Posts Tagged ‘PNS’

Primadona itu bernama PNS…

Tuesday, December 2nd, 2008

Sudah 5 bulan terakhir saya sering mendapat SMS dari beberapa rekan atau kenalan yang awalnya cuma sekedar basa-basi menanyakan kabar tapi di-ujungnya selalu ada pertanyaan “ada Lowongan PNS gak dikantor loe ?”  :)
Saya jadi berfikir sejak mulai terjadinya krisis ekonomi dimasyarakat terhitung sejak tahun 2004 lalu, memang tampak jelas setiap pembukaan lowongan CPNS di berbagai Lembaga atau Pemerintah Daerah manapun di-seantero Indonesia  terjadi antrean yang membludak dan selalu dipenuhi oleh puluhan ribu pendaftar.  Padahal formasi yang tersedia biasanya hanya sejumlah ratusan posisi saja.  Namun begitu, tetap saja masyarakat yang ingin ikut serta dalam test masuk CPNS jumlahnya sangat banyak.  Ibarat main judi, mereka berprinsip “diterima ya syukur, kalau tidak ya coba lagi tahun-tahun berikutnya…”  :)

antri-2

Mengapa Rekruitmen CPNS masih tetap menjadi primadona para pencari kerja ? Salah satu alasannya karena posisi PNS dianggap posisi aman untuk masa depan. Selain ‘Bebas’ PHK… para PNS juga mendapatkan jaminan pensiunan.  Untuk PNS didaerah memang gajinya tidak terlalu besar. Tetapi kalau jadi PNS berarti aman. Tidak perlu takut sewaktu-waktu dipecat asalkan kita bekerja dengan baik.

Apalagi ditambah dengan situasi kondisi ekonomi global yang tidak kondusif saat ini, dimana ancaman terjadinya PHK massal terjadi dimana-mana pada setiap perusahaan Swasta.  Hal ini menjadi semacam ‘triggery factor’ bagi para pencari kerja baik yang masih fresh graduate atau ingin pindah suasana kerja untuk mencoba ‘peruntungan’ menjadi PNS. Terbukti kok akibat krisis moneter global yang tengah melanda dunia, banyak perusahaan  mengalami masalah sehingga untuk sementara waktu berhenti produksi yang salah satu efek berantainya adalah PHK massal.

Saya sendiri punya pengalaman pribadi yang cukup unik menyangkut pekerjaan saya sebagai PNS.  Sejak masih kuliah semester 3, saya sudah bekerja sebagai sekretaris.  Kebetulan saya tipe orang yang menyukai ‘tantangan hidup’ , saya tidak betah hanya menjadi Mahasiswi yang berangkat pagi untuk kuliah dan pulang sore sepulang kuliah.   Lalu kebetulan saya berkenalan dengan seorang laki-laki yang (awalnya) berniat ingin menempelkan pengumuman Lowongan Kerja di Kampus saya untuk menawarkan posisi sebagai Sekretaris Junior.  Namun setelah bertemu dan mengobrol dengan saya, dia membatalkan niat menempelkan pengumuman itu di Papan pengumuman kampus.  Malahan langsung meminta saya untuk datang besok siang kekantornya untuk menjalani test dan wawancara kerja, hehehe.

Sejak saat itu-lah saya sudah langsung menjalani profesi di siang hari sebagai pegawai kantor swasta dan malamnya menjalani kehidupan sebagai anak kuliahan.  Sebab Ibunda dan Papa saya selalu berpesan “apapun yang terjadi, sesibuk apapun kamu bekerja, Kuliah harus selesai dan kamu harus jadi Sarjana!”   Namanya juga anak yang baik  :)   saya turuti permintaan mereka, walau jadinya butuh waktu 6 tahun (yang seharusnya 5 tahun saja) untuk mencapai gelar Sarjana ilmu Komputer .   :)
Selama nyaris 8 tahun saya gonta-ganti pekerjaaan terus, semuanya di perusahaan asing yang mengelola Listrik swasta atau pertambangan.   Sebab sekali lagi, saya orang yang sangat suka tantangan.  Kalau pekerjaan saya sudah tidak menantang atau tidak menarik lagi, saya akan langsung resign dan mencari pekerjaan baru yang lebih menantang adrenalin  :)
Sampai akhirnya sekitar 5 tahun lalu Ibu saya marah-marah dan meminta saya untuk berhenti “bertualang” dan mulai “bekerja beneran” disebuah tempat dimana saya tidak akan pindah-pindah lagi.  Wadduhh ??  aku menolak sambil bilang “kalau aku mendadak bosan gimana mom ?” :)
Akhirnya, Ibunda memakai cara rada ‘licik’  (hehehe)  dengan memakai Kakak saya sebagai ‘Kaki Tangan’-nya   :)   Kakak saya meminta saya agar kali ini bekerja disatu tempat untuk selama-lamanya.  Kakak saya menawarkan “ada Lembaga baru yang baru terbentuk lho di Senayan, kamu masuk kesana saja ya ?”  . Awalnya saya menolak karena setelah dijelaskan  status saya ‘akan bekerja untuk Pemerintah’.    Bukan apa-apa… akibat informasi yang baca atau dengar dari mana-mana, bahwa PNS itu gajinya kecil… hidupnya susah… menyambung hidup dengan ‘gali lobang - tutup lobang’ … dan aneka kisah-kisah seram lainnya  (yg belakangan hari terbukti salah besar..)  maka saya menjawab  “waduh, nggak deh Kak.  Makasih atas tawarannya.” :)
Kali ini Ibu saya memakai cara otoriter-nya untuk memaksa saya bekerja di Senayan “Awass ya kalau kamu tolak tawaran kakak kamu untuk bekerja disana.  Ibu & Papa menyekolahkan kamu tinggi-tinggi untuk menjadi orang sukses, bukan buat gonta-ganti pekerjaan nggak karuan, mengerti ?” Ooopsss…. I did it again.   Once more, I surrender with my dearest mom.  I can’t say NO to her.

