Primadona itu bernama PNS…

Sudah 5 bulan terakhir saya sering mendapat SMS dari beberapa rekan atau kenalan yang awalnya cuma sekedar basa-basi menanyakan kabar tapi di-ujungnya selalu ada pertanyaan “ada Lowongan PNS gak dikantor loe ?”  :)
Saya jadi berfikir sejak mulai terjadinya krisis ekonomi dimasyarakat terhitung sejak tahun 2004 lalu, memang tampak jelas setiap pembukaan lowongan CPNS di berbagai Lembaga atau Pemerintah Daerah manapun di-seantero Indonesia  terjadi antrean yang membludak dan selalu dipenuhi oleh puluhan ribu pendaftar.  Padahal formasi yang tersedia biasanya hanya sejumlah ratusan posisi saja.  Namun begitu, tetap saja masyarakat yang ingin ikut serta dalam test masuk CPNS jumlahnya sangat banyak.  Ibarat main judi, mereka berprinsip “diterima ya syukur, kalau tidak ya coba lagi tahun-tahun berikutnya…”  :)

antri-2

Mengapa Rekruitmen CPNS masih tetap menjadi primadona para pencari kerja ? Salah satu alasannya karena posisi PNS dianggap posisi aman untuk masa depan. Selain ‘Bebas’ PHK… para PNS juga mendapatkan jaminan pensiunan.  Untuk PNS didaerah memang gajinya tidak terlalu besar. Tetapi kalau jadi PNS berarti aman. Tidak perlu takut sewaktu-waktu dipecat asalkan kita bekerja dengan baik.

Apalagi ditambah dengan situasi kondisi ekonomi global yang tidak kondusif saat ini, dimana ancaman terjadinya PHK massal terjadi dimana-mana pada setiap perusahaan Swasta.  Hal ini menjadi semacam ‘triggery factor’ bagi para pencari kerja baik yang masih fresh graduate atau ingin pindah suasana kerja untuk mencoba ‘peruntungan’ menjadi PNS. Terbukti kok akibat krisis moneter global yang tengah melanda dunia, banyak perusahaan  mengalami masalah sehingga untuk sementara waktu berhenti produksi yang salah satu efek berantainya adalah PHK massal.

Saya sendiri punya pengalaman pribadi yang cukup unik menyangkut pekerjaan saya sebagai PNS.  Sejak masih kuliah semester 3, saya sudah bekerja sebagai sekretaris.  Kebetulan saya tipe orang yang menyukai ‘tantangan hidup’ , saya tidak betah hanya menjadi Mahasiswi yang berangkat pagi untuk kuliah dan pulang sore sepulang kuliah.   Lalu kebetulan saya berkenalan dengan seorang laki-laki yang (awalnya) berniat ingin menempelkan pengumuman Lowongan Kerja di Kampus saya untuk menawarkan posisi sebagai Sekretaris Junior.  Namun setelah bertemu dan mengobrol dengan saya, dia membatalkan niat menempelkan pengumuman itu di Papan pengumuman kampus.  Malahan langsung meminta saya untuk datang besok siang kekantornya untuk menjalani test dan wawancara kerja, hehehe.

Sejak saat itu-lah saya sudah langsung menjalani profesi di siang hari sebagai pegawai kantor swasta dan malamnya menjalani kehidupan sebagai anak kuliahan.  Sebab Ibunda dan Papa saya selalu berpesan “apapun yang terjadi, sesibuk apapun kamu bekerja, Kuliah harus selesai dan kamu harus jadi Sarjana!”   Namanya juga anak yang baik  :)   saya turuti permintaan mereka, walau jadinya butuh waktu 6 tahun (yang seharusnya 5 tahun saja) untuk mencapai gelar Sarjana ilmu Komputer .   :)
Selama nyaris 8 tahun saya gonta-ganti pekerjaaan terus, semuanya di perusahaan asing yang mengelola Listrik swasta atau pertambangan.   Sebab sekali lagi, saya orang yang sangat suka tantangan.  Kalau pekerjaan saya sudah tidak menantang atau tidak menarik lagi, saya akan langsung resign dan mencari pekerjaan baru yang lebih menantang adrenalin  :)
Sampai akhirnya sekitar 5 tahun lalu Ibu saya marah-marah dan meminta saya untuk berhenti “bertualang” dan mulai “bekerja beneran” disebuah tempat dimana saya tidak akan pindah-pindah lagi.  Wadduhh ??  aku menolak sambil bilang “kalau aku mendadak bosan gimana mom ?” :)
Akhirnya, Ibunda memakai cara rada ‘licik’  (hehehe)  dengan memakai Kakak saya sebagai ‘Kaki Tangan’-nya   :)   Kakak saya meminta saya agar kali ini bekerja disatu tempat untuk selama-lamanya.  Kakak saya menawarkan “ada Lembaga baru yang baru terbentuk lho di Senayan, kamu masuk kesana saja ya ?”  . Awalnya saya menolak karena setelah dijelaskan  status saya ‘akan bekerja untuk Pemerintah’.    Bukan apa-apa… akibat informasi yang baca atau dengar dari mana-mana, bahwa PNS itu gajinya kecil… hidupnya susah… menyambung hidup dengan ‘gali lobang - tutup lobang’ … dan aneka kisah-kisah seram lainnya  (yg belakangan hari terbukti salah besar..)  maka saya menjawab  “waduh, nggak deh Kak.  Makasih atas tawarannya.” :)
Kali ini Ibu saya memakai cara otoriter-nya untuk memaksa saya bekerja di Senayan “Awass ya kalau kamu tolak tawaran kakak kamu untuk bekerja disana.  Ibu & Papa menyekolahkan kamu tinggi-tinggi untuk menjadi orang sukses, bukan buat gonta-ganti pekerjaan nggak karuan, mengerti ?” Ooopsss…. I did it again.   Once more, I surrender with my dearest mom.  I can’t say NO to her.

