Archive for November, 2008

Setuju masuk Sekolah pukul 06.30 ??

Friday, November 28th, 2008

Sudah seminggu ini orang-orang yang berkantor @ Komplek Parlemen Senayan berisik nian membahas soal yang sama :  Yaitu kebijakan Pemda DKI yang akan mulai berlaku pada 1 Januari 2009 bahwa semua anak sekolah masuk mulai pukul 06.30 pagi !!

Rekan-rekan (yang kebetulan mayoritas) dan  punya anak dibangku TK atau SD tentunya yang paling banyak protes dan ‘mengutuk’ Keputusan pemda DKI tersebut.  Celakanya lagi, saya sebagai Staff Sekretariat DPD Provinsi DKI termasuk yang ikutan ‘dicari untuk dititipkan’ hujatan kepada Gubernur.. haha  :)
Adapun beberapa komentar yang saya (ingat) dan saya catat sejauh ini sbb :

Sitha : “Emangnya dengan memindahkan jam sekolah jadi jam 6.30 sudah bisa diyakini untuk mengatasi kesemrawutan dan kemacetan Ibu Kota ?  Mana dulu janjinya “Serahkan Pada Ahlinya ?”  Klo bikin kebijakan gini mah gue gak harus sekolah jauh2 ke Jerman…”   (sambil emosi tentunya).

Nina : ” Kebijakan yang bagus tau ?? anak saya jadi bisa dibangunin pagi2 untuk sholat subuh karena biasanya sulit sekali membangunkan dia dibawah jam 6 pagi.  Kalo sudah terbiasa, aku yakin itu menjadi hal yg positif kok”    (typikal Ibu Alim)

Hendra : “Kebijakan yang ngawur nih, mengorbankan anak-anak, Komnas HAM ANAK seharusnya turun tangan buat ngebela hak & kepentingan anak. Bang Foke itu seharusnya bikin aturan yang harus masuk
lebih awal adalah para PNS, supaya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik !!!   (ngomongnya sambil melotot ke arah saya, karena saya adalah PNS…  )   :)

Rini : “Mil, kamu khan tau saya tinggal di Bekasi.  Anak saya sekolah di SMP Negeri @ Jakarta, sekarang aja belum ada aturan baru itu dia harus berangkat jam 5 dari rumah karena ikutan mobil antar-jemput.  Dia harus ‘keliling’ dulu jemput temannya yang lain2 sebelum sampai disekolah jam 07.00 pagi.  Kalau begini caranya tandanya dia harus berangkat jam 4 pagi dong ??? Bagaimana ini nasib anakku ??”  (dengan wajah sedih seorang Ibu yg gak rela anaknya disakiti…. )

Angga : “Gimana sih Pemda DKI bikin aturan kok mengorbankan harkat hidup seorang anak ??  Kalau mereka gak becus ngurusin tyransportasi di Jakarta ya akui saja, lantas buatlah kebijakan yang pro publik.  Kok beraninya sama anak kecil (anak sekolahan) yang belom bisa ngelawan klo di-dzolimi ??”   (sambil cemberut ke arah saya, seolah2 saya adalah bagian dari Lingkaran Terdekat Bang Foke… )

Astin : “Apakah nggak ada solusi lain bagi pemda DKI ? Anak-anak perlu banyak waktu istirahat lhoo jeng, supaya bisa berpikir jernih di saat KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berlangsung. Lha, kalo capek duluan, mana sempet mikir. Jadinya ntar malah asal-asalan ngerjain tugasnya.  Mau jadi apa Bangsa ini kalau anak-anak sekolahnya saja sekolah sudah gak becus akibat jam pelajaran mereka di-forsir pihak Pemda ?”   (bicara dengan nada halus tapi sambil  celingak-celinguk seolah2 takut didengar orang lain…. )

