Archive for May, 2008

Kenaikan Tarif Tol Bukti Ketidakpedulian…

Friday, May 30th, 2008

Pagi - pagi paling enak baca koran sambil ngopi…  nahhh, itu adalah ‘ritual harian’ daku sehari-hari baik itu dikantor atau dirumah atau lagi tugas kemana kek, pokoknya wajib !

Terus ’surga dunia sesaat’ itu-pun dirusak oleh celoteh seorang teman yang ngomel-ngomel gara-gara tarif tol Jakarta - Cikampek naik mulai malam tadi, dan untuk dia yang bermobil dari Rp. 10.000,- menjadi Rp. 11.500,- (jarak terjauh).

"kenaikan Rp. 1.000 x 2 (pp) =  Rp. 2.000,- buat gue signifikan benget tuh mak.  Coba loe kali’in 22 hari kerja sebulan, pengeluaran bulanan gue harus nambah Rp. 44.000,- / bulan."

Aku agak terkesima, dan karena temanku itu tipe orang yang selalu mencatat pengeluarannya dengan ketat (secara) dia masih punya kredit KPR di Bank    no wonder duit 44.000 perak /bulan sungguh meaningfuLL bagi-nya.  Dan itu yang bikin aku heran, kenapa para pembuat kebijakan di negara ini nggak mikir apa ?  pemakai ruas jalan Tol Jakarta - Cikampek itu siapa ?  warga Bekasi, Cibubur, Cikarang.  Apa mereka semuanya warga sangat mampu ? bahkan rasanya gak perlu IQ tinggi untuk tau alasan mereka untuk tinggal disana bukannya di Jakarta karena harga rumas & tanah masih murah dan terjangkau.

Teman tadi (masih) juga ngomel2 "gila apa, emang Dep. PU gak tau kalo gue tinggal didaerah pinggiran karena gaji gue pas-pasan ? nggak mampu beli rumah didalam kota ?  Kalo gue jutawan mahh gue juga udah milih tinggal di Kebayoran, Menteng, PI atau Cempaka Putih (sambil sikit melotot padaku…    )  bukannya malahan di daerah pinggiran…. "

Ruas jalan tol Jakarta - Cikampek adalah ruas ‘paling gemuk’ dari segi pemasukan bagi Jasamarga selaku pengelola dibandingkan ruas tol lainnya.  Bayangkan, bisa 500 ribu mobil/hari melintasi jalur ini !!!   Teman yang kebetulan malam nanti berangkat barengan sama aku ke Bandung langsung "nyap-nyap"…  "waduuuh, kita ntar kebagian kena kenaikan tarif tol baru nih Mill".  Aku sih cuma bisa angguk-anggukin kepala aja, pusing ahhh mikirin hal-hal kaya’ gini terus…      Jangan-jangan benar nih apa pesan teman mahasiswa di IPB yang bilang "Pemerintah kaya’nya lagi membunuh rakyat pelan-pelan nih mbak"  apa iya ? silahkan menilai sendiri ….

Eeh, pass bangeth Editorial di Harian Suara Karya yang aku baca juga menyuarakan ‘jeritan’ kebanyakan Warga Jakarta - Bekasi dan sekitarnya seputar kenaikan tarif tol yang mereka anggap rada nggak manusiawi disaat masyarakat sedang kesusahan akibat naiknya harga BBM beberapa hari lalu.   Ya ampuuunnn….   ada apa sih dengan para Pemimpin di negeri ini ?????????

==============================================================================

         DI SAAT sebagian besar masyarakat Indonesia sedang coba menata diri, khususnya menyangkut pengeluaran dibanding pendapatan, terkait dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tiba-tiba tanpa basa-basi pemerintah-dalam hal ini Departemen Pekerjaan Umum (PU)-memutuskan menaikkan tarif jalan bebas hambatan (tol) ruas Jakarta - Cikampek. Kenaikan itu dipatok 12,43 persen dan diberlakukan sejak pukul 00.00 WIB, Jumat (30/5) tadi pagi. Dan, dalam waktu dekat akan menyusul kenaikan tarif tol dari dan menuju Bandara, Jalan Tol Sediyatmo.     ( padahaL banjir mulu !!@#@!&&^%$ ).

Meski banyak protes dan kritik dari berbagai lapisan masyarakat, pemerintah sepertinya teguh pada keputusannya. Undang-Undang (UU) Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan dan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, merupakan senjata ampuh bagi pemeritnah dan operator menaikkan tarif jalan tol. Undang-undang tersebut membuat pemerintah memiliki kekuatan lebih untuk menaikkan tarif tol tahun demi tahun, meski ditentang rakyat dan tak mendapat persetujuan dari DPR.

Pemerintah atas dorongan operator jalan tol bagai memiliki kekuatan tanpa tanding. Meski bukan rahasia umum lagi bahwa pelayanan yang diberikan para operator terhadap pengguna jalan tol jauh dari memadai, namun mereka sepertinya tak peduli, bahkan seolah-olah menantang; "ini adalah lahan bisnis milik kami, jika tak suka silakan cari jalan lain".   

Dugaan di atas tak mengada-ada. Lihat saja, meski kondisi jalan tol setiap harinya diwarnai kemacetan, mobil derek liar bebas memeras pengemudi yang kendaraannya mogok, pungli oleh oknum polisi, bercampur dengan pedagang asongan, bahkan tak jarang pencoleng dan perampok pun bebas berkeliaran di ruas tertentu, pengelola jalan tol tak sungkan menaikkan tarif. Terkadang jalan tol malah hilang ditelan banjir.

Karena itu tak berlebihan bila masyarakat selalu mengeluhkan kondisi jalan tol. Bahkan bukan mengada-ada pula bila Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai keputusan menaikkan tarif tol seperti yang diberlakukan Jumat (30/5) pukul 00.00 WIB dini hari tadi sebagai kebijakan yang tidak tepat.  Pantas pula YLKI menyalahkan DPR terkait dengan kenaikan itu, karena DPR sepertinya tak berupaya memperjuangkan keberatan rakyat atas kenaikan tarif tol tersebut.   

Di tengah kondisi ekonomi yang makin berat, kenaikan tarif tol tak lebih merupakan akal-akalan operator jalan tol yang didukung habis oleh Departemen PU. Dengan cara itu mereka menambah beban rakyat, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya di tengah penderitaan rakyat. Operator jalan tol tak peduli dengan kualitas jalan tol itu sendiri, dan mereka tak pernah peduli menaikkan tarif tol berarti menambah beban masyarakat dalam hal biaya transportasi yang sudah jauh di atas ambang batas kewajaran. 

Dikaitkan dengan kondisi sekarang, sepertinya operator jalan tol dan Departemen PU secara sadar sangat tidak peduli dengan keadaan masyarakat. Bukti ketidakpedulian operator dan Departemen PU terhadap layanan mereka serta kondisi masyarakat yang sedang kesulitan, dibungkus dengan undang-undang. Atas nama undang-undang mereka tak mau peduli apakah dengan menaikkan tarif tol beban masyarakat akan makin berat atau tidak.

Karenanya, sudah saatnya DPR benar-benar berperan, betul-betul berjuang demi rakyat. Waktunya UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan dan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol direvisi. Undang-undang yang disahkan di era kepemimpinan Presiden Megawati itu harus diubah, menghentikan kesewenang-wenangan operator jalan tol dan pemerintah dalam menjepit masyarakat.

Tidak seharusnya kebijakan soal kenaikan tarif dimasukkan ke dalam UU, sementara di sisi lain pengelola jalan tol itu sendiri tak peduli dengan kondisi keamanan dan kenyamanan pengguna. Keputusan menaikkan tarif tol tak ada kaitannya dengan upaya mengurangi kepadatan lalu lintas di jalan raya. Apalagi jika kondisi angkutan umum masih tetap amburadul seperti sekarang.

Kapitalisasi tol yang dilakukan pemerintah sudah sangat jauh melenceng dari amanat konstitusi. Kenaikan tarif tol hanya dipandang dari sisi hak, tapi tak mengindahkan tanggung jawab terhadap konsumen. Pengelola dan penguasa bagai tak peduli bahwa di banyak negara fasilitas jalan tol-setelah lama dioperasikan-akhirnya digratiskan karena biaya pembangunannya telah tertutupi. Di Indonesia memang lain, tarif tol dibuat semahal mungkin.   