So, saya ingat pada awal tahun 2004 saya mengikuti test penerimaan Pegawai di sebuah Lembaga baru bernama DPD-RI.  Diadakannya di Fakultas Psikologi UI.  Soal-soal ujiannya *amit-amit* sulitnya… namun teteup saya kok yakin bisa mengerjakan semuanya ?  hahaha.  :)
Terbukti saya akhirnya diterima bekerja di Setjen DPD-RI  (waktu itu masih bergabung dengan MPR-RI).  Dari awal bekerja saya sudah ditempatkan di Sekretariat Provinsi DKI Jakarta.  Mendampingi orang-orang hebat yang selama ini hanya saya kenal mereka di layar kaca atau surat kabar saja seperti Pak Sarwono Kusumaatmadja,  Ibu Mooryati Soedibyo, Pak Marwan Batubara & Bpk. Biem Benyamin. S.   :)    Sampai sekarang dalam hati kadang saya masih mbatin “hey, my mother always right.  This job is really suites for me…”   hehe. ( Thank’s Mom for your support… Luv you !! )

Kembali ke soal tampilnya profesi PNS sebagai Primadona di Indonesia, pertanyaan besar sekarang adalah: sampai kapankah PNS menjadi primadona ? Pemicu awal mulai meliriknya kaum muda Indonesia untuk menjadi PNS adalah mandegnya sektor iklim ekonomi riil (padahal di sektor inilah yang paling banyak menyerap tenaga kerja).  Kalau usaha kecil dan menengah bergerak dengan semangat dan didukung oleh iklim usaha yang kondusif sehingga mampu menyerap jutaan tenaga kerja baru lagi, saya percaya pelan-pelan kaum muda kita akan kembali melupakan lapangan pekerjaan sebagai PNS.  Sudah pasti, para pencari kerja baru itu tidak mau bertarung merebut status pegawai negeri, bukan karena pegawai negeri itu jelek. Sebaliknya, bagi mereka PNS kalah pamor dan kurang menjanjikan dibandingkan dengan profesi swasta.   :)

antri-1

Status Pegawai Negeri Sipil (PNS)  di daerah kita masih merupakan status sosial yang sangat membanggakan.  Status sosial yang membanggakan ini merupakan pilihan pekerjaan yang istimewa, bahkan sebagai primadona. Sebagai sebuah pekerjaan yang primadona maka setiap waktu kehadirannya sangat ditunggu-tunggu.  Masa penerimaan PNS dielu-elukan layaknya seorang aktor dan aktris terkenal yang sedang show dan jumpa fans. Para penggemar yang mengidolakannya membludak berdatangan dari segala penjuru. Hal ini terbukti dengan  jumlah peserta yang mendaftar untuk mengikuti PNS bertambah setiap tahun. Semua bidang kerja yang ditawarkan pemerintah diminati pelamar.

Beberapa variabel yang menjadi penyebab mengapa PNS masih menjadi sektor yang sangat menjanjikan karena: memberi kepastian akan kesejahteraan dan jaminan hari tua. Oleh karena itulah, masuk akal kalau musim penerimaan CPNS ibaratnya adalah ‘musim semi’ yang paling dinanti-nantikan oleh para jutaan pencari kerja  :)

Kita harus sepakat bahwa pandangan terhadap dan memposisikan PNS sebagai sektor primadona harus segera ditinggalkan. Pemerintah, kita harapkan lebih giat lagi mendesain program di sektor ekonomi kecil sehingga akan terjadi penyerapan jutaan tenaga kerja di masyarakat.   Dan… biar APBN kita gak kelebihan beban karena maoritas harus menghabiskan anggarannya untuk belanja pegawai seperti membayar gaji PNS, pejabat dan para pensiun.

