Posts Tagged ‘sekolah’

Setuju masuk Sekolah pukul 06.30 ??

Friday, November 28th, 2008

Sudah seminggu ini orang-orang yang berkantor @ Komplek Parlemen Senayan berisik nian membahas soal yang sama :  Yaitu kebijakan Pemda DKI yang akan mulai berlaku pada 1 Januari 2009 bahwa semua anak sekolah masuk mulai pukul 06.30 pagi !!

Rekan-rekan (yang kebetulan mayoritas) dan  punya anak dibangku TK atau SD tentunya yang paling banyak protes dan ‘mengutuk’ Keputusan pemda DKI tersebut.  Celakanya lagi, saya sebagai Staff Sekretariat DPD Provinsi DKI termasuk yang ikutan ‘dicari untuk dititipkan’ hujatan kepada Gubernur.. haha  :)
Adapun beberapa komentar yang saya (ingat) dan saya catat sejauh ini sbb :

Sitha : “Emangnya dengan memindahkan jam sekolah jadi jam 6.30 sudah bisa diyakini untuk mengatasi kesemrawutan dan kemacetan Ibu Kota ?  Mana dulu janjinya “Serahkan Pada Ahlinya ?”  Klo bikin kebijakan gini mah gue gak harus sekolah jauh2 ke Jerman…”   (sambil emosi tentunya).

Nina : ” Kebijakan yang bagus tau ?? anak saya jadi bisa dibangunin pagi2 untuk sholat subuh karena biasanya sulit sekali membangunkan dia dibawah jam 6 pagi.  Kalo sudah terbiasa, aku yakin itu menjadi hal yg positif kok”    (typikal Ibu Alim)

Hendra : “Kebijakan yang ngawur nih, mengorbankan anak-anak, Komnas HAM ANAK seharusnya turun tangan buat ngebela hak & kepentingan anak. Bang Foke itu seharusnya bikin aturan yang harus masuk
lebih awal adalah para PNS, supaya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik !!!   (ngomongnya sambil melotot ke arah saya, karena saya adalah PNS…  )   :)

Rini : “Mil, kamu khan tau saya tinggal di Bekasi.  Anak saya sekolah di SMP Negeri @ Jakarta, sekarang aja belum ada aturan baru itu dia harus berangkat jam 5 dari rumah karena ikutan mobil antar-jemput.  Dia harus ‘keliling’ dulu jemput temannya yang lain2 sebelum sampai disekolah jam 07.00 pagi.  Kalau begini caranya tandanya dia harus berangkat jam 4 pagi dong ??? Bagaimana ini nasib anakku ??”  (dengan wajah sedih seorang Ibu yg gak rela anaknya disakiti…. )

Angga : “Gimana sih Pemda DKI bikin aturan kok mengorbankan harkat hidup seorang anak ??  Kalau mereka gak becus ngurusin tyransportasi di Jakarta ya akui saja, lantas buatlah kebijakan yang pro publik.  Kok beraninya sama anak kecil (anak sekolahan) yang belom bisa ngelawan klo di-dzolimi ??”   (sambil cemberut ke arah saya, seolah2 saya adalah bagian dari Lingkaran Terdekat Bang Foke… )

Astin : “Apakah nggak ada solusi lain bagi pemda DKI ? Anak-anak perlu banyak waktu istirahat lhoo jeng, supaya bisa berpikir jernih di saat KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berlangsung. Lha, kalo capek duluan, mana sempet mikir. Jadinya ntar malah asal-asalan ngerjain tugasnya.  Mau jadi apa Bangsa ini kalau anak-anak sekolahnya saja sekolah sudah gak becus akibat jam pelajaran mereka di-forsir pihak Pemda ?”   (bicara dengan nada halus tapi sambil  celingak-celinguk seolah2 takut didengar orang lain…. )

Sony ( ngomong santai sambil mengebulkan asap rokok )  : Kita tahu laah makin pagi makin kosong jalanan dan makin cepat kita bisa mencapai jarak yang sama.  Sudahlah, sekali-sekali bersuara agak positif sama pemerintah napa ? Niatnya OK tuh.  Saya sendiri ngerasain klo lagi hari Libur anak sekolah jalanan jadi rada sepi dikit, gak semacet biasanya.  Masa’ sih tidur lebih cepat 30 menit dan bagun pagi lebih cepat 30 menit gak mau ??  pengorbanan yg gak terlalu besar kok…”    (dalam hati saya membatin : dulu waktu Perda larangan merokok di-umumkan kok reaksi ente gak kaya’ gini ?? )

Maya : “mana suara para Anggota DPD Provinsi DKI terhadap masalah kebijakan ini ?  Kok gak pernah saya baca di surat khabar ??  Kritik dong Bang Foke, emang takut ? Bosan gue cuma bisa curhat sama elo tanpa dapat tanggapan yg pantas ?@@!#@!”    ( Ooops…..   saya-pun cuma ikutan nyengir mendengarnya ).