BBM : Marlboro, Gizi & Nurani Tergadai

Tuesday, May 27th, 2008

Aih, elok nian tulisan Bang Iwan Pilliang ini.   Semoga nurani anda bisa tergugah sebagaimana yang saya rasakan pasca membaca email berikut ….  

DI BEBERAPA pojok jalan, perempatan, tempat strategis kini, ada papan iklan (billboard) besar iklan Marlboro. Ada grafis rona kuning, oranye kecoklatan. Tagline-nya: Marlboro Dengan Kretek Terbaik Indonesia, Persembahan Sampoerna. Ada gambar beberapa butir cengkeh kering. Tampaknya cengkeh yang tidak keriput, keras berisi. Cengkeh pilihan.

Setiap melihat iklan itu, saya lantas teringat masa kecil dulu. Sepulang sekolah, kami mengikatkan kain sarung di bagian bawah ke lingkaran perut, bagian atas ke leher. Maka jadilah semacam kantung di gendongan. Lalu kami memanjat pohon-pohon cengkeh. Melekat dalam ingatan, bagaimana, petes, suara tampuk cengkeh dipisahkan dari ujung-ujung ranting.

Tak membutuhkan waktu lama. Tumpukan cengkeh laksana anak Kangguru mengelayut di gendongan perut, harus ditumpahkan ke keranjang pengumpul. Kami berlari lagi memanjat pohon, begitu seterusnya. Aroma cengkeh, wangi menyengat.

Pekerjaan berikutnya, memupur; memisahkan butiran cengkeh dari tampuknya yang masih hijau. Setelah itu kami menjemur di hamparan tikar pandan. Seingat saya, jika matahari bersinar terik, maka perlu sekitar lima hari mengeringkan cengkeh, lalu tetap dianginkan, diulang penjemuran, sehingga mendapatkan warna coklat kehitam-hitaman, kekeringan yang baik.

Untuk menguji cengkeh dengan kekeringan yang oke punya itu , orang kampung berkiat, cukup mengambil sebutir sampel, lalu mematahkannya. Jika patah, tidak meliuk, nah, itulah cengkeh terbaik. Kala itu, saya hanya paham bahwa cengkeh sebagai bumbu sop nenek memasak. Dijual ke pasaran katanya buat obat, kosmetik, dijual ke seberang lautan.

Melihat iklan Marlboro di hati saya bergelora dua. Pertama, bangga juga rasanya, bahwa Philip Morris, produsen Marlboro menyebut kata Indonesia di iklannya. Ada kata terbaik pula. Kendati hal itu tidak terlepas menjadi bagian pengembangan strategis dari mengambil Sampoerna sebagai asset.

                     Marlboro

Kedua, rasa keprihatinan mendalam bahwa jumlah perokok di Indonesia kian hari kian meningkat. Dan lebih celaka, perempuan perokok kini dominan. Iming-iming membuat perempuan kian dihargai merokok, kemasan rokok berasa mint, dari berbagai produsen, kini dibuat kotak segi empat laksana kemasan gincu bibir.

Promosinya pun menggila. Kian banyak gadis-gadis semampai ber-rok pendek menjajakan rokok ke berbagai tempat. Ketika dua pekan lalu usai shalat Jumat di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, ketika menyantap sate Padang, di kawasan parkir yang padat, dua gadis cantik merayu-rayu membeli rokoknya. Bila Anda perokok, plus rayuan genit, sebagai lelaki kebanykan, pastilah tak tahan akhirnya merogoh kocek. Untung saya tak paham apa enak rasa rokok. Setiap mencoba, hanya pahit di rasa.

Di sebuah café di Plaza Senayan, Jakarta, belakangan saya amati, memang gadis-gadis cantik, ibu-ibu muda menjadikan rokok kini sebagai laku gaul, juga “gengsi”. Trend baru! Ini bertolak belakang dari pesan dan citra perempuan yang diajarkan nenek saya dulu. Kata nenek saya, perempuan merokok, maaf, itu lonte.   Jika kalimat itu dipakai kini, para gadis nan cantik-cantik aduhai itu pastilah mengatakan saya kolot, kuno.

Setiap ada pemulung yang lewat di depan rumah, saya selalu bertanya, berapa uang membeli rokok sehari; rata-rata mereka menjawab dari kisaran Rp 6 ribu sampai Rp 18 ribu perhari. Padahal penghasilan rata-rata perhari mereka Rp 30 ribu. Bila dibelanjakan rokok lebih separuhnya, menjadi tidak logis lagi. 

Begitulah rokok, memang membuat orang tak “normal”. Jika normal, dan sangat paham bahwa ratusan racun, hinga radio aktif yang menambun di rokok, tetap saja diisap. Bahkan di bawah billboard iklan rokok, gede-gede ditulis, Rokok menganggu kesehatan, mengakibatkan kanker serangan jantung, dan seterusnya. Tetapi perokok toh tetap bertambah.

Karenanya saya lebih tepat menyebut rokok sebagai candu. Dan rokok itu, dalam sebuah riset narkoba di kalangan remaja yang dilakukan oleh sebuah NGO di Jakarta Selatan, menyebutkan sebagai jendela masuk narkoba: 98 % pemakai narkoba adalah perokok. Indikasi naiknya pengkonsumsi narkoba di Indonesia dalam dua tahun terkhir menggila. Indonesia sudah masuk ke dalam tiga besar pemakai narkoba dunia.

Bila kita belajar dari sejarah Cina - perang candu - dua daerahnya menjadi tergadai; Hongkong dan Makao. Sehingga bukan berlebihanlah bila saya mengatakan, bila negara maju kini yang lebih beradab telah mampu mengurangi masayarakatnya mengepulkan rokok, kita sebaliknya bertambah, lebih drastis narkoba menggila.

Pada tulisan berjudul Bandar Bandara, 16 Maret 2008 Anda akan dapat membaca bagaimana narkoba memang gampang beredar, kendati di pintu masuk diskotik itu ada oknum aparat berbaju preman.

Sehingga, bukanlah suatu yang omong kosong, bila bangsa ini menjadi bengak - - tiga kali di atas bodoh - - baik karena lakunya sendiri, maupun ulah laku industri, mungkin pula strategi peguasaan pasar serta asset yang dijalankan berbagai business intelligent yang berkepentingan terhadap Indonesia.

Di saat harga BBM sudah naik kini, menghentikan merokok, bagi kalangan marjinal, sebuah solusi jitu. Uang rokok bisa untuk membeli susu anak, meningkatkan gizi anak.

SEPEKAN lalu saya bertemu dengan seorang ahli gizi. Ia bilang, jika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) belum naik, maka diperlukan dana setidaknya Rp 1,25 juta/bulan untuk memenuhi gizi balita mendekati baik. Dana itu untuk membeli makanan sehat, bergizi, mendekati empat sehat lima sempurna, termasuk untuk membeli buah macam pisang dan susu. Dengan diumumkannya kenaikan BBM mencapai 30% oleh pemerintah tadi malam, maka perlu tambahan sekitar Rp 375 ribu lagi - - artinya angka menyehatkan gizi sesosok balita menjadi Rp 1,625 juta/orang/perbulan .

Bagaimana gizi balita dan anak-anak akan membaik, fakta di lapangan, daya beli kalangan menengah ke bawah justeru mengalami penurunan tajam. Upah Minimum Regional (UMR), yang di Jakarta di kisaran Rp 800 ribu, menjadi angka yang tak dapat memenuhi kadar minimum gizi sesosok anak-anak.

Akibat yang terjadi, makanan yang kian terjangkau oleh mereka adalah mie instant yang di pasaran berharga Rp 1.000/bungkus. Bila dalam sehari, sesosok anak mendapatkan makanan mie instant dua bungkus sehari, bisa Anda bayangkan gizi apa yang masuk ke dalam tubuh balita, ke dalam tubuh anak-anak, generasi penerus bangsa.

Sudah sejak lama mie instant terindikasi mengandung racun berbahaya. Proses mem-booster gandum menjadi mie, mengeraskan kembali melalui pemanasan tingi, memberi bahan kimia yang mengandung unsur lilin - - agar mie tidak lengket di saat direbus - - plus bahan kimia penyedap rasa, menabalkan kenyataan bahwa mie instan jika dimakan terus-terusan memang menjadi tidak menyehatkan. Saya misalnya, memaksa anak-anak agar memakan sebungkus sekali sebulan saja. Kami di rumah memang seakan berkelahi melawan ransangan rasa bumbu penyedap di mie instan plus iklannya yang menggelora.