Sony ( ngomong santai sambil mengebulkan asap rokok )  : Kita tahu laah makin pagi makin kosong jalanan dan makin cepat kita bisa mencapai jarak yang sama.  Sudahlah, sekali-sekali bersuara agak positif sama pemerintah napa ? Niatnya OK tuh.  Saya sendiri ngerasain klo lagi hari Libur anak sekolah jalanan jadi rada sepi dikit, gak semacet biasanya.  Masa’ sih tidur lebih cepat 30 menit dan bagun pagi lebih cepat 30 menit gak mau ??  pengorbanan yg gak terlalu besar kok…”    (dalam hati saya membatin : dulu waktu Perda larangan merokok di-umumkan kok reaksi ente gak kaya’ gini ?? )

Maya : “mana suara para Anggota DPD Provinsi DKI terhadap masalah kebijakan ini ?  Kok gak pernah saya baca di surat khabar ??  Kritik dong Bang Foke, emang takut ? Bosan gue cuma bisa curhat sama elo tanpa dapat tanggapan yg pantas ?@@!#@!”    ( Ooops…..   saya-pun cuma ikutan nyengir mendengarnya ).

Oke… Oke…. that’s it !  8 orang aja yang saya catat komentarnya disini, karena selain paling saya ingat, juga mereka adalah teman-teman dekat saya.   Tercatat 6 kontra dan yang pro cuma 2 orang saja.   :)
Kalau ditanya dan (dipaksa) menjawab secara pribadi saya sendiri terus terang agak keberatan dengan kebijakan yang akan diterapkan oleh Pemda DKI ini.  Bukan karena saya malas bangun pagi, atau kasihan dan tak tega membangunkan anak-anak saya untuk bangun dipagi subuh… bukan itu.   Yang paling saya fikirkan malahan nasib para guru-guru anak saya.  :)
Mayoritas guru disekolah anak-anak saya tinggal di perumahan Lingkar luar kota Jakarta seperti Bekasi, Pondok Gede atau Cibubur.   Tanpa aturan ini mereka sudah terbiasa berangkat dari rumah pukul 5 pagi.  Karena guru tidak ada kendaraan antar jemput dan mayoritas tidak punya kendaraan (mobil atau motor), maka mereka berangkat naik Bis Umum.  Tidak terbayang oleh saya, sang Ibu guru… wanita baik hati berusia 48 tahun…   (orang yang ’mengambil alih’ tugas yg seharusnya saya jalani sebagai pendidik anak ), orang yang memberikan ilmu kepada anak saya setiap hari…  jadi harus naik Bis Umum setiap jam 04.00 pagi dengan adanya aturan ini.   :(
Kalau anak-anak saya sih saya tidak terlalu ambil pusing, tokh sekolah mereka dekat dari rumah.  Tinggal dibangunkan lebih pagi 15 menit, problem solved !

Hal krusial lain yang merupakan ‘chain reaction’ dari Kebijakan ini adalah terpotongnya waktu para orang tua untuk bersama dengan anak-anak mereka.  Saya saja yang sampai rumah antara jam 19.00-20.00 malam,  kadang merasa sangat kurang bisa membagi waktu dengan anak.   Bayangkan bila anak dipaksa masuk lebih pagi, tandanya mereka harus tidur lebih dini bukan ?  misalnya anak saya yang biasanya tidur pukul 21.00 WIB, dengan adanya kebijakan ini… supaya tidurnya cukup, maka dia harus memajukan jam tidurnya menjadi pukul 20.00 WIB.  Lantas kapan dia ada waktu bertemu ibunya ini disaat malam ?  :(
Kita semua tau, maksud dan tujuan Pemda DKI ini baik… namun, terkesan emosional dan emoh mengambil keputusan jangka panjang yang bisa memuaskan semua pihak.  Yang tidak tersentuh oleh kebijakan memajukan jam sekolah ini justru inti permasalahan kemacetan lalu-lintas di Jakarta : rasio kapasitas tampung jalan dan jumlah kendaraan yang ada di DKI, serta tidak adanya pembatasan usia kendaraan yang tentunya semakin membuat padat & semrawutnya jalan raya.