Buat para rekans PNS, SELAMAT HARI KORPRI KE - 37 !!!!   :)

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa itu …

Tuesday, November 25th, 2008

Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru //  Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku // Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku // Bagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu // Engkau bagai pelita dalam kegelapan // Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan // Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa //

Hellow…. anyone ??  masih ada yang ingat lagu itu ?   :)  saya sendiri (terus terang nihh) harus menelphone teman dulu saat menuliskan teks lagu diatas, buat nanya tentunya “ehh, elo hafal gak lagu Pahlawan tanpa tanda jasa ?  nyanyiin buat gue donk.  Buat refresh my memory..”   :)
Pagi-pagi hal pertama yang saya lakukan ketika melompat dari tempat tidur adalah mengirim SMS buat kedua Kakak saya,  kedua-duanya sudah menjadi guru SMA selama lebih dari 20 tahun.   Hanya saja,  kakak atau Uni saya yang paling tua menjadi seorang guru PNS.  Sedangkan Uni saya yang kedua menjadi guru sekolah swasta Islam yang terkenal paling elit di Jakarta.  Isi SMS singkat saja “Uni-Uniku chayank… SELAMAT MERAYAKAN HARI GURU NASIONAL yhaaaa”.  :)
Uni nomor satu membalas “busyet… aku gak tau kalau hari ini hari Guru, hehe.  Tks anyway sis”

Uni nomor dua membalas “terima kasih muridku…..”

Uni-uniku,  20  tahun lebih mereka menjadi guru, kalau kami kumpul setiap malam minggu dirumah Ibunda.. pasti ada saja cerita mereka soal tingkah polah murid-muridnya.  Uni saya yang menjadi guru PNS tentunya bercerita tentang murud-muridnya yang bersekolah di sekolah Negeri.  Mayoritas berasal dari keluarga miskin, namun itu bukan halangan bagi Uni saya untuk tetap memperlakukan mereka sebagai anak-anak muda yang punya masa depan,  walaupun nyaris lebih dari separoh murid Uni saya itu tidak akan mampu melanjutkan ke jenjang Universitas karena kemiskinan yang mendera orang tua mereka.

Ada cerita lucu, kadang menyedihkan tentang murid-murid Uni saya yang disekolah Negeri itu.  Tapi dari situ kadang saya mendapat masukan “ooh, begini tokh kondisi anak-anak kalangan menengah bawah.  Ada yang bekerja menjaga toko sepulang sekolah, ada yang membantu ibunya menjual gorengan dan bahkan ada yang menjadi tukang cuci baju tetangganya yang lebih mampu untuk mendapat uang jajan tambahan karena orang tuanya cuma mampu membiayai SPP dia setiap bulan saja.   Sedih rasanya mendengar kisah potret buram  dunia anak-anak remaja dari kalangan tidak mampu itu, yang memang nyata terjadi, di Ibukota Negara ini pula yang kita anggap sudah sedemikian maju  !!   :(
Uni saya yang nomor dua & mengajar disekolah Swasta Elit berbeda lagi kisahnya.  Banyak cerita aneh bin ajaib tapi nyata yang dilakukan murid-muridnya.    Nyaris separoh lebih murid Uni saya itu adalah anak orang kaya atau terpandang di Indonesia.  Maka tingkah mereka dirumah-pun seringkali dipraktekkan juga disekolah, dan kadang suka membuat sejumlah guru lainnya merasa tidak berdaya.  Untung Uni saya tidak begitu, hehe.  Kami sudah terbiasa diajari dalam Budaya Minang oleh Ibunda bahwa “wanita adalah sendi negara (dan) penguasa tunggal dirumah”, hahahaa.     Maka pengaruh budaya itu terbawa terus oleh kami anak-anak wanitanya ketika sudah memasuki dunia kerja dan berumah-tangga, hehe.

Diantara ‘keajaiban’ anak-anak orang kaya itu disekolah misalnya ada seorang anak wanita yang mogok tidak mau bersekolah selama berhari-hari.  Ibu bapaknya yang pengusaha batubara nasional pusing bukan kepalang.  Mereka pikir anak mereka menjadi korban bullying teman-temannya disekolah.  Namun usut punya usut, setelah ditanya lebih jauh & mendalam oleh Uni saya (yang kebetulan menjabat Guru BP disekolah tersebut) anak itu mengaku bahwa dia malu sama teman-teman se-Gank-nya disekolah karena dia tak kunjung dibelikan cincin berlian berkarat besar oleh Bapaknya.   What ????    :)
Ada lagi yang Bapaknya seorang pengusaha Nasional yang masuk daftar 100 orang terkaya di Indonesia.  Kalau dia telat bangun pagi, maka dia akan diantar kesekolah naik Helikopter milik Bapaknya, hahaha.  OMG !!!   Belum lagi banyak kisah betapa mereka seringkali sungguh tidak menghargai barang-barang mahal yang mereka miliki.  Taroh HP mahal semacam Nokia N96, E90, Blackberry Bold atau SE Xperia sembarangan diseantero kelas.  Mungkin karena mereka sejak kecil tidak pernah merasakan betapa susahnya mencari uang, makanya mereka anggap gadget2 mahal pemberian orang tua mereka sama nilainya dengan mainan-mainan plastik yang bisa dibeli didepan Gedung SD negeri.

