Pahlawan Tanpa Tanda Jasa itu …
Tuesday, November 25th, 2008Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru // Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku // Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku // Bagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu // Engkau bagai pelita dalam kegelapan // Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan // Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa //
Hellow…. anyone ?? masih ada yang ingat lagu itu ? :) saya sendiri (terus terang nihh) harus menelphone teman dulu saat menuliskan teks lagu diatas, buat nanya tentunya “ehh, elo hafal gak lagu Pahlawan tanpa tanda jasa ? nyanyiin buat gue donk. Buat refresh my memory..” ![]()
Pagi-pagi hal pertama yang saya lakukan ketika melompat dari tempat tidur adalah mengirim SMS buat kedua Kakak saya, kedua-duanya sudah menjadi guru SMA selama lebih dari 20 tahun. Hanya saja, kakak atau Uni saya yang paling tua menjadi seorang guru PNS. Sedangkan Uni saya yang kedua menjadi guru sekolah swasta Islam yang terkenal paling elit di Jakarta. Isi SMS singkat saja “Uni-Uniku chayank… SELAMAT MERAYAKAN HARI GURU NASIONAL yhaaaa”. ![]()
Uni nomor satu membalas “busyet… aku gak tau kalau hari ini hari Guru, hehe. Tks anyway sis”
Uni nomor dua membalas “terima kasih muridku…..”
Uni-uniku, 20 tahun lebih mereka menjadi guru, kalau kami kumpul setiap malam minggu dirumah Ibunda.. pasti ada saja cerita mereka soal tingkah polah murid-muridnya. Uni saya yang menjadi guru PNS tentunya bercerita tentang murud-muridnya yang bersekolah di sekolah Negeri. Mayoritas berasal dari keluarga miskin, namun itu bukan halangan bagi Uni saya untuk tetap memperlakukan mereka sebagai anak-anak muda yang punya masa depan, walaupun nyaris lebih dari separoh murid Uni saya itu tidak akan mampu melanjutkan ke jenjang Universitas karena kemiskinan yang mendera orang tua mereka.
Ada cerita lucu, kadang menyedihkan tentang murid-murid Uni saya yang disekolah Negeri itu. Tapi dari situ kadang saya mendapat masukan “ooh, begini tokh kondisi anak-anak kalangan menengah bawah. Ada yang bekerja menjaga toko sepulang sekolah, ada yang membantu ibunya menjual gorengan dan bahkan ada yang menjadi tukang cuci baju tetangganya yang lebih mampu untuk mendapat uang jajan tambahan karena orang tuanya cuma mampu membiayai SPP dia setiap bulan saja. Sedih rasanya mendengar kisah potret buram dunia anak-anak remaja dari kalangan tidak mampu itu, yang memang nyata terjadi, di Ibukota Negara ini pula yang kita anggap sudah sedemikian maju !! ![]()
Uni saya yang nomor dua & mengajar disekolah Swasta Elit berbeda lagi kisahnya. Banyak cerita aneh bin ajaib tapi nyata yang dilakukan murid-muridnya. Nyaris separoh lebih murid Uni saya itu adalah anak orang kaya atau terpandang di Indonesia. Maka tingkah mereka dirumah-pun seringkali dipraktekkan juga disekolah, dan kadang suka membuat sejumlah guru lainnya merasa tidak berdaya. Untung Uni saya tidak begitu, hehe. Kami sudah terbiasa diajari dalam Budaya Minang oleh Ibunda bahwa “wanita adalah sendi negara (dan) penguasa tunggal dirumah”, hahahaa. Maka pengaruh budaya itu terbawa terus oleh kami anak-anak wanitanya ketika sudah memasuki dunia kerja dan berumah-tangga, hehe.
Diantara ‘keajaiban’ anak-anak orang kaya itu disekolah misalnya ada seorang anak wanita yang mogok tidak mau bersekolah selama berhari-hari. Ibu bapaknya yang pengusaha batubara nasional pusing bukan kepalang. Mereka pikir anak mereka menjadi korban bullying teman-temannya disekolah. Namun usut punya usut, setelah ditanya lebih jauh & mendalam oleh Uni saya (yang kebetulan menjabat Guru BP disekolah tersebut) anak itu mengaku bahwa dia malu sama teman-teman se-Gank-nya disekolah karena dia tak kunjung dibelikan cincin berlian berkarat besar oleh Bapaknya. What ???? ![]()
Ada lagi yang Bapaknya seorang pengusaha Nasional yang masuk daftar 100 orang terkaya di Indonesia. Kalau dia telat bangun pagi, maka dia akan diantar kesekolah naik Helikopter milik Bapaknya, hahaha. OMG !!! Belum lagi banyak kisah betapa mereka seringkali sungguh tidak menghargai barang-barang mahal yang mereka miliki. Taroh HP mahal semacam Nokia N96, E90, Blackberry Bold atau SE Xperia sembarangan diseantero kelas. Mungkin karena mereka sejak kecil tidak pernah merasakan betapa susahnya mencari uang, makanya mereka anggap gadget2 mahal pemberian orang tua mereka sama nilainya dengan mainan-mainan plastik yang bisa dibeli didepan Gedung SD negeri.