school-bus

Chain reaction lainnya saya sempat dengar dari rekan saya Wahyu  “perubahan pola hidup yang sudah menjadi kebiasaan setiap hari ini dapat  mempengaruhi mental anak saya lhoo Mil.  Dia jadi stress karena harus berangkat kepagian dan tidur juga kesorean.   Belum lagi jika jam sekolah dimajukan berarti saya juga harus berangkat lebih awal karena saya khan nge-drop anak saya disekolah setiap hari dan jadinya tiba di  kantor lebih awal deh.  Waktu saya menjadi tidak efektif dan ini juga dapat  berdampak bagi pemborosan listrik di kantor karena jika saya datang lebih cepat dan menggunakan komputer, berarti penggunaan  listrik menjadi bertambah.”     (benar juga …. make sense to me. Sampai sejauh itu-kah ternyata efek berantainya ???  )

“Kebijakan mengurangi kemacetan ini akibat Pemprov DKI tidak mampu mengurus kotanya,  jangan dibebankan kepada anak sekolah duonk. ”  Kurang lebih itulah yang mereka katakan pada saya.  :)
Apa kata Pihak Pemda DKI mengenai hal ini ?  Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengungkapkan memajukan jam sekolah adalah salah satu cara cepat mengatasi kemacetan.   “Untuk mengatasi macet dapat dilakukan dengan menambah jalan dan bus, namun hal itu tidak dapat dilakukan dengan cepat,” kata beliau.

Pak Prijanto mengatakan, tidak tepat bila kebijakan dikatakan tidak efektif.  Bagaimana mungkin dikatakan tidak efektif, karena kebijakannya saja belum  dilaksanakan.  Menurutnya, komentar negatif masyarakat mengenai kebijakan ini adalah  kasuistis dan pribadi.  “Misalnya komentar soal lokasi rumah yang jauh dari sekolah,” ucap beliau.

Prijanto juga tidak setuju bila kebijakan ini dikatakan memperkosa hak asasi anak. “Kalau dalam Islam, anak-anak sudah dididik untuk bangun pagi dan sholat subuh pada pukul 4 pagi,” kata dia.    :)
Ia berkilah bila dicek ke sekolah-sekolah, sekarang pukul 06.30 WIB sudah ramai dengan para siswa.

So, jadi mana yang benar ?  waktu-lah yang akan membuktikan.  Dan kita semua para orang tua tentunya berharap, bila dikemudian hari TERBUKTI KEBIJAKAN INI TIDAK EFEKTIV, mohon Bapak Gubernur dengan berbesar hati membatalkan kebijakan ini demi kebaikan semua pihak.

Buat para Ayah & Ibu diluar sana….. sabar yhaaaaaaaaaaa ???   :)

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa itu …

Tuesday, November 25th, 2008

Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru //  Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku // Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku // Bagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu // Engkau bagai pelita dalam kegelapan // Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan // Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa //

Hellow…. anyone ??  masih ada yang ingat lagu itu ?   :)  saya sendiri (terus terang nihh) harus menelphone teman dulu saat menuliskan teks lagu diatas, buat nanya tentunya “ehh, elo hafal gak lagu Pahlawan tanpa tanda jasa ?  nyanyiin buat gue donk.  Buat refresh my memory..”   :)
Pagi-pagi hal pertama yang saya lakukan ketika melompat dari tempat tidur adalah mengirim SMS buat kedua Kakak saya,  kedua-duanya sudah menjadi guru SMA selama lebih dari 20 tahun.   Hanya saja,  kakak atau Uni saya yang paling tua menjadi seorang guru PNS.  Sedangkan Uni saya yang kedua menjadi guru sekolah swasta Islam yang terkenal paling elit di Jakarta.  Isi SMS singkat saja “Uni-Uniku chayank… SELAMAT MERAYAKAN HARI GURU NASIONAL yhaaaa”.  :)
Uni nomor satu membalas “busyet… aku gak tau kalau hari ini hari Guru, hehe.  Tks anyway sis”

Uni nomor dua membalas “terima kasih muridku…..”

Uni-uniku,  20  tahun lebih mereka menjadi guru, kalau kami kumpul setiap malam minggu dirumah Ibunda.. pasti ada saja cerita mereka soal tingkah polah murid-muridnya.  Uni saya yang menjadi guru PNS tentunya bercerita tentang murud-muridnya yang bersekolah di sekolah Negeri.  Mayoritas berasal dari keluarga miskin, namun itu bukan halangan bagi Uni saya untuk tetap memperlakukan mereka sebagai anak-anak muda yang punya masa depan,  walaupun nyaris lebih dari separoh murid Uni saya itu tidak akan mampu melanjutkan ke jenjang Universitas karena kemiskinan yang mendera orang tua mereka.

