Mmberi Maaf ….
hari lalu gw membaca tulisan Pak Alwi Shahab di Harian Republika dan
IMO tulisan beliau sangat bagus. Secara… kita semua lagi ber-euforia
Pasca kematian H.M. Soeharto mantan Presiden ke-2 RI pada hari Minggu
lalu.
Gw
pribadi termasuk ‘barisan’ manusia-manusia Indonesia yang bersedia
memaafkan segala ‘kesalahan’ pak Harto selama berkuasa 32 tahun dibumi
Indonesia ini. Sejak gw lahir sampai udah punya 2 anak yang gw tau
Presiden Indonesia itu yha Pak Harto. Dan gw juga sempat merasakan
kestabilan dalam bidang ekonomi dan kehidupan sehari-hari selama masa
kepemimpinan beliau. Sekolah murah. makan dan jajan apa2an murah.
Dalam bidang Demokrasi & HAM ?? gw nyaris tidak merasakan apa-apa
yang diteriakkan oleh para musuh lama Pak Harto bahwa beliau membungkam Demokrasi… mematikan HAM… menggebuk lawan-lawan politiknya dengan cara keji, dll - dsb. Sumpah gw nggak ngerasain !! makanya gw gak ada dendam sama beliau
Bahkan gw merasa nyaman dengan kondisi begitu, nggak ada demo-demo
brengsek yang bikin macet jalanan…. nggak ada banyak Partai Politik *yang terbukti semakin banyak mereka hanya semakin menguras APBN yg dibiayai dari uang pajak kita*
Pasca Lengser Keprabon-nya
Pak Harto, berasa banget tuh buat gw bahwa segalanya sudah tidak sama
lagi. Presiden yang berikut-berikutnya terlalu pengen ngambil hati
Politikus… sehingga melupakan bahwa mereka itu berhutang budi pada
Rakyat, bukan pada Parpol. Akibatnya ?? rakyat sengsara. Tarif PAM
naik… listrik naik… gas naik… sembako muahal… bahkan tahu-tempe
*yg istilah kata makanannya kaum abangan & kampungan, sekarang jadi
mahal juga ??* 
Gue
bukan pembela atau fans Pak Harto. Gw cuma kepengen para pemimpin
bangsa ini meniru (satu-satunya) sifat terbaik yg dimiliki beliau yaitu
: Perduli pada Petani dan Rakyat kecil yang hidupnya pas-pasan. Yang
udah kaya’ mah biarin aja ngurusin dirinya sendiri…
Ini sekarang kok kebalikan zaman Orba. Yang didahulukan adalah Kaum
berduit, rakyat dan petani belakangan dehhh. Bibit mahal… pupuk
langka…. harga hasil panen dibeli semurah mungkin… minyak tanah
ditimbun cukong main mata dengan pihak Pertamina. Busyet dehhh. Kok
jatohnya lebih tega dari PKI ??? 
Kembali
ke soal maaf-memaafkan… yang paling menggelikan buat gw adalah
munculnya para orang-orang Tua ‘alumnus’ PKI dan segenap underbow-nya.
Pihak TV juga b3go sih menurut gw, ambil narasumber kok yang mantan
PKI. Khan ada begitu banyak korban HAM lainnya di zaman Eyang Harto
berkuasa seperti Korban Tanjung Priok, DI/TII atau Lampung. Eeeh, yang
dipilih malahan simpatisan PKI. Dengan semangat 45 malah si nenek
narasumber ini berkata lantang " G30S/PKI itu tidak ada. PKI sama
sekali tidak bersalah. Itu adalah kemelut internal di TNI-AD"
Woalaahhh neeek… eling kek. udah mau mati kok masih membela PKI.
Dia nggak ngerasain kali yee (gw sendiri diceritain Bokap & Datuk
gw) bahwa saat itu orang gak bebas beribadah. Yang berani2 ke Masjid
buat sholat subuh udah pasti bakalan ditemukan dipinggir jalan atau
diselokan dengan jidat berlubang. Yang melakukan siapa ?? TNI-AD gitu
??? 
Itulah
yang bikin gw mau melupakan & memaafkan segala "cacat" yang dibuat
Pak Harto selama 32 tahun berkuasa. Karena beliau "membasmi" PKI
sampai ke akar-akarnya. Karena kita sudah melihat sendiri bagaimana
kondisi di negara-negara Rusia, Eropa Timur atau China dimana Komunis
berkuasa. Serem bo !! nggak banget dehh… 
Lebih
‘lutju’ lagi ada korban penyiksaan & penculikan di era Orba.
