil hari itu berlalu diiringi emosi jiwa … perasaan terluka & kekecewaan oleh sobat tersebut.

Belum lagi di TV akhir-akhir ini muncul berita tentang seorang MC yang ngetop di-era baheula dulu yang kawin lagi setelah menceraikan istrinya yg telah menemani dengan setia sejak 30-an tahun yang lalu. Betapa dia dengan bangganya ’show off’ didepan TV setelah melakukan prosesi pernikahan lengkap ala Jawa… gak mau kalah kaya’ cucu-nya Eyang Soeharto (yang emang jelas-jelas masih berstatus bujangan). Gak sadar diri sama umurnya yang udah melewati setengah abad … mengabaikan perasaan ke-3 anaknya yang jelas-jelas merasa pedih & dikhianati. Bener-bener aksi paling memuakkan yang pernah gue lihat di layar infotainment. Lha wong nyadar kek sama umur … nyadar kek kelakuan loe ditonton jutaan pasang mata masyarakat Indonesia… Rambo

Poligami emang gak dilarang … tapi kalau hanya berujung menyakiti hati orang-orang terdekat yang selama ini sudah menemani kita, mbok yha jangan dilakukan. Apalagi hal itu bisa berdampak pada kondisi psikologis sang anak.

Gue bukan sekadar omong kosong. Gue udah melihat sendiri kondisi tersebut dikeluarga my hubby. Akibat lain poligami cuma memicu anak-anak untuk berbuat ‘dosa’ yaitu mengutuk… menghujat… dan membenci Bapak kandung mereka sendiri. Rasa dikhianati itu begitu mendalam & gak akan pernah disembuhkan sampai ajal menjemput. Gue cuma bisa mendoakan semua anak-anak korban poligami (baca : korban ke-egoisan Bapak mereka) agar mereka bisa tabah menerima cobaan ini.

Dan ada baiknya lagu “jagalah hati… jangan kau nodai” yang dahulu sering dikumandangkan oleh Sang Aa’ diganti aja menjadi ” jaga burung-mu… jangan kau kotori” Belizking

Leave a Reply