Ada cerita lucu, kadang menyedihkan tentang murid-murid Uni saya yang disekolah Negeri itu.  Tapi dari situ kadang saya mendapat masukan “ooh, begini tokh kondisi anak-anak kalangan menengah bawah.  Ada yang bekerja menjaga toko sepulang sekolah, ada yang membantu ibunya menjual gorengan dan bahkan ada yang menjadi tukang cuci baju tetangganya yang lebih mampu untuk mendapat uang jajan tambahan karena orang tuanya cuma mampu membiayai SPP dia setiap bulan saja.   Sedih rasanya mendengar kisah potret buram  dunia anak-anak remaja dari kalangan tidak mampu itu, yang memang nyata terjadi, di Ibukota Negara ini pula yang kita anggap sudah sedemikian maju  !!   :(
Uni saya yang nomor dua & mengajar disekolah Swasta Elit berbeda lagi kisahnya.  Banyak cerita aneh bin ajaib tapi nyata yang dilakukan murid-muridnya.    Nyaris separoh lebih murid Uni saya itu adalah anak orang kaya atau terpandang di Indonesia.  Maka tingkah mereka dirumah-pun seringkali dipraktekkan juga disekolah, dan kadang suka membuat sejumlah guru lainnya merasa tidak berdaya.  Untung Uni saya tidak begitu, hehe.  Kami sudah terbiasa diajari dalam Budaya Minang oleh Ibunda bahwa “wanita adalah sendi negara (dan) penguasa tunggal dirumah”, hahahaa.     Maka pengaruh budaya itu terbawa terus oleh kami anak-anak wanitanya ketika sudah memasuki dunia kerja dan berumah-tangga, hehe.

Diantara ‘keajaiban’ anak-anak orang kaya itu disekolah misalnya ada seorang anak wanita yang mogok tidak mau bersekolah selama berhari-hari.  Ibu bapaknya yang pengusaha batubara nasional pusing bukan kepalang.  Mereka pikir anak mereka menjadi korban bullying teman-temannya disekolah.  Namun usut punya usut, setelah ditanya lebih jauh & mendalam oleh Uni saya (yang kebetulan menjabat Guru BP disekolah tersebut) anak itu mengaku bahwa dia malu sama teman-teman se-Gank-nya disekolah karena dia tak kunjung dibelikan cincin berlian berkarat besar oleh Bapaknya.   What ????    :)
Ada lagi yang Bapaknya seorang pengusaha Nasional yang masuk daftar 100 orang terkaya di Indonesia.  Kalau dia telat bangun pagi, maka dia akan diantar kesekolah naik Helikopter milik Bapaknya, hahaha.  OMG !!!   Belum lagi banyak kisah betapa mereka seringkali sungguh tidak menghargai barang-barang mahal yang mereka miliki.  Taroh HP mahal semacam Nokia N96, E90, Blackberry Bold atau SE Xperia sembarangan diseantero kelas.  Mungkin karena mereka sejak kecil tidak pernah merasakan betapa susahnya mencari uang, makanya mereka anggap gadget2 mahal pemberian orang tua mereka sama nilainya dengan mainan-mainan plastik yang bisa dibeli didepan Gedung SD negeri.

doris-day-teachers

Kembali ke soal guru, saya jadi teringat pada guru-guru saya semenjak saya kecil.  Sambil makan siang dimeja kerja tadi saya sempat membayangkan berusaha mengingat-ingat wajah mereka.   Guru saya waktu TK… guru pertama dalam hidup saya… namanya Ibu Dati dan Ibu Evi.  Ibu Evi galaknya minta ampun, dan karena kebetulan ketika TK saya adalah ‘jagoan’ disekolah   :D     saya seringkali diomelin beliau karena kerjaan saya kalau tidak berantem yhaa ngobrol dikelas, hehe.   Bu Dati beda, beliau sungguh halus dan baik hati, nyaris tidak pernah bisa marah kepada kami.