Oke… Oke…. that’s it !  8 orang aja yang saya catat komentarnya disini, karena selain paling saya ingat, juga mereka adalah teman-teman dekat saya.   Tercatat 6 kontra dan yang pro cuma 2 orang saja.   :)
Kalau ditanya dan (dipaksa) menjawab secara pribadi saya sendiri terus terang agak keberatan dengan kebijakan yang akan diterapkan oleh Pemda DKI ini.  Bukan karena saya malas bangun pagi, atau kasihan dan tak tega membangunkan anak-anak saya untuk bangun dipagi subuh… bukan itu.   Yang paling saya fikirkan malahan nasib para guru-guru anak saya.  :)
Mayoritas guru disekolah anak-anak saya tinggal di perumahan Lingkar luar kota Jakarta seperti Bekasi, Pondok Gede atau Cibubur.   Tanpa aturan ini mereka sudah terbiasa berangkat dari rumah pukul 5 pagi.  Karena guru tidak ada kendaraan antar jemput dan mayoritas tidak punya kendaraan (mobil atau motor), maka mereka berangkat naik Bis Umum.  Tidak terbayang oleh saya, sang Ibu guru… wanita baik hati berusia 48 tahun…   (orang yang ’mengambil alih’ tugas yg seharusnya saya jalani sebagai pendidik anak ), orang yang memberikan ilmu kepada anak saya setiap hari…  jadi harus naik Bis Umum setiap jam 04.00 pagi dengan adanya aturan ini.   :(
Kalau anak-anak saya sih saya tidak terlalu ambil pusing, tokh sekolah mereka dekat dari rumah.  Tinggal dibangunkan lebih pagi 15 menit, problem solved !

Hal krusial lain yang merupakan ‘chain reaction’ dari Kebijakan ini adalah terpotongnya waktu para orang tua untuk bersama dengan anak-anak mereka.  Saya saja yang sampai rumah antara jam 19.00-20.00 malam,  kadang merasa sangat kurang bisa membagi waktu dengan anak.   Bayangkan bila anak dipaksa masuk lebih pagi, tandanya mereka harus tidur lebih dini bukan ?  misalnya anak saya yang biasanya tidur pukul 21.00 WIB, dengan adanya kebijakan ini… supaya tidurnya cukup, maka dia harus memajukan jam tidurnya menjadi pukul 20.00 WIB.  Lantas kapan dia ada waktu bertemu ibunya ini disaat malam ?  :(
Kita semua tau, maksud dan tujuan Pemda DKI ini baik… namun, terkesan emosional dan emoh mengambil keputusan jangka panjang yang bisa memuaskan semua pihak.  Yang tidak tersentuh oleh kebijakan memajukan jam sekolah ini justru inti permasalahan kemacetan lalu-lintas di Jakarta : rasio kapasitas tampung jalan dan jumlah kendaraan yang ada di DKI, serta tidak adanya pembatasan usia kendaraan yang tentunya semakin membuat padat & semrawutnya jalan raya.

school-bus

Chain reaction lainnya saya sempat dengar dari rekan saya Wahyu  “perubahan pola hidup yang sudah menjadi kebiasaan setiap hari ini dapat  mempengaruhi mental anak saya lhoo Mil.  Dia jadi stress karena harus berangkat kepagian dan tidur juga kesorean.   Belum lagi jika jam sekolah dimajukan berarti saya juga harus berangkat lebih awal karena saya khan nge-drop anak saya disekolah setiap hari dan jadinya tiba di  kantor lebih awal deh.  Waktu saya menjadi tidak efektif dan ini juga dapat  berdampak bagi pemborosan listrik di kantor karena jika saya datang lebih cepat dan menggunakan komputer, berarti penggunaan  listrik menjadi bertambah.”     (benar juga …. make sense to me. Sampai sejauh itu-kah ternyata efek berantainya ???  )

“Kebijakan mengurangi kemacetan ini akibat Pemprov DKI tidak mampu mengurus kotanya,  jangan dibebankan kepada anak sekolah duonk. ”  Kurang lebih itulah yang mereka katakan pada saya.  :)
Apa kata Pihak Pemda DKI mengenai hal ini ?  Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengungkapkan memajukan jam sekolah adalah salah satu cara cepat mengatasi kemacetan.   “Untuk mengatasi macet dapat dilakukan dengan menambah jalan dan bus, namun hal itu tidak dapat dilakukan dengan cepat,” kata beliau.

Pak Prijanto mengatakan, tidak tepat bila kebijakan dikatakan tidak efektif.  Bagaimana mungkin dikatakan tidak efektif, karena kebijakannya saja belum  dilaksanakan.  Menurutnya, komentar negatif masyarakat mengenai kebijakan ini adalah  kasuistis dan pribadi.  “Misalnya komentar soal lokasi rumah yang jauh dari sekolah,” ucap beliau.

Prijanto juga tidak setuju bila kebijakan ini dikatakan memperkosa hak asasi anak. “Kalau dalam Islam, anak-anak sudah dididik untuk bangun pagi dan sholat subuh pada pukul 4 pagi,” kata dia.    :)
Ia berkilah bila dicek ke sekolah-sekolah, sekarang pukul 06.30 WIB sudah ramai dengan para siswa.

So, jadi mana yang benar ?  waktu-lah yang akan membuktikan.  Dan kita semua para orang tua tentunya berharap, bila dikemudian hari TERBUKTI KEBIJAKAN INI TIDAK EFEKTIV, mohon Bapak Gubernur dengan berbesar hati membatalkan kebijakan ini demi kebaikan semua pihak.

Buat para Ayah & Ibu diluar sana….. sabar yhaaaaaaaaaaa ???   :)