Iklan sebuah produk mie instan yang digarap dengan baik, dinyanyikan berdendang berbau nasionalis yang enak dilantunkan dan ditayangkan di program prime time di di televisi di harga spot iklan Rp 20-an juta lebih per spot per 30 detik, memperkuat keyakinan bahwa di dalam industri, di dalam bisnis, nurani memang tidak dikenal lagi. Nurani menjadi seakan tergadai di mana-mana.

Hati nurani hanya seakan-akan cuma perlu mengisi bak sampah kumuh, bau, yang tidak perlu pula diurus, tidak perlu dilirik. Hujan, panas, kelembapan seakan dibiarkan membuatnya punah, rapuh, busuk sendirinya menjadi tanah. Demikian pulalah analogi sikap kita berbangsa memperlakukan gizi balita, kanak-kanak. Sejarah ke depan akan mencatat di semua lini berbangsa kini memberi andil besar mengakibatkan berkurangnya gizi generasi, generasi bangsa ini!

Gizi yang rendah jelas membuat generasi ke depan lemah kemampuan kesehatan fisiknya. Kelemahan fisik berkorelasi kepada kecerdasan otak, kemampuan nalar dan pikir yang cekak.

Dengan lain kata, yang tidak terpikirkan oleh pemerintah dalam menaikkan harga BBM adalah, menghancurkan kesempatan generasi meningkatkan gizinya menjadi sirna.

Jika demikian logika pikir, memang tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa pemerintah kehilangan akal pikir, kehilangan budinya sebagai pemimpin bangsa. Yang ada di dalam benak mereka, ekonomi harus diselamatkan. Saya heran penjabaran ekonomi yang mana: ekonomi kelas makro, yang berorientasi pasar modal, yang hanya berorientasi membela kepentingan multinanasional company (MNC) dalam menempatkan Indonesia semata sebagai pasar?

Bila indikasi membela MNC, banyak MNC di negeri ini seakan “dikeroyok” dalam menjalankan proyek; mulai dari urusan pengadaan mobil, penyewaan rumah, pengadaan ransum makanan, jasa iklan, dan seterusnya diperebutkan oleh orang-orang Indonesia yang beredar di kalangan elit, yang kekayaannya lebih untuk tujuh turunan.

Sehingga terkadang menyalahkan MNC “merampok” negeri ini, bukan pula sebuah kata tepat. Toh yang “menyamun” adalah bangsa sendiri.

Kehilangan budi aparat itu tercermin pula dari laku mengelola dana bantuan tunai langsung (BLT). Biaya mengurus penyaluran BLT mencapai Rp 800 miliar. Dana sebesar itu dibagi ke beberapa Departemen, mulai dari Bappenas, Kominfo, Setneg, Sosial dan seterusnya. Dari sebagian dana itulah yang dipakai pula oleh para pejabat itu untuk berbunyi, menampang, melalui iklan layanan masyarakat, yang memparadekan diri mereka sendiri di televisi. Mereka tampil seakan memberi petuah, seakan berpihak kepada warga kebanyakan. Saya tak paham laku apa judul yang tepat diberikan terhadap pengusa yang demikian? Mungkin Anda bisa membantu menjawabnya!

SUDAH menjadi rahasia umum, bahwa sebuah situs Presiden SBY, kini telah ditutup, berganti bertuliskan under construction. Sebelumnya di situs resmi Presiden SBY itu ada artikel mengaskan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan BBM, karena masih ada solusi lainnya. Setelah ada iklan Wiranto di koran-koran yang mempersoalkan janji itu, situs situ berubah judul dan seorang Andi Malarangeng - - yang juga nampang tampil di iklan layanan masyarakat dengan uang iklan dari uang rakyat - - membantah habis sinyalemen itu di berita televisi.

Untungnya media menguasai ruang dan waktu. Media on line kini tak bisa lagi cuma dilirik sebelah mata. Setidaknya adalah Drajat Wibowo, anggota Komisi XI DPR yang telah sempat mencetak berita ihwal SBY tidak akan menaikkan BBM itu, sebagai sebuah bukti, bahwa pemerintah memang menelan ludahnya sendiri.

Bila menempatkan diri sebagai pemerintah, dalam keadaan seperti hari ini, memang dilingkupi oleh para menteri yang pro ke neoliberalisme. Budiono Gubernur Bank Indonesia, Sri Mulyani, Menteri Keuangan, jelas orientasinya berpihak ke penerusan paham yang digariskan oleh Washington Consensus - - yang sudah sejak lama ditinggal beberapa negara Amerika Latin, karena tidak terbukti memulihkan eknomi.   

Hingga hari ini indikasi korupsi, sesuai dengan audit yang dilakuklan BPK pada 2006 terhadap cost recovery (biaya yang dipikul kembali oleh negara) eksplorasi migas yang ditemukan sebesar Rp 18,07 triliun, tidak jelas tindak lanjutnya. Padahal melalui penemuan ini pemerintah punya senjata untuk merenegiosiasakan pola pembagian keuantungannya dengan perusahan migas asing di negeri ini. Agaknya, karena “elit” mengeroyok mereka dengan berbagai kepentingan, termasuk komisi, maka sulit pemimpin itu memperjuangkan kepentingan rakyatnya.

Sumber pendapatan negara lainnya, terutama pajak juga terindikasi mengalami kebocoran tinggi.

Naif memang setiap ada masalah kenaikan harga BBM dunia, negeri yang kaya dengan sumber daya alam, sumber energi alam ini, seakan harus mengikis lagi tulang belulang rakyatnya sendiri.

Kikisan tulang itu dijadikan bubur yang harus disantap lagi oleh manusia, rakyatnya - - karena daging pelapis tulang pun sudah seakan sirna. Kira-kira begitulah perumpamaan tepat yang dapat saya lukiskan.

Maka saya sepaham dengan kalimat Sultan Jogya, Hamengkubuwono X, “Alasan menaikkan BBM oleh penguasa, sangat tidak logis.”

Saya lalu tertawa, mendengar kabar bahwa Menteri Negara BUMN, Sofjan Djalil tanggal 31 Mei 2008 mendatang akan menggalakkan kegiatan bersepeda ke sekolah. Saya indikasikan dana eventnya,diperoleh dari bagian biaya BLT yang Rp 800 miliar itu.

Bagus!

Tetapi langkah signifikan lain, macam, pemimpin memberi contoh hidup sederhana, tak kunjung ada.

Kenyataan sebaliknya, mereka di trias politika kian berfoya-foya.

Sofjan Djalil, yang bagi kami di Persatuan Pelajar Islam (PII) di Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, yang mengenal menyapanya dengan Pak James (singkatan jaga mesjid), menjadi heran bahwa kini ingin menjual PT Krakatau Steel ke Mittal. Ia tampak pula menselebriti, merencanakan event-event PR yang tak lagi membumi, di tengah kepahitan hidup menjadi-jadi.

Sebaliknya jika Pak James mungkin bertanya, “Apa yang kamu buat untuk negeri ini?”

Selemah-lemahnya iman, mendoakan pemimpinnya berubah pikiran, berubah menjadi pro rakyat.

Sedangkan saya tak hanya berdoa diam. Saya mencoba menuliskan tulisan tajam, coba deh baca kumpulan Tajuk ini. Beberapa pihak sudah mulai mengancam-ancam. Dan bagi saya yang sudah sering diancam, baik melalui telepon, saya hanya ingin mengatakan, alamat saya jelas, ada di blog di internet, mudah menelusuri saya. Saya juga tak punya pistol. Ke mana-mana seorang diri, tidak punya body guard.

Alhamdulillah, Puji Tuhan, ada pembaca tulisan-tulisan saya ini yang mengajak dalam waktu tak lama lagi membuat warung-warung murah di keramaian Jakarta, dengan makanan sehat. Paling tidak itulah yang paling minim bisa. Selain terus berupaya, mengembangkan industri konten dan aplikasi yang sesungguhnya menjanjikan bagi negeri ini. Industri yang tak ada venture capital-nya di negeri ini. Toh pebankan yang bagian MNC itu hanya berkredit kartu kredit, KPR, mobil dan motor.

Toh ekonomi kita, hanya Ekonomi Mengayuh Sepeda. Baca deh ekonomi mengayuh sepeda tulisan 3 Mei 2008 lalu. Jadi bukan anak sekolah bersepeda sekolah: ekonomi kita-pun mengayuh sepeda!   