Guru SD yang saya ingat ??? uhmmm… hanya Pak Nurdin dan Pak Darto.  Itu-pun saya masih ingat wajah keduanya, karena dua-duanya galak dan  tak segan menjewer, menyentil atau mencubit kalau kami nakal, hahaha.    Selebihnya saya tak ingat nama-nama guru lainnya  *hiks*

Apalagi nama-nama Dosen ketika kuliah dulu.  Jangan-jangan yang namanya manusia itu semakin meningkat umurnya, semakin berkurang daya ingatnya terhadap nama-nama gurunya sendiri (atau semakin tidak perduli ?? ).    Dan gak kusangka, saya ternyata mengalaminya sendiri, hehe.

27 tahun sudah usia hymne buat guru ini. Selama itu pula gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ selalu disandangkan kepada guru. Di satu sisi gelar ini amat menyanjung, namun di sisi yang lain justru kurang menguntungkan bagi profesi guru. Pasalnya, seringkali penghargaan yang mereka terima tak lebih dari sekadar pemanis bibir, sloganistis, dan bernuansa verbalisme.   Nah, akibat verbalisme dan sloganisme itulah dunia pendidikan di Indonesia tak kunjung membaik, bahkan terpuruk. Termasuk di dalamnya adalah keterpurukan nasib mayoritas guru itu sendiri. Guru dikesankan sebagai kelompok masyarakat yang melakukan pekerjaan tulus tanpa boleh menuntut hak dan kesejahteraan yang semestinya.   Padahal Guru juga manusia….  yang punya kehidupan,  yang harus dia biayai sehari-hari.   :(
Guru memang bukan satu-satunya elemen penentu keberhasilan pendidikan, namun tidak berlebihan apabila dikatakan guru adalah kunci utama pendidikan. Perubahan kurikulum dengan beragam julukannya — CBSA, KBK, KTSP, atau apa pun sebutannya — tidak akan membawa perbaikan yang signifikan manakala manusia dewasa yang bernama guru itu tidak memahami dan menjalankan profesinya secara kreatif dan bertanggung jawab.    Guru adalah ujung tombak pendidikan, sementara birokrasi pendidikan hanyalah motivator untuk melejitkan kecerdasan dan kreatifitas mereka.

Oleh sebab itu, tak berlebihan rasanya bila hari ini kita luangkan waktu untuk merenungkan nasib guru-guru kita dahulu  (bagaimana khabar mereka semua ya ? ), nasib guru anak-anak kita dan nasib jutaan guru bantu di seluruh Indonesia.  Biarlah Pemerintah tidak memperhatikan mereka, tapi kita sebagai masyarakat wajib untuk memperhatikan nasib para guru.  Paling tidak guru dari anak kita, atau tetangga kita yang menjadi guru, dan atau-atau lainnya.

SELAMAT HARI GURU NASIONAL BAPAK DAN IBU GURU TERCINTA….. :)

teacher1

Teachers…
Paint their minds
And guide their thoughts
Share their achievements
and advise their faults

Inspire a Love
Of knowledge and truth
As you light the path
Which leads our youth

For our future brightens
With each lesson you teach
Each smile you lengthen
Each goal you help reach

For the dawn of each poet
Each philosopher and king
Begins with a Teacher
And the wisdom they bring.

By Kevin William Huff

MINDSET

Saturday, November 22nd, 2008

Dua hari terakhir kemarin sungguh menyenangkan, karena hari-hari saya diisi dengan perbincangan menarik dan berkualitas dengan sejumlah orang-orang cukup pintar dimata saya.  Gosh!  I can’t help my self from smart men…   :)
Entah kenapa, dalam 2 hari itu ada satu nama yang disebut oleh oleh kedua orang berbeda yang ngobrol dengan saya.  Yang satu adalah Pegawai dilingkungan Setjen MK-RI, he’s a good friend of mine & waktu rasanya berhenti berjalan kalau sudah ngobrol dengan dia membahas konstitusi.   :)
Yang satu lagi, seorang presenter & mantan wartawan Tempo yang kalau sudah bicara dengan dia waktu-pun juga rasanya mendadak berhenti (sakin’ menariknya isi pembicaraan beliau).  Kebetulan obrolan dengan beliau kemarin membahas soal DPD dimasa mendatang & apa-apa saja kelemahan DPD di periode sekarang (2004 - 2009) dimata beliau (yang ngakunya sebagai ‘Orang Luar’ DPD ).  :)   Khususnya menyangkut Aspirasi Masyarakat yang selama ini tersumbat dan gak pernah jelas pertanggung jawabannya.  Karena DPD adalah Lembaga Negara yang kinerjanya dibiayai oleh uang pajak masyarakat Indonesia, maka rasanya patut dimintakan ‘pertanggung-jawaban’ kepada para Anggotanya, kenapa ada begitu banyak Aspirasi Masyarakat yang mampet dan tidak tersalurkan sebagaimana mestinya ?

