MINDSET
Saturday, November 22nd, 2008Dua hari terakhir kemarin sungguh menyenangkan, karena hari-hari saya diisi dengan perbincangan menarik dan berkualitas dengan sejumlah orang-orang cukup pintar dimata saya. Gosh! I can’t help my self from smart men… ![]()
Entah kenapa, dalam 2 hari itu ada satu nama yang disebut oleh oleh kedua orang berbeda yang ngobrol dengan saya. Yang satu adalah Pegawai dilingkungan Setjen MK-RI, he’s a good friend of mine & waktu rasanya berhenti berjalan kalau sudah ngobrol dengan dia membahas konstitusi. ![]()
Yang satu lagi, seorang presenter & mantan wartawan Tempo yang kalau sudah bicara dengan dia waktu-pun juga rasanya mendadak berhenti (sakin’ menariknya isi pembicaraan beliau). Kebetulan obrolan dengan beliau kemarin membahas soal DPD dimasa mendatang & apa-apa saja kelemahan DPD di periode sekarang (2004 - 2009) dimata beliau (yang ngakunya sebagai ‘Orang Luar’ DPD ). :) Khususnya menyangkut Aspirasi Masyarakat yang selama ini tersumbat dan gak pernah jelas pertanggung jawabannya. Karena DPD adalah Lembaga Negara yang kinerjanya dibiayai oleh uang pajak masyarakat Indonesia, maka rasanya patut dimintakan ‘pertanggung-jawaban’ kepada para Anggotanya, kenapa ada begitu banyak Aspirasi Masyarakat yang mampet dan tidak tersalurkan sebagaimana mestinya ?
Entah serius atau tidak, rekan yang bekerja di MK itu berkata “you tau nggak Mil, sekarang ada wacana yang sedang dicoba di-realisasikan dikalangan para petinggi negara ini. Mencoba menukar Sesjen MKRi dengan Sesjen DPD-RI… Karena semua orang sudah tau Pak Djanedri (Sesjen MK-RI) adalah pekerja keras yang handal & beliau terkenal dengan julukan “a man who CAN FIX ANYTHING” Maka untuk memperbaiki kinerja Pegawai Setjen & Anggota DPD-RI periode berikutnya (2009 - 2014), beliau akan ditempatkan di Senayan.”
Aku cuma mengangkat alis & memasang ekspresi “sumpe loe ???” . Rekan-ku itu tetap keukeuh masang wajah serius dan bilang “eeh, aku serius jeng! Kok kamu malah anggap bercanda sih. Dan menurut kamu sendiri, kinerja Lembaga tempat kamu kerja itu perlu diperbaiki gak ??”
Saya jawab “iya gw mengaku dehh klo Lembaga tempat gw bekerja itu amat sangat butuh perbaikan, khususnya dalam hal pelayanan kepada masyarakat yaitu penyaluran & penyelesaian aspirasi masyarakat-nya. Tapi apa perlu sampai harus berganti Sesjen ?? I think Bu Siti CAN HANDLE ANYTHING AS WELL AS YOUR BOSS.. camkan itu !”.
Temenku itu nyengir dan bilang “halah… jangan emosi napa jeng!” ![]()
Back to Topic : kedua pria diatas membahas satu nama yang sama yaitu JOHN NAISBITT. Khususnya mengenai pandangan-padangannya tentang teknologi dan masa depan. Kedua rekan tersebut kalau saya saring pembicaraan mereka memiliki inti yang sama : selama DPD masih mempertahankan pola kinerja yang tidak ‘akrab teknologi’ seperti sekarang, maka DPD akan ditinggal oleh masyarakat dan bahkan bisa-bisa dilupakan dan lebih baik dibubarkan saja seperti DPA. Waduhh ! ![]()
Saya jadi ingat sama buku John Naisbitt yang berjudul MIND SET : RESET YOUR THINKING AND SEE THE FUTURE. Kayanya saya sempat dipinjami Pak eSKa & saya baca sekitar akhir tahun 2007 lalu (Thank You so much Sir !! ) . As we know, Naisbitt’s a remarkably prescient futurist. Dan kaya’nya sulit untuk menyanggah isi bukunya, karena nyaris seluruhnya benar & tidak mustahil akan terjadi di akhir abad ini nanti.
Dibuku ini Naisbitt menuliskan 11 jenis Polapikir (MINDSET) yang harus diterapkan untuk tercapainya masa depan yang lebih baik di bumi kita ini.