Kecilkan Perut Demi Kesehatan !

Tuesday, May 27th, 2008

Brubung daku beberapa bulan terakhir ini lagi tergila-gila sama yang namanya Fitness ; Makan makanan sehat (meaning only eat vegetables ; fish and drink NON fat milk), ada baiknya tulis artikel yang mudah-mudahan bisa berguna buat rekans lainnya disini… 

                                 Fitness

Kecilkan Perut Demi Kesehatan

  • Minum segelas air putih sebelum makan
  • Makanlah dengan piring datar
  • Jangan berbelanja selagi perut kosong

Lingkaran perut pada orang gemuk ternyata bisa menentukan risiko tinggi terjadinya kelainan metabolisme, yang bisa membawa akibat gangguan pembuluh darah seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Bagaimana memperkecil lingkaran perut lewat pengaturan makan, olahraga dan perubahan gaya hidup ?

Semenjak usia 20 tahun, metabolisme tubuh yang tadinya bersifat membangun (anabolisme) mulai berubah secara berangsur-angsur menjadi metabolisme yang mendatar, melambat dan akhirnya merombak (katabolisme) ketika memasuki usia senja. Metabolisme yang merombak menyebabkan penurunan massa otot dan tulang serta peningkatan timbunan lemak tubuh, khususnyadi sekitar alat tubuh seperti jantung , usus, ginjal dan DI BAWAH KULIT PERUT, itulah penyebab perut membuncit.

Metabolisme sudah mulai melambat pada usia 40 tahun. Saat itu otot dan organ tubuh mulai mengecil. Juga tubuh membutuhkan kalori lebih sedikit daripada sebelumnya. Jika remaja dalam masa pertumbuhan dapat melahap habis dua piring nasi dan puluhan tusuk sate, maka ada masa pelambatan metabolisme ini, orang mungkin hanya bisa makan satu piring nasi dan beberapa tusuk sate. Kegemukan terjadi jika : Pola makan tetap sama seperti pada usia remaja , tetapi kegiatan fisik sudah jauh menurun, sementara metabolisme-nya melambat.

Ketika melakukan diet sekaligus berolahraga, bobot badan sering tidak turun. Lho mengapa ?   (gw sempat ngalamin stress yang sama ketika mula-mula menjalankan program ini… hehe ). Dalam program diet dengan olahraga, mengecilnya lingkaran perut sebenarnya akan lebih dulu terjadi ketimbang turunnya bobot badan. Sebagai hasil dari olahraga-khususnya yang bersifat beban, baik berat (weight) maupun kecepatan (speed) –masa otot sering turut meningkat. Dengan begitu, sekali pun program penurunan bobot itu telah mengurangi jumlah lemak tubuh, bisa saja berat badan tetap sama atau bahkan naik karena peningkatan massa otot. Tanda yang lebih tepat yaitu mengecilnya lingkar perut ditandai dengan pakaian kendor di bagian perut.

Makan Secara Cerdik.

Ada asumsi umum, jika kita memasukkan lebih banyak kalori dari makanan ketimbang kalori yang dipakai tubuh maka makin banyak lemak atau gajih yang menumpuk. Celakanya , gajih sering menumpuk di bagian perut. Pertanyaannya, makanan saja yang banyak memberikan kalori dan menyebabkanpenumpukan gajih ?

Sebagian pakar berpendapat, lemak atau minyak merupakan unsur makanan yang memberikan kalori paling besar. Alasannya, pertama, 1 g lemak akan menyumbang 9 kalori (protein dan karbohidrat hanya memberikan 4 kalori). Kedua, lemak ternyata, justru menggunakan lebih sedikit kalori dalam proses metabolismenya. Untuk metabolisme protein diperlukan kalori sekitar 23 persen dari total kalori yang dihasilkan. Untuk karbohidrat dibutuhkan sekitar 6-7 persen, tetapi untuk metabolisme lemak hanya perlu 2-3 persen. Karena kalori yang dihasilkannya lebih tinggi, dan metabolismenya yang lebih sedikit memerlukan energi itulah maka lemak dianggap sebagai unsur makanan yang harus dikurangi jika kita hendak berdiet…! 

Untuk mengurangi makanan yang banyak mengandung lemak, biasakan diri melakukan beberapa hal pada saat makan. Pertama, biasakan minum air putih satu gelas sebelum makan. Dr Blackburn dari Harvard Medical School menyatakan. "Perasaan lapar sering merupakan manisfestasi rasa haus. Jika kita membiasakan diri minum air pada saat terasa ingin ngemil di luar saat makan, maka keinginan itu akan dapat dikurangi."  Jika menyukai sari buah, Anda dapat menggantikan air putih dengan buah rendah kalori yang diblender agar seratnya turut terkonsumsi. Pilihlah buah atau sayuran yang kalorinya rendah seperti tomat dan ketimun. Blenderan buah atau sayuran ini dapat diminum untuk menghilangkan perasaan ingin ngemil atau diminum sebelum makan. Selain itu, serat solubel (dapat larut) dalam blenderan akan mengurangi penyerapan lemak dari makanan di dalam usus.

Ketika memilih piring makan, usahakan mengambil piring datar (plate) dan bukan piring cekung (disc). Ambil sayuran dahulu untuk memenuhi piring, baru kemudian nasi dan yang terakhir lauk dan dagingnya. Jika ingin tambah, hanya sayuran yang boleh Anda ambil. Jangan lupa makanlah selalu di meja makan dan jangan makan di sembarang tempat, apalagi sambil menonton TV. Sebab makin seru acara TV makin banyak makanan atau camilan yang Anda habiskan. Selain memberikan kesempatan makanan untuk turun, kebiasaan berjalan-jalan sesudah makan akan membantu menghabiskan sebagian kalori dari makanan itu. Setiap 25 langkah Anda berjalan, satu kalori akan terpakai. Apalagi jika Anda menaiki tangga. Tentu saja semua ini harus dilakukan dengan santai karena perut Anda baru saja terisi.

Terus Olahraganya Apa ???

Olahraga yang tepat untuk membantu penurunan berat badan adalah kombinasi latihan beban dan aerobik. Latihan beban seminggu sekali dan aerobik 3-5 kali seminggu, bukan hanya membantu menurunkan berat tetapi juga akan mempertahankan berat yang sudah tercapai. Latihan beban dapat dilakukan menggunakan dumbell atau peralatan di pusat kebugaran jasmani. Untuk latihan beban mungkin diperlukan instruktur agar tidak terjadi penambahan massa otot berlebihan sehingga membuat bobot badan meningkat pesat .

Latihan aerobik dapat dilakukan sendiri. Bisa dengan berenang pelahan, jogging, bersepeda, lari, atau jalan cepat , dan senam aerobik. Ciri olahraga aerobik berupa keluarnya keringat tanpa rasa sesak napas, lelah dan mengantuk sesudah berolahraga. Sebaliknya, latihan aerobik harus membuat tubuh terasa lebih segar, tidak lapar , dan tidak mengantuk.  Pengecilan perut sebaiknya tidak dilakukan denga beban berlebihan. Latihan sit up dapat menjadi olahraga beban karena Anda harus mengangkat dua pertiga tubuh..!

Jika ingin mengurangi beban itu dapat dipakai alat khusus yang juga bisa mencegah sakit pinggang akibat sit up. Acapkali, mereka yang mencoba mengecilkan perut dengan sit up tanpa alat penyangga mendapatkan perut yang semakin besar kendati sebenarnya perut itu bukan membuncit tetapi semakin berotot dan kencang.  Untuk mengecilkan perut gerakan panggul yang ringan tetapi lama akan lebih efektif. Latihan dapat dilakukan dengan alat seperti permainan hullahoop atau piringan untuk latihan gerak panggul. Gerakan ini mungkin bisa disamakan dengan gerakan penari perut atau hula-hula yang memiliki perut relatif kecil.

Hal yang sama juga berlaku pada pengecilan paha dan tungkai. Jika menggunakan beban berat, mungkin paha dan tungkai Anda semakin besar dan berotot. Untuk mengecilkannya Anda dapat meniru gerakan pengendara sepeda di desa yang mengayuh sepedanya perlahan- lahan tetapi dalam waktu lama. Pengendara sepeda itu, umumnya memiliki paha dan tungkai lebih ramping dari pada pengemudi becak.