Entah serius atau tidak, rekan yang bekerja di MK itu berkata “you tau nggak Mil, sekarang ada wacana yang sedang dicoba di-realisasikan dikalangan para petinggi negara ini.  Mencoba menukar Sesjen MKRi dengan Sesjen DPD-RI…  Karena semua orang sudah tau Pak Djanedri (Sesjen MK-RI) adalah pekerja keras yang handal & beliau terkenal dengan julukan “a man who CAN FIX ANYTHING”      Maka untuk memperbaiki kinerja Pegawai Setjen & Anggota DPD-RI periode berikutnya (2009 - 2014), beliau akan ditempatkan di Senayan.”

Aku cuma mengangkat alis & memasang ekspresi “sumpe loe ???” .  Rekan-ku itu tetap keukeuh masang wajah serius dan bilang “eeh, aku serius jeng!  Kok kamu malah anggap bercanda sih.  Dan menurut kamu sendiri, kinerja Lembaga tempat kamu kerja itu perlu diperbaiki gak ??”

Saya jawab “iya gw mengaku dehh klo Lembaga tempat gw bekerja itu amat sangat butuh perbaikan, khususnya dalam hal pelayanan kepada masyarakat yaitu penyaluran & penyelesaian aspirasi masyarakat-nya.  Tapi apa perlu sampai harus berganti Sesjen ?? I think Bu Siti CAN HANDLE ANYTHING AS WELL AS YOUR BOSS.. camkan itu !”.

Temenku itu nyengir dan bilang “halah… jangan emosi napa jeng!”  :)
Back to Topic : kedua pria diatas membahas satu nama yang sama yaitu JOHN NAISBITT.  Khususnya mengenai pandangan-padangannya tentang teknologi dan masa depan.  Kedua rekan tersebut kalau saya saring pembicaraan mereka memiliki inti yang sama : selama DPD masih mempertahankan pola kinerja yang tidak ‘akrab teknologi’ seperti sekarang, maka DPD akan ditinggal oleh masyarakat dan bahkan bisa-bisa dilupakan dan lebih baik dibubarkan saja seperti DPA.  Waduhh !  :)
Saya jadi ingat sama buku John Naisbitt yang berjudul MIND SET : RESET YOUR THINKING AND SEE THE FUTURE. Kayanya saya sempat dipinjami Pak eSKa  & saya baca sekitar akhir tahun 2007 lalu (Thank You so much Sir !! ) .  As we know, Naisbitt’s a remarkably prescient futurist.   Dan kaya’nya sulit untuk menyanggah isi bukunya, karena nyaris seluruhnya benar & tidak mustahil akan terjadi di akhir abad ini nanti.

mindset

Dibuku ini Naisbitt menuliskan 11 jenis Polapikir (MINDSET) yang harus diterapkan untuk tercapainya masa depan yang lebih baik di bumi kita ini.