Dengan semangat menyala-nyala dia berkata didepan mike "saya korban
penculikan zaman Orba karena saya dulu sering berceramah Jumat
mengkritik pemerintah Orba. Saya disiksa dipenjara. Saya tidak akan
pernah memaafkan yg namanya Soeharto !!!"
Oalaah Paak, katanya
tukang ceramah tapi kok nggak bisa memaafkan dosa orang lain ? Pas
reporternya nanya "Rasul aja pemaaf Pak padahal dulu siksaannya dr
Kaum Quraish lebih dahsyat".
"Inget ya mas… saya manusia biasa,
Bukan Rasul !! yg bisa memaafkan orang sejahat itu cuma Rasul aja,
saya manusia biasa. Punya rasa marah & dendam ya lumrah.." 
Good
Lord… Rasul-mu itu khan panutan. Apa susah mengikuti apa yg telah
beliau lakukan dulu ?? Cuma maafin doank lho Pak. hahaha. Based on
my experience…. klo ngikutin dendam itu Capek lho. Capek hati, capek
jiwa. So, be better forget and forgive someone who’s hurting our
feeling… 
Memberi Maaf
Oleh : Alwi Shahab
Islam
mengajak manusia untuk saling memaafkan dengan memberikan posisi tinggi
kepada si pemberi maaf. Karena, seperti dikemukakan oleh Alquran dan
hadis Nabi, sifat pemaaf merupakan bagian dari akhlak luhur, yang harus
menyertai seorang Muslim yang takwa. ”… dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain, Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran 134). Nabi Muhammad
SAW sendiri dikenal sebagai seorang yang pemaaf dan berlapang dada.
Hal
ini dapat kita buktikan saat pembebasan Kota Makkah, ketika Nabi di
hadapan orang-orang yang selama belasan tahun memusuhinya, bahkan
berupaya untuk menghilangkan nyawanya. Kepada mereka Rasulullah
berkata, ”Wahai orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu sekalian,
apa yang akan aku perbuat terhadap kamu sekarang?” Jawab mereka,
”Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu kami yang pemurah.”
Mendengar jawaban itu Nabi berkata, ”Pergilah kamu sekalian. Kamu
sekarang sudah bebas!”
Dari
peristiwa ini, kita melihat betapa luhur dan lapang dadanya Nabi dalam
memberikan maaf justru terhadap mereka yang selama ini telah memusuhi,
membenci, menghina, dan menyakitinya. Tanpa menunjukkan sedikit pun
tanda-tanda kebencian maupun rasa ingin membalas dendam. Padahal ketika
itu, seluruh pasukannya yang berjumlah sekitar 10 ribu orang siap
melakukan apa saja yang diperintahnya, dan tinggal menunggu isyarat
Beliau. Penulis sejarah Nabi Muhamaad SAW, Muhammad Husain Haekal,
mencatat peristiwa penaklukan Makkah itu sebagai pengampunan umum
(amnesti) massal pertama di jagad ini.
Pernah
Rasulullah, sebagai seorang komandan, menata sendiri dan menyusun
barisan dalam Perang Badar. Beliau mendatangi seorang prajurit yang
berdiri agak ke depan dari barisan pasukan. Rasul menekan prajurit
tersebut dengan tongkatnya agar dia mundur sedikit ke belakang,
sehingga barisan menjadi lurus.
Prajurit
itu berkata, ”Wahai Rasulullah, tongkat itu menyakiti perutku. Aku
harus membalas!” Rasulullah memberikan tongkatnya kepada prajurit itu
seraya berkata, ”Balaslah!” Orang itu maju ke depan dan mencium perut
Nabi sambil berkata, ”Aku tahu, bahwa aku akan terbunuh hari ini.
Dengan cara ini aku menyentuh tubuhmu yang suci.” Belakangan dia
menghambur ke depan, menyerang musuh dengan pedangnya, hingga syahid
dalam Islam.
Sikap
Nabi Muhammad SAW yang penyayang, penyantun, dan pengampun, menunjukkan
bahwa beliau bukanlah manusia yang suka permusuhan. Dalam surah An-Nur
ayat 22 Allah berfirman: ”. dan hendaklah mereka memaafkan dan
berlapang dada.” Dalam Al-Baqarah ayat 237 yang artinya ”. dan
pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa ….”