Perubahan Perilaku

Perubahan perilaku sebenarnya merupakan hal pertama yang harus diupayakan dalam merampingkan tubuh dan mengecilkan perut. Selain perilaku sehat dalam pola makan dan latihan , beberapa perilaku juga harus tertanam dalam diri kita sehingga implementasinya terlaksana secara spontan dan otomatis. Khusus bagi kaum wanita, yang juga perlu diperhatikan adalah perilaku berbelanja dan memasak. Sebaiknya tidak berbelanja selagi perut kosong. Susunlah daftar belanjaan sesuai dengan kebutuhan. Jika ingin belanja makanan, datangi dahulu gerai buah dan sayuran. Gerai makanan instan harus Anda kunjungi paling akhir bila memang benar-benar memerlukannya. Khusus untuk makanan buatan pabrik, baca dan perhatikan keterangan gizi pada label kemasannya. Makanan rendah lemak umumnya mengandung kurang dari 5 g lemak atau minyak per saji (serving size). Jangan membeli camilan manis seperti cake, cookies, permen dan cokelat untuk ditaruh di meja makan.   Ganti saja dengan buah-buahan. 

Cara memasak paling baik untuk mengurangi jumlah kalori dalam makanan adalah merebus, menanak, memanggang atau memepes. Khusus untuk sayuran, Anda dapat menumisnya dengan sedikit minyak (misalnya setengah sedok makan minyak). Hindari minyak atau lemak hewan. Gunakan santan encer untuk memasak.  Menggoreng daging atau ikan dengan banyak minyak akan menimbulkan dua kerugian . Pertama, jumlah minyak yang terserap akan berlebihan, apalagi jika makanan itu dibungkus tepung. Kedua, penggorengan daging , ayam, ikan, telur dengan pemanasan tinggi dan penggunaan jelantah dapat mengubah minyak tak jenuh menjadi jenuh dan menghasilkan nitrosamin yang karsinogenik (penyebab kanker).

Perilaku sehat bisa terdapat dalam bentuk exercise, yang bisa berarti aktivitas sehari-hari di rumah dan di tempat kerja. Kegiatan seperti mencuci mobil , berkebun, membersihkan lantai, mencuci piring dapat dikerjakan sebagai bagian dari exercise, asalkan dilakukan dengan senang hati dan santai. Kegiatan yang dilakukan secara terpaksa akan berakibat stres yang memicu pengeluaran adrenalin. Yang tidak kalah penting, tanyakan pada diri sendiri apakah Anda memiliki perasaan cemas, depresi atau stres berlebihan. Semua keadaan ini dapat membuat Anda makan berlebihan sekalipun tak memerlukannya. Buat mengatasinya, mungkin Anda perlu berkonsultasi dengan psikolog sebelum memulai diet dan olahraga. Yang penting , jalankan semua program ini dengan santai dan jangan terpaku pada hasilnya. Penurunan berat sedikit demi sedikit akan memberikan hasil lebih permanen ketimbang penurunan drastis. 

BERAGAM KARBOHIDRAT, Lihat dari Serat, Glikemik, dan Kandungan Oksidannya

SEBELUM berdiet karbohidrat atau diet rendah karbohidrat, sebaiknya kita mengenal terlebih dulu macammacam pengelompokan karbohidrat. Dengan begitu, kita bisa memilih jenis makanan berkarbohidrat mana yang harus kita pantang dan mana yang justru harus kita santap.

Seperti diungkapkan sebelumnya, diet karbohidrat adalah dengan meningkatkan asupan karbohidrat kompleks dan menurunkan asupan karbohidrat sederhana atau simpleks.

Lalu, apa beda dari kedua jenis karbohidrat itu ? Karbohidrat simpleks adalah jenis karbohidrat yang memiliki kadar gula tinggi.  Karbohidrat ini kerap menjadi sebab-musabab naiknya berat badan seseorang.

Sedangkan karbohidrat kompleks adalah jenis karbohidrat yang terdiri dari protein dan serat. Nah, baik atau tidaknya karbohidrat ini ditentukan indeks glikemik. Semakin tinggi indeks glikemiknya, semakin cepat kadar gula darah seseorang meningkat. Akibatnya, makanan itu semakin merangsang seseorang untuk terus makan.

Penderita kencing manis (diabetes mellitus) tidak dianjurkan mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik yang tinggi. Sebab, karbohidrat jenis ini akan menyebabkan produksi insulin menjadi berlebihan

Salah satu contoh yang termasuk karbohidrat simpleks dengan glikemik tinggi yakni kue tart. Karena, kalau seseorang makan kue tart, dia pasti ingin makan lagi… 

Adapun contoh jenis makanan karbohidrat kompleks dengan glikemik rendah adalah sayur-mayur.  Misalnya bayam. Memakannya orang akan cepat kenyang.

Usahakan juga mengonsumsi karbohidrat berserat tinggi. Karbohidrat kompleks identik dengan serat tinggi. Ingat, karbohidrat berserat tinggi tidak mudah diurai sehingga tidak memicu naiknya insulin dalam tubuh. Contoh buah dengan serat tinggi seperti apel, pir, dan jeruk. Sedangkan yang miskin serat, contohnya pisang, nangka, mangga, dan duren.

Selain itu, karbohidrat yang baik juga ditentukan kandungan antioksidannya. Antioksidan ini berfungsi menangkap radikal bebas dalam tubuh. Memang, radikal bebas memiliki fungsi mengubah makanan menjadi energi. Cuma, kelebihan radikal bebas dapat menurunkan mutu DNA.

Makanan yang mengandung karbohidrat dengan antioksidan paling baik atawa istimewa contohnya: bayam, brokoli, kembang kol, selada.

Setingkat di bawahnya adalah: terung, paprika, kol, kacang panjang, dan tomat. Kategori di bawahnya lagi yang masih mengandung antioksidan adalah jeruk peras, seledri, mentimun, anggur.

Good Luck for aLL of us …   

Cinta yang Berawal dari Internet Takkan Awet !!

Sunday, May 25th, 2008

Secara…  lagi banyak nehh jombloers dikantor yang mencoba ‘peruntungan’ mencari jodoh via Situs Perjodohan atau Yahoo messenger 

Terus terang gw tergerak, dan sempat melakukan beberapa "penyelidikan tidak ilmiah" terhadap kaum Adam yang biasa chatting di Y!M.   (Tentu saja) selama ‘penyelidikan’ berlangsung gw mengaku sebagai wanita jomblo berusia 25 tahun yang sedang mencari pacar, hahahaaa…. 

Hasilnya ??? sungguh mengerikan.  Ternyata mayoritas lelaki yang diajak chatting ujung-ujungnya hanya mencari  one night stand  belaka     Di awal-awal perkenalan begitu baik, bijak dan menyenangkan, makin kesana & makin berusaha mengenal ujung-ujungnya ngajak ngamar  juga….. Oalaaahhh sungguh mengerikan !

Bahkan parahnya ada yang sama sekali belum pernah ketemu atau melihat photo wajah kita sudah langsung ngajak ketemuan di sebuah kamar hotel   What a desperate man !  kalau yang diajak chatting berwajah jelek & bertubuh super gendut gw rasa manusia model gini tetap nggak perduli, yg penting perempuan !!  Jangan2 gw kirimin kambing dibedakin juga bakalan diembats sama tipe laki-laki menyedihkan model gini, hahahaaa….. 

Oleh sebab itu saran saya jangan coba-coba mencari peruntungan jodoh anda melalui internet.  Cari aja lelaki ‘beneran’ didunia nyata yang bisa kita langsung nilai kadar kebaikan atau perilakunya.  Mencari pasangan via internet ibarat memilih kucing dalam karung bo!  Bukannya dapat kucing persia malahan dapet kucing garong, hahaha….

Semoga bisa jadi bahaan renungan untuk para jombloers diluar sana….

                                     Dating150

Ini liputannya :

Situs perjodohan di internet memang kian menjamur. Tak sedikit pasangan yang akhirnya mengikat janji sehidup semati karena bertemu di kontak jodoh tersebut.

Namun, sebuah riset baru menyebutkan, cinta yang berawal dari situs perjodohan umumnya tak akan bertahan lama. Hal tersebut karena mereka berakhir dengan memilih seseorang dengan mengandalkan kata hati, tanpa bertatap muka dan mengenal langsung lawannya terlebih dahulu.

Umumnya, para wanita lebih sering salah memilih karena sisi emosionalnya lebih berjalan dari logikanya. Demikian menurut riset terbaru yang digagas oleh sebuah universitas di Australia.