  1. While many things change, most things remain constant :  (Sementara banyak hal berubah, kebanyakan hal tetap konstan).  Bahwasanya perubahan itu tidak akan terjadi dengan sendirinya, melainkan tergantung dari cara kita melakukannya. How we do it changes often - and in big ways.
  2. The future is embedded in the present : Bahwa masa depan itu sebenarnya sudah tertanam sejak sekarang.  Mungkin kita sekarang belum “ngeh” … tapi suatu hari nanti kita baru sadar.  Inti dari pemikiran ini adalah untuk memberikan perhatian pada apa yang terjadi sekarang untuk membangun secara keseluruhan dimasa depan. Naisbitt menyarankan membaca koran sebagai cara terbaik untuk melakukannya.  (hehe, IMHO zaman sekarang tentunya yang kita baca adalah “Online Newspaper dan Blog yang up to date” ).  Let’s go to paperless era !!  :)
  3. Focus on the score of the game :  Maksud yang saya tangkap di point ke-3 ini bahwa kita harus fokus dengan tujuan kita, abaikan segala ocehan & pendapat orang yang bisa membuyarkan tujuan kita.  Perhatikan apa yang benar-benar terjadi.  Ibarat main sepak bola, yang penting itu skor akhir, dan jadikanlah itu sebagai pegangan kita untuk terus fokus.
  4. Understanding how powerful it is not to have to be right :   bahwa kita terkadang harus sadar diri, bahwa bersikap salah-pun kadang bisa menambah kekuatan pada diri kita.  Gak perlu selalu dengerin segala omongan orang.  Fokus saja pada apa yang kita anggap benar.
  5. See the future as a picture puzzle : Don’t try to build your picture of the future as a linear, logical sequence of events.  As with a puzzle, put the easy parts together first, then add other pieces as you see how they fit.  Jadi kita melakukannya tidak grasa-grusu dan tentunya lebih terarah dan lebih bisa dijamin keberhasilannya.   :)
  6. Don’t get so far ahead of the parade that people don’t know you’re in it :  Istilah yang saya anggap pantas untuk point ini kaya’nya JANGAN KEBABLASAN.  People can only comprehend so much change at once - don’t push them so far that you leave them behind.  Karena kaya’nya gak mungkin perubahan itu akan terjadi kalau kita hanya berjalan sendirian…
  7. Resistance to change falls if benefits are real :  Orang perlu memahami manfaat dari perubahan. Setelah mereka lakukan, dan jika manfaat yang ada cukup nyata, mereka pasti akan merangkul perubahan itu.  When people resist change, find out why.  And then address those real concerns.
  8. Things that we expect to happen always happen more slowly :  sama aja laah kalau kita menanti janji temu dengan someone special, nunggu hari H itu datang kaya’nya waktu kok berjalan lambat bangeeet, haha.  :)
  9. You don’t get results by solving problems but by exploiting opportunities :  Cam-kan saja quotation berikut, “Problems are the past.  Opportunities are the future.” Kalau kita hanya berkutat pada masalah-masalah dimasa lalu (seperti yang terjadi pada Bangsa ini berulang-ulang kali…  pantesan saja Bangsa-ku ini tidak kunjung maju, gosh !! ) dan tidak berfikir untuk mengambil peluang untuk menjadi maju dimasa depan, mendingan kita jadi orang mati aja sekalian.  :)
  10. Don’t add unless you subtract :  it’s all about focusing on the few things that are vital, and ignoring the rest.  Don’t add new products without dropping old ones.  Don’t add more people (for the same amount of work) without dropping some lower performers.  Nothing but Agree with it !!
  11. Don’t forget the ecology of technology : bukan hanya makhluk hidup yang memiliki ekologi, teknologi-pun memiliknya.  Every technology has unintended consequences.  Dan tentunya untuk memncapai semua itu kita harus memikirkan apakah dampaknya nanti akan berakibat pada kehidupan manusia.

Naisbitt juga menyadur quotes-nya Lao Tzu :  “To attain knowledge, add things every day.  To attain wisdom, remove things every day.”

Saya pribadi paling suka dengan point No. 10.  Apabila kita melihat ada sesuatu yang tidak berjalan dengan semestinya ditempat kita bekerja, rasanya tangan ini “gatal” pengen membereskan.  Di zaman serba canggih ini, kalau bekerja dengan orang-orang yang (sebenarnya) gagap teknologi, tapi sok pintar-nya minta ampun… itu benar-benar paling menyakitkan.  :)    ( hey, I told Uda Elpris about this matter… dan dia langsung ketawa  + berduka cita dengarnya).  At least I felt so relieved after I told someone about the situation I’m dealing with almost everyday… hehe.  :)