- While many things change, most things remain constant : (Sementara banyak hal berubah, kebanyakan hal tetap konstan). Bahwasanya perubahan itu tidak akan terjadi dengan sendirinya, melainkan tergantung dari cara kita melakukannya. How we do it changes often - and in big ways.
- The future is embedded in the present : Bahwa masa depan itu sebenarnya sudah tertanam sejak sekarang. Mungkin kita sekarang belum “ngeh” … tapi suatu hari nanti kita baru sadar. Inti dari pemikiran ini adalah untuk memberikan perhatian pada apa yang terjadi sekarang untuk membangun secara keseluruhan dimasa depan. Naisbitt menyarankan membaca koran sebagai cara terbaik untuk melakukannya. (hehe, IMHO zaman sekarang tentunya yang kita baca adalah “Online Newspaper dan Blog yang up to date” ). Let’s go to paperless era !!
- Focus on the score of the game : Maksud yang saya tangkap di point ke-3 ini bahwa kita harus fokus dengan tujuan kita, abaikan segala ocehan & pendapat orang yang bisa membuyarkan tujuan kita. Perhatikan apa yang benar-benar terjadi. Ibarat main sepak bola, yang penting itu skor akhir, dan jadikanlah itu sebagai pegangan kita untuk terus fokus.
- Understanding how powerful it is not to have to be right : bahwa kita terkadang harus sadar diri, bahwa bersikap salah-pun kadang bisa menambah kekuatan pada diri kita. Gak perlu selalu dengerin segala omongan orang. Fokus saja pada apa yang kita anggap benar.
- See the future as a picture puzzle : Don’t try to build your picture of the future as a linear, logical sequence of events. As with a puzzle, put the easy parts together first, then add other pieces as you see how they fit. Jadi kita melakukannya tidak grasa-grusu dan tentunya lebih terarah dan lebih bisa dijamin keberhasilannya.
- Don’t get so far ahead of the parade that people don’t know you’re in it : Istilah yang saya anggap pantas untuk point ini kaya’nya JANGAN KEBABLASAN. People can only comprehend so much change at once - don’t push them so far that you leave them behind. Karena kaya’nya gak mungkin perubahan itu akan terjadi kalau kita hanya berjalan sendirian…
- Resistance to change falls if benefits are real : Orang perlu memahami manfaat dari perubahan. Setelah mereka lakukan, dan jika manfaat yang ada cukup nyata, mereka pasti akan merangkul perubahan itu. When people resist change, find out why. And then address those real concerns.
- Things that we expect to happen always happen more slowly : sama aja laah kalau kita menanti janji temu dengan someone special, nunggu hari H itu datang kaya’nya waktu kok berjalan lambat bangeeet, haha.
- You don’t get results by solving problems but by exploiting opportunities : Cam-kan saja quotation berikut, “Problems are the past. Opportunities are the future.” Kalau kita hanya berkutat pada masalah-masalah dimasa lalu (seperti yang terjadi pada Bangsa ini berulang-ulang kali… pantesan saja Bangsa-ku ini tidak kunjung maju, gosh !! ) dan tidak berfikir untuk mengambil peluang untuk menjadi maju dimasa depan, mendingan kita jadi orang mati aja sekalian.
- Don’t add unless you subtract : it’s all about focusing on the few things that are vital, and ignoring the rest. Don’t add new products without dropping old ones. Don’t add more people (for the same amount of work) without dropping some lower performers. Nothing but Agree with it !!
- Don’t forget the ecology of technology : bukan hanya makhluk hidup yang memiliki ekologi, teknologi-pun memiliknya. Every technology has unintended consequences. Dan tentunya untuk memncapai semua itu kita harus memikirkan apakah dampaknya nanti akan berakibat pada kehidupan manusia.
Naisbitt juga menyadur quotes-nya Lao Tzu : “To attain knowledge, add things every day. To attain wisdom, remove things every day.”
Saya pribadi paling suka dengan point No. 10. Apabila kita melihat ada sesuatu yang tidak berjalan dengan semestinya ditempat kita bekerja, rasanya tangan ini “gatal” pengen membereskan. Di zaman serba canggih ini, kalau bekerja dengan orang-orang yang (sebenarnya) gagap teknologi, tapi sok pintar-nya minta ampun… itu benar-benar paling menyakitkan.
( hey, I told Uda Elpris about this matter… dan dia langsung ketawa + berduka cita dengarnya). At least I felt so relieved after I told someone about the situation I’m dealing with almost everyday… hehe. :)