"Padahal Anda tidak bisa mengharapkan segala sesuatunya sama di dunia nyata seperti di dunia maya," tutur ketua riset, Matthew Bambling dari Queensland University of Technology seperti dikutip detikINET dari Reuters, Senin (26/5/2008).

Lebih lanjut diungkapkan, wanita lebih mudah terbuai oleh sekedar omongan atau rayuan dari lawan bicaranya, bahkan hanya melalui email atau chatting saja.

"Hanya karena laki-laki pandai merangkai kata di e-mail, bukan berarti mereka adalah teman hidup yang ideal untuk Anda," tandas Bambling.

Menurut riset, tak sedikit para wanita dan lelaki single yang kecanduan berkutat di situs perjodohan. Padahal, belum tentu semua informasi yang diungkapkan mereka benar adanya.

"Tak mungkin mereka menuliskan, saya duda pemabuk yang telah lima kali menikah dan mencari pasangan hidup, pilihlah saya" tutur Bambling.

Menurut periset, ada baiknya para pencari jodoh tidak terlalu lama terbuai dengan hubungannya di internet. Sebaiknya, setelah beberapa kali kontak di internet, langsung saja bertatap muka untuk meyakinkan diri, apakah dia benar-benar untuk Anda.   

David Cook wins “American Idol”

Thursday, May 22nd, 2008

Ngelihat David menangis semalam di lagu terakhirnya, gw jadi ikutan nangis. Byangkan, cowok se-macho dia ternyata disaat tertekan seperti itu ujung2nya bakalan nangis juga…   Th_angel_1

I Love You David Cook !!!!!!!!

Rocker David Cook won the coveted title of "American Idol" on Wednesday, dealing an unexpected but decisive defeat to a silken-voiced teenager, also named David, on the most popular U.S. television show.

Cook

Cook, 25, who was tending bar and playing in a band before he auditioned for the singing competition, stood back to applaud rival David Archuleta, 17, and then bent over crying after host Ryan Seacrest said he had won by 12 million votes.

2davids

"This is amazing. Thank you," said the Blue Springs, Missouri, native, who in addition to being crowned this year’s "Idol" will receive a recording contract.

It has produced mega-stars from both winners and losers, including Kelly Clarkson, Carrie Underwood and Chris Daughtry

This season, however, average audiences on the show have slipped from just over 30 million viewers last year to roughly 28 million this year, the second straight year of declines.

Nevertheless, the dueling Davids garnered a record 97.5 million votes between them, smashing the previous record by 23 million. The contest was decided by a telephone and text-messaging vote in which Cook received 56 percent to Archuleta’s 44 percent.

Throughout this year’s months-long competition, Cook wowed both the show’s viewers and judges with updated, rock versions of pop classics like Lionel Richie’s "Hello" and Michael Jackson’s "Billie Jean."

On Tuesday night’s show, however, the judges said the babyfaced Archuleta had outperformed Cook with his pitch-perfect renditions of John Lennon’s "Imagine" and Elton John’s "Don’t Let the Sun Go Down on Me."

Acid-tongued judge Simon Cowell criticized Cook for choosing a song he had never performed before during his last chance to woo voters and called the evening "a knockout" by Archuleta. Cook sang Collective Soul’s "The World I Know" instead of reprising one of his best-loved performances of the season, as Archuleta did with "Imagine."

SIMON APOLOGIZES (brengsek kau Simon !!! hahahaaa)

But just before Seacrest announced the results on Wednesday, Cowell – in an unusual move for him — apologized for his comments from the previous evening.  Laugh_1

"I went back home to watch it, it wasn’t quite so clear cut as we called it," Cowell said, adding to Cook: "I will take this opportunity to apologize because I think I was verging on disrespectful with you. I don’t think you deserved that."

Backstage, Cook said he didn’t think Cowell’s comments warranted an apology, though he was happy to receive it.

"An apology from Simon is a pretty rare gem," he said, adding that he had not expected to win the "Idol" title.

Also backstage, a giddy Archuleta was effusive in his praise of Cook.

"He’s like my big brother," Archuleta said. "I have looked up to him since the beginning of this. I just feel so honored to be standing next to Cook."

About 100,000 people auditioned for this year’s "American Idol," which puts contestants through auditions and performances that showcase musical genres from musical theater to country to pop.

"Idol" has also become a coveted forum for established artists to be seen. Wednesday night’s star-studded show at the Nokia Theatre in downtown Los Angeles included performances by George Michael, Donna Summer, Seal, Underwood and Bryan Adams

The "Davids" duel is the first time two male contestants have competed for the "Idol" title since Ruben Studdard defeated Clay Aiken in the show’s second season in 2003.

However, a showdown between the two was widely anticipated as neither ever landed among the show’s bottom three vote-getters on the weekly broadcasts in which contestants are whittled down before one is sent home.

Under Cowell’s deal with Fox, he has the rights to sign the winning singer and runner-up from each "Idol" contest to a recording contract with his label, Sony BMG, a partnership between Sony Corp and Bertelsmann.   

Anak UI, anyone ???

Thursday, May 22nd, 2008

Dapet info dari Mas Adhie M. Massardi.  Is it true ??    kok gue jadi ‘ngenes’ membacanya (apabila memang benar begitu kejadiannya… ).  No wonder mahasiswa sekarang nyaris gak ada riaknya ditengah keterpurukan kondisi ekonomi saat ini.  Apakah karena zaman sekarang hanya anak-anak orang mampu saja yang bisa kuliah ? sehingga para Mahasiswa tidak merasa mengalami yang namanya kondisi perekonomian sekarang yang sedang sulit ?  Wallahu Alam…. 

Atau mungkin mereka ‘kapok’ dengan Reformasi ? alias takut disalahin lagi oleh masyarakat karena ‘berkat’ mahasiswa menjatuhkan Rezim Orba kondisi Indonesia sekarang malahan makin terpuruk ??  Cuma mereka yang bisa menjawab ….   

‘SKANDAL’ 100 TAHUN PERAYAAN HARKITNAS

Perayaan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Stadion Senayan, Selasa malam, 20 Mei 2008 sebenarnya bisa dibilang spektakuler. Maklum, dibiayai dengan belasan milyar rupiah.

Tapi sebagian (besar) masyarakat menontonnya dengan perasaan yang hambar. Karena digelar di tengah kepanikan rakyat menghadapi mahalnya harga kebutuhan hidup dan ancaman dinaikkannya harga BBM oleh SBY. Apalagi pada hari yang sama, seorang suami yang didera kemiskinan membunuh istrinya hanya gara-gara sepotong ayam goreng. 

Puluhan ribu mahasiswa yang diboyong ke stadion dibayar 100 ribu per orang, via rektor masing-masing universitas. Mahasiswa Universitas Indonesia yang selama ini dipandang steril dari bayar-bayaran, untuk acara 20 Mei yang dihadiri Presiden dan Wapres, ternyata (5 ribu mahasiswanya) bisa digiring rektornya, dengan ongkos dari panitia, konon, 100 ribu rupiah per kepala. Ini aneh… !

Kalau berita ini benar-benar begitu, ini akan menjadi bencana besar bagi UI yang bergengsi itu.

Semoga hari ini bukan merupakan hari kejatuhan pamor UI. 

DPD VS DPR @ MAHKAMAH KONSTITUSI

Thursday, May 15th, 2008

Berikut ‘intisari’ Sidang Lanjutan yang menghadirkan saksi-saksi ahli baik dari Pihak DPD ; DPR maupun dari Pihak Pemerintah.  Sidang Judicial Review lanjutan ini sendiri berlangsung pada hari Selasa / 13 Mei 2008 @ R. Sidang Utama Mahkamah Konstitusi. 

Walau kakak-ku tertjinta menjadi Tim Kuasa Hukum ‘Pihak Lawan’    aku tetap berpegang pada pepatah :  sɛm pər ˈfаɪ =  "Always faithful to the Corps" dan am  still (and will)  proud to be part of DPD (walau sering dipandang sebelah mata oleh "Saudara Tua" di Gedung sebelah, hahahaaaa….)   


AHLI DPD KLAIM SYARAT DOMISILI DAN NON-PARTAI POLITIK DALAM KONSTITUSI

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersikukuh, penghapusan syarat domisili dan non-partai politik dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau UU Pemilu tidak bertentangan dengan Undnag-Undang Dasar 1945. Bahkan sangat sesuai dengan prinsip semua orang mempunyai kedudukan sama di hadapan hukum dan pemerintahan.