doris-day-teachers

Kembali ke soal guru, saya jadi teringat pada guru-guru saya semenjak saya kecil.  Sambil makan siang dimeja kerja tadi saya sempat membayangkan berusaha mengingat-ingat wajah mereka.   Guru saya waktu TK… guru pertama dalam hidup saya… namanya Ibu Dati dan Ibu Evi.  Ibu Evi galaknya minta ampun, dan karena kebetulan ketika TK saya adalah ‘jagoan’ disekolah   :D     saya seringkali diomelin beliau karena kerjaan saya kalau tidak berantem yhaa ngobrol dikelas, hehe.   Bu Dati beda, beliau sungguh halus dan baik hati, nyaris tidak pernah bisa marah kepada kami.

Guru SD yang saya ingat ??? uhmmm… hanya Pak Nurdin dan Pak Darto.  Itu-pun saya masih ingat wajah keduanya, karena dua-duanya galak dan  tak segan menjewer, menyentil atau mencubit kalau kami nakal, hahaha.    Selebihnya saya tak ingat nama-nama guru lainnya  *hiks*

Apalagi nama-nama Dosen ketika kuliah dulu.  Jangan-jangan yang namanya manusia itu semakin meningkat umurnya, semakin berkurang daya ingatnya terhadap nama-nama gurunya sendiri (atau semakin tidak perduli ?? ).    Dan gak kusangka, saya ternyata mengalaminya sendiri, hehe.

27 tahun sudah usia hymne buat guru ini. Selama itu pula gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ selalu disandangkan kepada guru. Di satu sisi gelar ini amat menyanjung, namun di sisi yang lain justru kurang menguntungkan bagi profesi guru. Pasalnya, seringkali penghargaan yang mereka terima tak lebih dari sekadar pemanis bibir, sloganistis, dan bernuansa verbalisme.   Nah, akibat verbalisme dan sloganisme itulah dunia pendidikan di Indonesia tak kunjung membaik, bahkan terpuruk. Termasuk di dalamnya adalah keterpurukan nasib mayoritas guru itu sendiri. Guru dikesankan sebagai kelompok masyarakat yang melakukan pekerjaan tulus tanpa boleh menuntut hak dan kesejahteraan yang semestinya.   Padahal Guru juga manusia….  yang punya kehidupan,  yang harus dia biayai sehari-hari.   :(
Guru memang bukan satu-satunya elemen penentu keberhasilan pendidikan, namun tidak berlebihan apabila dikatakan guru adalah kunci utama pendidikan. Perubahan kurikulum dengan beragam julukannya — CBSA, KBK, KTSP, atau apa pun sebutannya — tidak akan membawa perbaikan yang signifikan manakala manusia dewasa yang bernama guru itu tidak memahami dan menjalankan profesinya secara kreatif dan bertanggung jawab.    Guru adalah ujung tombak pendidikan, sementara birokrasi pendidikan hanyalah motivator untuk melejitkan kecerdasan dan kreatifitas mereka.

Oleh sebab itu, tak berlebihan rasanya bila hari ini kita luangkan waktu untuk merenungkan nasib guru-guru kita dahulu  (bagaimana khabar mereka semua ya ? ), nasib guru anak-anak kita dan nasib jutaan guru bantu di seluruh Indonesia.  Biarlah Pemerintah tidak memperhatikan mereka, tapi kita sebagai masyarakat wajib untuk memperhatikan nasib para guru.  Paling tidak guru dari anak kita, atau tetangga kita yang menjadi guru, dan atau-atau lainnya.

SELAMAT HARI GURU NASIONAL BAPAK DAN IBU GURU TERCINTA….. :)

teacher1

Teachers…
Paint their minds
And guide their thoughts
Share their achievements
and advise their faults

Inspire a Love
Of knowledge and truth
As you light the path
Which leads our youth

For our future brightens
With each lesson you teach
Each smile you lengthen
Each goal you help reach

For the dawn of each poet
Each philosopher and king
Begins with a Teacher
And the wisdom they bring.

By Kevin William Huff