Kembali ke soal guru, saya jadi teringat pada guru-guru saya semenjak saya kecil. Sambil makan siang dimeja kerja tadi saya sempat membayangkan berusaha mengingat-ingat wajah mereka. Guru saya waktu TK… guru pertama dalam hidup saya… namanya Ibu Dati dan Ibu Evi. Ibu Evi galaknya minta ampun, dan karena kebetulan ketika TK saya adalah ‘jagoan’ disekolah :D saya seringkali diomelin beliau karena kerjaan saya kalau tidak berantem yhaa ngobrol dikelas, hehe. Bu Dati beda, beliau sungguh halus dan baik hati, nyaris tidak pernah bisa marah kepada kami.
Guru SD yang saya ingat ??? uhmmm… hanya Pak Nurdin dan Pak Darto. Itu-pun saya masih ingat wajah keduanya, karena dua-duanya galak dan tak segan menjewer, menyentil atau mencubit kalau kami nakal, hahaha. Selebihnya saya tak ingat nama-nama guru lainnya *hiks*
Apalagi nama-nama Dosen ketika kuliah dulu. Jangan-jangan yang namanya manusia itu semakin meningkat umurnya, semakin berkurang daya ingatnya terhadap nama-nama gurunya sendiri (atau semakin tidak perduli ?? ). Dan gak kusangka, saya ternyata mengalaminya sendiri, hehe.
27 tahun sudah usia hymne buat guru ini. Selama itu pula gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ selalu disandangkan kepada guru. Di satu sisi gelar ini amat menyanjung, namun di sisi yang lain justru kurang menguntungkan bagi profesi guru. Pasalnya, seringkali penghargaan yang mereka terima tak lebih dari sekadar pemanis bibir, sloganistis, dan bernuansa verbalisme. Nah, akibat verbalisme dan sloganisme itulah dunia pendidikan di Indonesia tak kunjung membaik, bahkan terpuruk. Termasuk di dalamnya adalah keterpurukan nasib mayoritas guru itu sendiri. Guru dikesankan sebagai kelompok masyarakat yang melakukan pekerjaan tulus tanpa boleh menuntut hak dan kesejahteraan yang semestinya. Padahal Guru juga manusia…. yang punya kehidupan, yang harus dia biayai sehari-hari. ![]()
Guru memang bukan satu-satunya elemen penentu keberhasilan pendidikan, namun tidak berlebihan apabila dikatakan guru adalah kunci utama pendidikan. Perubahan kurikulum dengan beragam julukannya — CBSA, KBK, KTSP, atau apa pun sebutannya — tidak akan membawa perbaikan yang signifikan manakala manusia dewasa yang bernama guru itu tidak memahami dan menjalankan profesinya secara kreatif dan bertanggung jawab. Guru adalah ujung tombak pendidikan, sementara birokrasi pendidikan hanyalah motivator untuk melejitkan kecerdasan dan kreatifitas mereka.
Oleh sebab itu, tak berlebihan rasanya bila hari ini kita luangkan waktu untuk merenungkan nasib guru-guru kita dahulu (bagaimana khabar mereka semua ya ? ), nasib guru anak-anak kita dan nasib jutaan guru bantu di seluruh Indonesia. Biarlah Pemerintah tidak memperhatikan mereka, tapi kita sebagai masyarakat wajib untuk memperhatikan nasib para guru. Paling tidak guru dari anak kita, atau tetangga kita yang menjadi guru, dan atau-atau lainnya.
SELAMAT HARI GURU NASIONAL BAPAK DAN IBU GURU TERCINTA…..
Teachers…
Paint their minds
And guide their thoughts
Share their achievements
and advise their faults
Inspire a Love
Of knowledge and truth
As you light the path
Which leads our youth
For our future brightens
With each lesson you teach
Each smile you lengthen
Each goal you help reach
For the dawn of each poet
Each philosopher and king
Begins with a Teacher
And the wisdom they bring.
By Kevin William Huff