Sementara Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menilai, DPR saat ini sudah “pintar”. Dalam mengakali undang-undang, DPR tidak secara langsung berhadapan dengan konstitusi tetapi bermain kata-kata. 

Pernyataan tersebut mengemuka dalam sidang lanjutan uji materiil UU 10/2008 di Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi (MK) yang dipimpin Ketua MK Jimly Asshiddiqie, Selasa (13/5) di Gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta.

Perwakilan sekaligus kuasa hukum DPR, Pataniari Siahaan dan Lukman Hakim Syaefuddin, menyinggung legal standing para pemohon. Menurut Pataniari, permohonan DPD secara kelembagaan tak relevan dengan legal standing yang mengacu pada Pasal 22C ayat (1) dan Pasal 22E ayat (4) UUD 1945.

“Yang dipersoalkan pemohon dalam UU Pemilu adalah persyaratan untuk menjadi anggota DPD. Pasal 12 dan Pasal 67 UU Pemilu mengatur syarat keanggotaan DPD. Artinya, lembaga DPD (yang baru) belum terbentuk. Itu tak ada kaitannya,” ujarnya.

Pataniari juga menyebutkan, tidak adanya syarat domisili dan larangan orang partai politik menjadi anggota DPD merupakan perwujudan asas kesamaan kedudukan di hadapan hukum dan pemerintahan yang diatur konstitusi. Yang dimaksudnya adalah Pasal 27 ayat (1) UUD 1945.

“Setiap orang bisa mencalonkan diri menjadi anggota DPD. Tak peduli ia termasuk orang partai politik atau bukan, berada di domisili daerah yang akan diwakilinya atau tidak, asal pencalonan itu atas nama diri sendiri, bukan atas nama partai politik,” tegasnya.

Selain itu, tambah Pataniari, konstitusi tidak mengharuskan calon anggota DPD berdomisili di daerah yang akan diwakilinya. Karena konstitusi sendiri memberikan hak konstitusional sama kepada setiap orang sepanjang mencalonkan diri sebagai perseorangan.

Lukman juga memberikan pembelaan. “Dalam UUD 1945 semua berhak menjadi anggota DPD atas nama sendiri juga mewakili provinsi, jadi tidak perlu dipertegas lagi dalam UU,” katanya. Pasal yang dihapus dari UU Pemilu tidak menunjuk langsung kepada anggota DPD secara personal, melainkan secara institusi.

Karena itu yang berhak mengajukan keberatan adalah DPD bukan anggotanya.”Saya bingung. Di sini (pemohon) ada anggota DPD, ada LSM (lembaga swadaya masyarakat), ada yayasan. Kenapa tidak dijadikan warga negara biasa saja agar lebih mengena,” imbuhnya.

Menanggapi pendapat kuasa hukum DPR itu, penasihat hukum pemohon Bambang Widjojanto mengatakan, pasal-pasal yang dimohonkan adalah permainan frase DPR, tapi substansinya tetap, partai politik ingin menguasai DPD.

Ia menilai penggunaan pasal hak asasi manusia oleh DPR terlalu umum. DPR tidak bisa “nembak” ke Pasal 27 UUD 1945 karena yang dipersoalkan pemohon hanya kewenangan DPD. Seharusnya DPR merujuk ke Pasal 22C ayat (1) dan Pasal 22E ayat (4).

Menurutnya, setiap orang bisa saja menggunakan pasal itu. Tetapi harus dilihat relevansinya.

Bambang juga mengatakan, dalam mengakali UU, DPR tidak lagi secara langsung berhadapan dengan konstitusi namun sudah bermain kata-kata. “Pasal-pasal yang kita mohonkan adalah permainan frase, tapi substansinya tetap. Partai politik ingin menguasai DPD. DPR sudah pintar, tidak vis a vis dengan konstitusi,” katanya dalam sidang.

Setelah rehat sekitar satu setengah jam, sidang perkara uji materi UU Pemilu dilanjutkan kembali. Usai mendengarkan DPR, giliran para ahli menyampaikan keterangannya.

DPD, selaku pemohon, mendatangkan tiga ahli dan satu saksi yang ikut terlibat dalam pembahasan UU Pemilu. Tiga ahli itu adalah pakar hukum tata negara dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) John Pieris, pakar ilmu dari Universitas Indonesia (UI) politik Arbi Sanit, dan pakar politik pemerintahan dari The Indonesian Institute (TII) Cecep Effendi. Sedangkan saksi adalah mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Dalam Negeri (Depdagri) Progo Nurdjaman. Pemerintah menghadirkan dua ahli, yakni Syafri Nugraha dan Zudan Arif Faturullah.

Sesuai dengan keahliannya, John berbicara mengenai konstitusi. Mantan anggota Komisi Konstitusi (KK) ini menilai penghilangan syarat domisili dan larangan pengurus partai politik menjadi anggota DPD telah menabrak konstitusi. Ia mengungkapkan kedua item sebenarnya diatur konstitusi, berdasarkan penafsirannya.

Ia mengutip Pasal 22C ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi “Anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum”. Ia menyoroti frase “dipilih dari setiap provinsi” yang menunjuk kepada syarat domisili. “Jadi setiap orang yang ingin menjadi anggota DPD, harus berdomisili dari provinsi yang akan diwakilinya,” tafsirnya.

John memandang dari sudut etimologis. Menurutnya, definisi provinsi sangat dekat dengan pengertian ruang, asal, tempat tinggal, dan domisili. Penafsiran akan berubah bila kata “dari” diubah menjadi “di”. “Kalau frasenya berbunyi “dipilih di setiap provinsi”, maka tak perlu berdomisili di daerah yang diwakilinya,” tegasnya.

Mendengar penafsiran yang dikemukakan oleh ahli ini, anggota Komisi III DPR yang menjadi anggota kuasa hukum DPR Lukman Hakim Saefuddin mengatakan, “Itu kan hanya tafsir dari pemohon (ahli pemohon) saja,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa makna frase itu sebenarnya sederhana. “Maknanya adalah setiap provinsi harus punya wakil di DPD. Tak ada provinsi yang tak terwakili,” tambahnya.

Non-Partisan

Tak hanya domisili, John juga berbicara mengenai sifat DPD yang non-partisan. Orang partai politik dilarang berkiprah di DPD. UU Pemilu memang tak mengatur hal itu. Non-partisan dinyatakan John terdapat dalam Pasal 22E ayat (4) UUD 1945 yang berbunyi “Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah adalah perseorangan”. Ia membandingkan dengan Pasal 22E ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi “Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah partai politik”.

Menurutnya, pembagian tersebut sudah jelas. DPD untuk perseorangan, sedangkan DPR dan DPRD untuk orang partai politik. Karenanya, ia sangat menyayangkan tak adanya larangan orang partai politik berkiprah di DPD dalam UU Pemilu, padahal dalam UU Pemilu sebelumnya (UU12/2003) larangan itu jelas dinyatakan.

Hakim Maruarar Siahaan menyindir keterangan kuasa hukum DPR yang mengatakan hilangnya syarat domisili dan larangan orang partai politik berkiprah di DPD merupakan perwujudan persamaan kedudukan di hadapan hukum dan pemerintahan. “Kalau seperti itu, apa bisa perseorangan mencalonkan diri sebagai anggota DPR ?” tanyanya.    (kumaha atuuh Pak hakim, emang gak baca UU Pemilu 2008 Pasal 7 : Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota adalah partai politik.  )

Sedangkan hakim A Mukhtie Fadjar menilai penggunaan kata non-partisan tak tepat. Ia mengingatkan bahwa larangan untuk berkiprah di DPD dalam UU Pemilu yang lama hanya untuk pengurus partai politik saja. Anggota partai politik tidak dilarang. “Mungkin sampai saat ini, masih ada anggota DPD yang jadi anggota partai politik,” ujarnya.

Kesaksian “Orang” Pemerintah

Sidang juga mendengarkan kesaksian mantan Sekjen Depdagri. Progo yang dihadirkan DPD pernah terlibat pada pembahasan UU 12/2003 (UU Pemilu lama) dan UU 10/2008 (UU Pemilu baru) sebagai wakil Pemerintah.

Progo menceritakan sengitnya perdebatan ketika membahas UU 12/2003. Kala itu, pihak Pemerintah harus meyakinkan DPR agar mencantumkan syarat domisili dan larangan bagi pengurus partai politik. Akhirnya, Pasal 63 UU 12/2003 mencantumkan persyaratan itu.