So, saya ingat pada awal tahun 2004 saya mengikuti test penerimaan Pegawai di sebuah Lembaga baru bernama DPD-RI.  Diadakannya di Fakultas Psikologi UI.  Soal-soal ujiannya *amit-amit* sulitnya… namun teteup saya kok yakin bisa mengerjakan semuanya ?  hahaha.  :)
Terbukti saya akhirnya diterima bekerja di Setjen DPD-RI  (waktu itu masih bergabung dengan MPR-RI).  Dari awal bekerja saya sudah ditempatkan di Sekretariat Provinsi DKI Jakarta.  Mendampingi orang-orang hebat yang selama ini hanya saya kenal mereka di layar kaca atau surat kabar saja seperti Pak Sarwono Kusumaatmadja,  Ibu Mooryati Soedibyo, Pak Marwan Batubara & Bpk. Biem Benyamin. S.   :)    Sampai sekarang dalam hati kadang saya masih mbatin “hey, my mother always right.  This job is really suites for me…”   hehe. ( Thank’s Mom for your support… Luv you !! )

Kembali ke soal tampilnya profesi PNS sebagai Primadona di Indonesia, pertanyaan besar sekarang adalah: sampai kapankah PNS menjadi primadona ? Pemicu awal mulai meliriknya kaum muda Indonesia untuk menjadi PNS adalah mandegnya sektor iklim ekonomi riil (padahal di sektor inilah yang paling banyak menyerap tenaga kerja).  Kalau usaha kecil dan menengah bergerak dengan semangat dan didukung oleh iklim usaha yang kondusif sehingga mampu menyerap jutaan tenaga kerja baru lagi, saya percaya pelan-pelan kaum muda kita akan kembali melupakan lapangan pekerjaan sebagai PNS.  Sudah pasti, para pencari kerja baru itu tidak mau bertarung merebut status pegawai negeri, bukan karena pegawai negeri itu jelek. Sebaliknya, bagi mereka PNS kalah pamor dan kurang menjanjikan dibandingkan dengan profesi swasta.   :)

antri-1

Status Pegawai Negeri Sipil (PNS)  di daerah kita masih merupakan status sosial yang sangat membanggakan.  Status sosial yang membanggakan ini merupakan pilihan pekerjaan yang istimewa, bahkan sebagai primadona. Sebagai sebuah pekerjaan yang primadona maka setiap waktu kehadirannya sangat ditunggu-tunggu.  Masa penerimaan PNS dielu-elukan layaknya seorang aktor dan aktris terkenal yang sedang show dan jumpa fans. Para penggemar yang mengidolakannya membludak berdatangan dari segala penjuru. Hal ini terbukti dengan  jumlah peserta yang mendaftar untuk mengikuti PNS bertambah setiap tahun. Semua bidang kerja yang ditawarkan pemerintah diminati pelamar.

Beberapa variabel yang menjadi penyebab mengapa PNS masih menjadi sektor yang sangat menjanjikan karena: memberi kepastian akan kesejahteraan dan jaminan hari tua. Oleh karena itulah, masuk akal kalau musim penerimaan CPNS ibaratnya adalah ‘musim semi’ yang paling dinanti-nantikan oleh para jutaan pencari kerja  :)

Kita harus sepakat bahwa pandangan terhadap dan memposisikan PNS sebagai sektor primadona harus segera ditinggalkan. Pemerintah, kita harapkan lebih giat lagi mendesain program di sektor ekonomi kecil sehingga akan terjadi penyerapan jutaan tenaga kerja di masyarakat.   Dan… biar APBN kita gak kelebihan beban karena maoritas harus menghabiskan anggarannya untuk belanja pegawai seperti membayar gaji PNS, pejabat dan para pensiun.

Buat para rekans PNS, SELAMAT HARI KORPRI KE - 37 !!!!   :)

Tags: ,

Leave a Reply