Sayangnya, keberhasilan Progo tak terulang pada pembahasan UU 10/2008. Syarat yang memang tercantum dalam draft rancangan undang-undang (RUU) versi Pemerintah tak ketahuan rimbanya. “Persyaratan itu bukan hilang, tapi tak muncul lagi,” candanya.

Atas kesaksian tersebut, Lukman mengatakan, UU Pemilu baru merupakan produk DPR bersama Pemerintah. Kalau Pemerintah tak setuju, hak veto bisa digunakan. UUD 1945 memang menyatakan UU merupakan hasil kesepakatan bersama antara DPR dan Pemerintah.

“Tapi kan akhir pembahasan Pemerintah tak mempersoalkan itu. Memang Mendagri (Menteri Dalam Negeri) katanya akan menggunakan hak veto. Tapi ternyata dia tetap menyetujui,” pungkas Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) DPR ini. 

Negara Gagal

Thursday, May 15th, 2008

Apa yang disebut dengan negara gagal ? Definisi dapat bermacam-macam dan orang dapat berdebat mengenai hal itu tanpa henti. Jadi, lebih baik disebutkan beberapa kriteria atau ciri khas yang banyak disepakati di dunia ini mengenai apa yang disebut sebagai negara gagal. Yang terpenting adalah hal-hal berikut ini.   

·         Terasa tidak ada lagi jaminan keamanan: orang merasa tidak aman dan tidak nyaman dan ingin mengungsi ke negeri orang. Kasus perusakan tempat-tempat ibadah merupakan salah satu hal yang khas bagi negara gagal.

·         Pemerintah seakan-akan tidak lagi dapat menyediakan kebutuhan pokok, seperti pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, penyediaan bahan kebutuhan pokok (Indonesia: gas dan minyak tanah seperti yang terjadi belakangan ini). Infrastruktur menjadi semakin tak keruan dan tidak efektif lagi.

·         Korupsi merajalela dan justru dilakukan oleh lembaga yang sebenarnya mempunyai tugas pokok melindungi rakyat, masyarakat, dan negara terhadap gangguan korupsi itu, seperti DPR, DPRD, Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, kepolisian, dan anggota kabinet. Di negara-negara gagal sebenarnya justru negara itu bersekongkol dengan para preman, mafia, dan teroris.

·         Bentrokan-bentrokan horizontal di antara kelompok etnisitas yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Hal itu menunjukkan ketidakberdayaan aparat negara.

·         Kehilangan kepercayaan masyarakat yang merata dan menyeluruh.

Apakah Indonesia sudah menjadi negara gagal ? Tidak! (Atau belum) setidak-tidaknya, tetapi Indonesia menuju dengan cepat ke arah itu.

Di dunia ini sudah didaftar beberapa negara gagal, Indonesia belum termasuk. ( ???  IMHO, negara kita sudah masuk negara gagal, at least dimata Rakyatnya sendiri….) Namun, jika dibiarkan terus tanpa ada tindakan drastis untuk mencegahnya, hal itu akan menjadi kenyataan. Beberapa orang ahli atau beberapa lembaga internasional sudah mulai menyebut-nyebut bahwa Indonesia sudah harus sangat waspada dan berhati-hati. Berusahalah sekuat tenaga agar Indonesia tak jatuh menjadi negara gagal.

Resep untuk

Indonesia

Pertama

,

Indonesia

sudah harus mempunyai pemimpin baru: seorang pemimpin yang tegas, jelas, dan keras, di mana perlu kejam, tetapi adil. Sosok pemimpin seperti ini berani bertindak dan berani mempertanggungjawab

kan

tindakannya tanpa banyak cingcong.

Kedua, melihat keadaan yang semrawut dan kaotis di sekeliling kita, sebenarnya pada saat ini sudah harus ada sense of emergency and sense of urgency. Bahkan, negara

Indonesia

ini sudah harus berada dalam keadaan darurat. Jadi, pemerintah yang mencoba menegakkan benang yang sudah basah ini sudah harus memerintah dengan dekret.

Ketiga, mulai membenahi perekonomian nasional. Ini berarti, langkah perekonomian nasional yang tidak dihalangi oleh kesenjangan aturan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Masalah otonomi Indonesia kini merupakan struktur federal yang sangat kacau, suatu bom waktu yang ditinggalkan Orde Baru.

Keempat, hentikan korupsi besar-besaran dari pusat hingga daerah, dari yang tertinggi hingga ke yang terendah. Bila perlu, terapkan hukuman mati. Di Indonesia, orang berkorupsi karena yakin bahwa dia akan lolos asal saja cukup duit untuk menyogok para hakim dan lain-lain. Jadi, persyaratannya korupsi itu harus besar.

Kelima, hentikan pertikaian horizontal antarkelompok, antarkampung; pertikaian sewaktu menonton pertandingan sepak bola: antarpenonton, antara penonton dan pemain, mengejar dan memukuli wasit, melempar batu; pertikaian antarsuku, antarmahasiswa yang saling lempar batu; melempar batu ke gedung- gedung yang dibangun dengan uang rakyat; dan hentikan main hakim sendiri.

Kita ini manusia biasa. Hidup rakyat sudah sedemikian berat dan keadaan Indonesia ini sudah sedemikian terpuruk, janganlah kita perburuk keadaan dengan tindakan-tindakan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Tugas para pejabat Indonesia sudah sedemikian berat dan sukar. Jangan ditambah lagi dengan tindakan yang tidak perlu. Bangsa dan negara sudah demikian miskin, janganlah merusak kantor, pagar-pagar kantor atau sekolah, gedung sekolah atau gedung yang dibangun dengan darah rakyat.

Keenam, embuskan kembali semangat juang yang pernah kita miliki dan bangkitkan kembali patriotisme dengan definisi dan nilai-nilai baru sesuai dengan panggilan zaman atau Zeitgeist. Inilah saat bagi kita semua di ma- na-mana untuk memetakan 100 tahun berikutnya bagi Kebangkitan Nasional yang kedua.

Kita butuh apa yang disebut Umwertung aller Werten (perombakan semua tata nilai) dan suatu Umwertung von Grund aus (perombakan menyeluruh dari akar- akarnya). Mari kita bangun masyarakat berbasiskan pengetahuan karena abad ke-21 ini sarat dengan pengetahuan dan teknologi. Kita harus berubah secara menyeluruh: sikap hidup, cara hidup, gaya hidup, pola pikir, dan mindset kita.

Secara keseluruhan bangsa Indonesia sangat membutuhkan suatu perubahan budaya ke budaya teknologi dengan masyarakat berbasiskan pengetahuan. Cara lain tidak ada !

====================================================================

Tulisan diatas dibuat berdasarkan kajian yang mendalam dan intisari hasil pemikiran salah satu Putra terbaik & kebanggaan bangsa Indonesia yaitu Professor M. T. Zen.   Beliau adalah Guru Besar ITB dibidang Geologi ; Geofisika dan aneka Geo-Geo lainnya    pokoknya beliau adalah sosok yang pinter abisss dan (kadang) suka bikin malu gue dkk. yang muda-muda   secara… di usia beliau yang sudah pinisepuh, beliau masih sangat bersemangat memikirkan nasib Bangsa ini.  Sangat idealis dan sangat perduli pada kondisi Bangsa yang sedang amburadul ini.

Sekarang yang dibutuhkan pemimpin Tertinggi di Negara ini adalah KEBERANIAN, yang mana hal itu tidak ada dan tidak adanya wibawa seorang Presiden dimata bawahan atau rakyatnya…. 

IMHO, negara kita sudah gagaL mensejahterakan rakyatnya.  Nggak bisa nyediain pendidikan murah… gak bisa nyediain sembako murah… *paling menggelikan* sebagai negara penghasil minyak tapi tidak bisa menyediakan BBM murah, bahkan cenderung semakin menurunkan produksi dan menaikkan harga IN THE NAME OF "demi kemakmuran & kesejahteraan rakyat"  (???)

Orang paling b3go-pun tau nggak ada tuh namanya kebijakan naikkin harga bakalan nantinya berimbas pada kesejahteraan rakyat.  Duuuhh…  setelah 3.5 abad dijajah Belanda kok nasib bangsa ini semakin terpuruk karena sekarang yang menjajah adalah Para pemimpinnya sendiri.

Please God save our soul….